Opini

NU Menjaga, NU Dibuang

 

 

Oleh : Henriono Minda*

OPINI, EDUNEWS.ID – Nusantara adalah ‘negeri surga dunia’. Alamnya yang indah membuat jiwa hanyut dalam suasana kebahagiaan. Didalamnya terdapat berbagai suku, bangsa, kepercayaan dan agama yang menjadi pedoman kehidupan tata kemasyarakat dalam sistem kerajaan dan kesultanan.

Dengan perbedaan yang ada, bukan menjadi alasan untuk tidak bersatu. Justru dengan kemajemukan menjadi kekuatan yang saling menguatkan dengan berpegang teguh pada semboyang Bhineka Tunggal Ikha. Berdasarkan semboyan itu, menjadi cikal bakal perjuangan umat dan bangsa dalam membela hak-hak masyarakat nusantara dalam melawan penjajah yang bertujuan mengambil alih jalur rempah rempah dunia.

Perjuangan bangsa nusantara dan umat antar agama khusunya umat Islam yang menjadikan cinta tanah air sebagai bagian dari iman menjadi doktrin (fatwa). Keyakinan itu tidak hanya dikumandangkan di mimbar-mimbar mesjid tapi terinternalisasi secara kelembagaan dalam deklarasi organisasi Islam pada 31 Januari 1926 M yang dikenal dengan nama Nahdatul Ulama (NU) dimana KH Shaleh Banyuwangi ditunjuk menjadi Formaturnya dan menetapkan mbah Hasyim Asy’ari sebagai rais akbarnya.

Dalam perjalannya, NU terang dan jelas bergerak atas dasar kemaslahatan umat dan bangsa dari segala kepentingan yang ada. Dengan prinsip itu, NU hadir sebagai solusi atas permasalahan yang dialami masyarakat nusantara. Komitmen NU terhadap umat dan bangsa tidak diragukan lagi.

Hal itu terbukti dengan seruan perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan dan ketidakadilan yang terjadi pada masa itu. Salah satu langkah strategis yang dilakukan oleh ulama NU adalah terlibat dalam panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diwakili KH Wahid Hasyim sebagai salah satu diantara 9 panitia dimana diketuai Ir Soekarno.

Perjuangan terus berlanjut sampai akhirnya kemerdekaan diproklamirkan atas nama bangsa Indonesia oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Eaok harinya, 18 Agustus 1945, Pancasila dijadikan sebagai ideologi Negara Republik Indonesia. Pada era orde baru, NU mengisi kemerdekaan dengan cara terlibat langsung dalam pemerintahan dan masuk dalam parlemen agar dapat membuat aturan dan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat dan Negara.

Beda halnya pada era orde baru, NU cenderung konsentrasi pada pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan pendidikan keagamaan yang lebih terbuka dan pluralis. Pada era orde baru, santri-santri NU tidak hanya melanjutkan studi ke timur tengah sebagaimana para pendahulunya, tetapi para santri NU sudah mulai melirik dunia barat sebagai salah satu tempat menuntut Ilmu pengetahuan, baik di Eropa maupun di dataran Amerika.

Langkah itu, membuahkan hasil dengan adanya Integrasi antara agama dan ilmu pengetahuan (sains) dimana sebelumnya dunia barat membuat pemisahan antara keduanya dengan ideologi sekulerismenya. Hal itu cukup terasa dalam dunia pendidikan keagamaan (pesantren) dimana tidak lagi terjadi dikotomi antara ilmu agama dan sains atau antara ilmu dunia dan akhirat.

Pada awal reformasi, NU mulai kembali mengambil perang startegis struktural agar lebih mudah mewujudkan visi-misi membangun umat dan bangsa. Hal Itu ditandai dengan terpilihnya KH Abdurrahman Wahid (Gusdur) menjadi Presiden Ke-4 Republik Indonesia. Setelah itu, pada pemilihan Presiden 2004, Ketua PB-NU KH Hasyim Muzadi maju sebagai calon Wakil Presiden mendampingi Ibu Megawati Soekarno Putri.

Perjuangan kultural yang berlanjut pada perjuangan struktural dalam Pemerintahan sebagai jalan mengisi kemerdekaan patut diapresiasi dengan baik bahwa NU sejak dahulu sampai sekarang memiliki visi perjuangan membangun umat, bangsa dan negara. Tidak hanya itu, ketua umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA (SAS) mengatakan bahwa NU dengan resolusi jihad mempertegas komitmennya bahwa Pancasila sebagai ideologi negara sudah final serta NKRI harga mati untuk dijaga.

Salah satu bukti keperpihakan NU terhadap Pancasila dan NKRI pada periode ini, SAS selaku Ketua umum PBNU mengabil posisi tengah atas gejolak ymat Islam beberapa waktu yang lalu dengan pertimbangan jangan sampai terjadi chaos sosial dimana dapat membahayakan keutuhan NKRI yang memungkinkan dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab (pihak ketiga) yang memanfaatkan situasi saat itu.

Berdasarkan hal itu, NU jelas dan tegas menjaga Pancasila dan NKRI dari kemungkinan pengaruh yang dapat melemahkan ideologi dan memecah bela bangsa dan negara. Berhubung situasi dan kondisi saat ini membutuhkan energi besar dengan komitmen yang kuat, NU sebagai salah satu organisasi terbesar umat Islam dibutuhkan keberadaannya tidak hanya menjadi perisai NKRI tetapi memiliki peran menjaga kerukunan antar umat beragama dan harmonisasi antar organisasi Islam, baik yang berbentuk organisasi kemasyarakatan maupun organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan agar tetap menjaga silaturahim serta tidak mudah terpengaruh hasutan atau pujian yang memungkinkan didalamnya ada kepentingan terselubung sehingga dapat menimbulkan gesekan antar organisasi Islam.

Hal ini penting agar persatuan umat dan bangsa tetap terjaga demi kejayaan Indonesia. Olehnya itu, berdasarkan ulasan diatas. Sebaiknya saran dan masukan NU dapat dipertimbangkan dengan cermat dan diberikan ruang strategis dalam struktural agar dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk kepentingkan bangsa dan negara. tidak sekedar menjadikan NU sebagai tameng saat situasi dalam kondisi tertentu (krusial). Setelah itu, saran tidak dipedulikan dan bahkan dibuang dari berbagai posisi struktural yang ada sehingga terkesan posisi NU lebih tepat dengan pepatah “Habis manis sepah dibuang”.

Henriono Minda, Presiden Generasi Indonesia (Alumni Pesantren As’adiyah)

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!