Opini

Muhammadiyah, Matahari Baru Pendidikan di Maluku

Oleh : Abdul Malik Raharusun MPd*

OPINI, EDUNEWS.ID – Jumat 24 Februari 2017 Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar sidang tanwir dengan tuan rumah adalah Provinsi Maluku. Sidang tanwir Muhammadiyah yang digelar di Gedung Islamic Center, Kota Ambon itu dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo. Selain Pengurus Pusat Muhammadiyah, sidang tanwir ini juga dihadiri oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Pimpinan Aisiyah se-Indonesia dan Kepala Rumah Sakit Muhammadiyah serta Rektor Universitas Muhammadiyah se-Indonesia.

Hal yang juga menarik dari sidang tanwir Muhamadiyah di Kota Ambon ini adalah Maluku dipilih sebagai titik ‘awal’ progress Muhammadiyah merambah Indonesia Timur. Penentuan Maluku sebagai tuan rumah menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Natsir, sebagaimana dikutip berita MalukuOnline.com pada 9 November 2016, mengatakan bahwa Maluku merupakan bagian integral terpenting dari sejarah Indonesia dan memiliki peran strategis dalam kancah nasional. Bahkan dari Maluku telah lahir tokoh-tokoh nasional kepahlawanan maupun tokoh-tokoh bangsa saat ini. Kendati Maluku pernah mengalami dinamika dan masalah terkait kehidupan beragama, tetapi dari situ muncul kedewasaan dalam kehidupan beragama, kerukunan, damai, dan toleran di masyarakat Maluku.

Sidang tanwir yang mengusung tema ‘Membangun Karakter Indonesia Berkemajuan‘ ini diharapkan bersama masyarakat Maluku, Muhammadiyah ingin mendorong bangsa Indonesia menjadi bangsa yang memiliki karakter kuat, sebagai bangsa yang religius, cerdas berilmu, mandiri, dan memiliki solidaritas yang tinggi.

Baca juga :  Hantu Mutasi Mulai Gentayangan

Pendidkan di Maluku : Elegi Anak Bangsa

Nama Maluku bukanlah nama yang baru dalam teks-teks sejarah bangsa ini bahkan dalam sejarah dunia. Maluku sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu sejak zaman Persia, Mesopotamia, Yunani-Romawi dan Arab Pra-Islam melalui perdagangan rempah-rempah cengkeh dan pala. Dengan demikian kedewasaan persentuhan dialog orang Maluku dengan dunia luar (Eropa, Cina, Hindustan dan Arab) sudah berlangsung ribuan tahun. Nama Maluku pun diambil dari penyebutan para saudagar Arab yakni Jazirah al-Mamluk atau Kepulauan Raja-raja. ‘Kebebasan’ interaksi anak-anak Maluku dengan kebudayaan luar juga berbanding lurus dengan kematangan pendidikan anak-anak Maluku menerima ragam perbedaan kebudayaan yang datang.

Menurut catatan antropologi ras Anak Maluku asli adalah Melanesia, yakni ras yang hidup dan menguasai Kepulauan Samudera Pasifik. Selama ribuan tahun interaksi anak-anak Maluku telah membentuk Maluku menjadi kota dan kebudayaan yang megapolitan. Disebut megapolitan sebab di Maluku kita dapat menemukan ragam kebudayaan bangsa-bangsa di dunia (Arab, Hindustan, Cina, dan Eropa) dapat tumbuh berkembang dengan damai. Pendidikan dalam bentuk formal bagi anak-anak Maluku telah dikecap sejak periode awal masuknya Islam di Maluku. Sejak tahun 1257 ketika Kesultanan Ternate berdiri sejak itu juga pendidikan bagi anak-anak Maluku khususunya pendidikan Islam pada madrasah menjadi kewajiban bagi seorang muslim.

Baca juga :  Seruan Untuk Pemuda

Di Maluku Tenggara misalnya, jejak situs sejarah bangunan madrasah masih dapat dilihat di Desa Langgiar Feer, Kei Besar yang diperkirakan dibangun paruh abad 13 masehi. Umumnya pendidikan Islam madrasah awal bagi anak-anak Maluku selain pelajaran dasar Islam, membaca dan menulis Al-Qur’an, menulis Arab Melayu yakni tulisan Arab tetapi menggunakan bahasa Melayu, pelajaran akhlak (budi pekerti), al jabar (ilmu hitung) dan pengetahuan umum. Pendidikan Islam bagi anak-anak Maluku tidak sebatas di Maluku saja tetapi membentuk jejaring sebagaimana disebut Azumardi Azra dalam teorinya Jaringan Islam Asia Tenggara, membentang dari Asia Tenggara sampai ke Hadramaut, Persia dan Mekkah serta Madinah.

Periode kedua pendidikan bagi anak-anak Maluku yakni setelah masuknya Portugis dan Belanda pada periode 1511 di Maluku. Melalui para misionaris Pastor dan Pendeta sistem pendidikan berbasis sekolah diterapkan bagi anak-anak Maluku. Lewat jalur pendidikan inilah Portugis dan Belanda diterima secara damai. Perlawanan rakyat Maluku kepada Belanda dan Portugis memang pernah ada dan sangat sengit bahkan melibatkan baik Islam dan Kristen Maluku tetapi perlawanan ini pada aspek eksploitasi dan monopoli rakyat dan kekayaan alam Maluku oleh penjajah.

Baca juga :  Jalin Kerjasama dengan Muhammadiyah, PT Bank Muamalat Kucurkan Dana 500 M

Setelah kemerdekaan hubungan baik rakyat Maluku dengan para pendidik Belanda masih terjalin, misalnya Yayasan Pendidikan Misi di Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara sampai dengan awal kemerdekaan para pengajar Pastor dan Suster masih keturunan Belanda asli. Menurut penulis pada periode ini juga pendidikan di Langgur mengalami masa keemasannya. Sumbangan besar pendidikan Islam madrasah dan pendidikan sekolah Belanda inilah yang melahirkan banyak pemikir bangsa Indonesia masa perjuangan pergerakan kemerdekaan dan awal kemerdekaan berdarah Maluku.

Sederet nama-nama mentereng seperti Abdul Muthalib Sangadji, dr Johanes Leimena, Mr Johanes Latuharhary, Ir Martinus Putuhena, Willem Johanes Latumeten, Prof Dr Gerrit A Siwabessy dan lainnya adalah produk awal dunia pendidikan Maluku. Kesempataan ini penulis hanya mengulas secara singkat kiprah dua tokoh pahlwan intelektual awal kemerdekaan asal Maluku, Abdul Muthalib Sangadji dan Ir Martinus  Putuhena. Abdul Muthalib Sangadji atau disingkat AM Sangadji namanya diabadikan sebagai nama jalan utama daerah Malioboro Yogyakarta. Lelaki besar berbadan tegap ini lahir di Haruku dari keluarga Sangaji Hatuhaha.

Advertisement

AM Sangadji merupakan lulusan sekolah MULO Belanda adalah teman akrab dari HOS Cokroaminoto dan H Agus Salim. AM Sangadji turut andil dalam mendirikan oraganisasi Sarekat Islam. AM Sangadji juga terlibat sebagai peserta pada Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 di Jakarta. Tidak hanya di Maluku dan Jawa, AM Sangadji juga dikenal di Samarinda, Kalimantan Timur. Di Samarinda AM Sangadji berjuang dalam bidang pendidikan mendirikan Balai Pengadjaran dan Pendidikan Rakjat (BPPR) dan Neutrela School untuk menampung anak-anak bumiputera yang bersekolah. Kiprah AM Sangadji berhenti saat menjabat Pimpinan Laskar Hizbullah di Yogyakarta dengan mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan RI dan tertembak saat Agresi Militer Belanda I di Yogyakarta tahun 1947.

Tokoh kedua yakni Ir Martinus Putuhena Lahir di Maluku 27 Mei 1901. Ir Martinus Putuhena adalah lulusan pendidikan Belanda, AMS Jurusan B di Yogyakarta tahun 1923 dan melanjutkan kuliah di Technische Hooge School (THS) yaitu Sekolah Tinggi Teknik (sekarang ITB), lulusan tahun 1927 dan menyandang gelar Insinyur Sipil dengan masa studi tepat empat tahun. Ir Martinus Putuhena adalah pribumi pertama yang lulus dari Technische Hooge School dengan gekar Insinyur bersama Soekarno. Ir Martinus Putuhena selama berkarier dalam gerakan politik awal kemerdekaan sahabat dekatnya adalah Dr J Leimena dan Mr J Latuharhary. Setelah Proklamasi Kemerdekaan dan pembentukan pemerintahan negara Indonesia, ia menjabat tiga kali jabatan Menteri Pekerjaan Umum.

Karier politik Ir Martinus Putuhena dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diantaranya melikuidasi Negara Indosenia Timur (NIT) dan menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Karena keberhasilannya diberikan jabatan Perdana Menteri NIT dan anggota perundingan dengan RMS. Ir Martinus Putuhena meninggal dunia pada  20 September 1982 di Jakarta. Masa keemasan pendidikan di Maluku jika dirunut pada sejarah maka ada pada masa kesultanan Islam dengan sistem madrasah dan masa Belanda dengan sistem sekolah. Majunya pendidikan Maluku kala itulah yang melahirkan deretan intelektual asal Maluku yang turut terlibat memperjuangan dan mengisi periode awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Seiring perkembangan setelah kemerdekaan warna keemasan pendidikan di Maluku itu kian pudar. Bahkan pendidikan Maluku pada catatan terakhir kini menempati urutan paling bawah, hanya terpaut satu tingkat dari Timor Timur. Pasca kemerdekaan, keberpihakan pendidikan bagi anak-anak Maluku oleh Republik Indonesia dirasa sangat minim. Sistem pendidikan yang terpusat mengakibatkan pendidikan bagi anak-anak Maluku menjadi nomor paling belakang dari pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan. Bahkan untuk mengenyam pendidikan perikanan dan pelayaran sampai dengan periode 90-an anak-anak Maluku yang lahir, hidup dan besar dari laut harus menyebrang ke Jawa. Jawabannya dari keterpurukan pendidikan di Maluku pasca kemerdekaan ada pada keberpihakan politik pendidikan bagi anak-anak Maluku.

Muhammadiyah dan Keberpihakan Terhadap Pendidikan

Muhammadiyah sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 telah menetapkan keberpihakanya pada dunia pendidikan sebagai arus utama gerakan Muhammadiyah. Kini setelah berusia 107 tahun Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakat terbesar di Indonesia tetap menjadikan pendidikan sebagai lokus utama keberpihakan gerakan Muhammadiyah. Menurut data yang dilansir Republika (2 Agustus 2015), jumlah lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah mencapai lebih dari 10 ribu, tepatnya 10.381. Terdiri dari TK (4623), SD (2.604), SMP (1772), SMA (1143), pondok pesantren (67), dan perguruan tinggi (172).

Kini PP Muhammadiyah menggelar aidang tanwir Muhammadiyah di Kota Ambon, Maluku. Sidang tanwir ini mengambil isu utama pendidikan. Kata kunci dari politik pendidikan sebagaimana penulis sebutkan di atas adalah keberpihakan. Kemajuan Muhammadiyah sebagai oraganisasi pendidikan terbesar bahkan di dunia tentunya karena keberpihakan pada dunia pendidikan. Besar harapan anak-anak Maluku lewat sidang tanwir ini Muhammadiyah dapat menggerakan pendidikan di Maluku sekaligus menjadi lokomotif bagi pemerintah pusat untuk melihat kembali pendidikan bagi anak-anak Maluku. Sekali lagi, rupanya dengan memakan aneka makanan laut yang kaya akan nutrisi bagi otak saja belum cukup, kita masih sangat membutuhkan keberpihakan politik pendidikan bagi anak-anak Maluku.

Salam Hormat

Abdul Malik Raharusun M.Pd, Guru SMA Negeri 2 Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Wilayah Maluku, Pengurus Nasional MASIKA-ICMI

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com