Opini

Opini : Belajar dari Soekarno dan Buya Hamka

Oleh :

Saifuddin Al Mughny*

****

Membangun negara bukan hanya sekedar kekuatan politik saja sekalipun itu penting. Sejarah telah membuktikan bahwa negara yang dibangun dari kerangka sejarah akan memiliki karakter dibanding negara yang dibangun tanpa filosofi sejarah.

Benarlah dikatakan seorang futurolog sekelas Francis Fukuyama dalam bukunya yang berjudul The end of history the last man. Buku ini mengulurkan pemikiran bahwa suatu bangsa yang besar akan lahir dari sejarah bangsa itu sendiri. Dan kematian sejarah akan berujung pada kemunduran negara, oeh sebab kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh semangat kesejarahannya. Bangsa Jepang telah membuktikan itu sejak hancur lebur setelah dibom oleh sekutu dengan tenggelamnya kota Hiroshima dan Nagasaki.

Oleh sebab itu, sejarah harus menjadi sokoguru untuk membangun sebuah imperium kenegaraan. Bukan hanya menjadikan politik, demokrasi, hukum dan ekonomi sebagai suatu instrumentalis pembangunannya, akan tetapi lebih dari itu sejarah harus diletakkan sebagai bagian terpenting untuk sebuah perubahan. Sebab hanya dengan sejarah menjadikan kita bangsa yang merdeka.

Pertanyaannya adalah kenapa kita harus belajar dari dua sosok ini Soekarno dan Buya Hamka ? tentunya jawabannya adalah, bahwa Soekarno bukan hanya sekedar presiden pertama RI, akan tetapi ia juga sebagai founding fathers lahirnya komitmen kemerdekaan Indonesia yang berdaulat. Hal ini tak boleh disangkali sebab dengan komitmen keindonesiaan Soekarno maka Republik ini tegak berdiri hingga saat ini.

Buya Hamka adalah sosok ulama yang berkharismatik, bukan hanya sekedar ulama tetapi beliau adalah seorang cendikiawan yang kritis disaat itu. Keulamaannya menjadikan ia sebagai sosok guru bangsa. Dikehidupannya yang sederhana menjadikan ia lebih merdeka, lebih bijak dan santun terhadap siapa saja tanpa harus mencela. Bahkan ajarannya sampai detik ini begitu mendalam, sulit rasanya kita menemukan ulama sekelas beliau saat ini.

Baca juga :  Bangun Budaya Diskusi dan Membaca, Upaya Kritis Tangkal Hoax

Walau dalam perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia dua sosok ini Soekarno dan Buya Hamka pernah berada pada demarkasi pemikiran dan politik. Hingga pada akhirnya. Buya Hamka harus dipenjara tanpa alasan yang jelas. Kurang lebih 23 tahun Buya Hamka menghabiskan waktunya dalam penjara, dan dengan begitu beliau berhasil melahirkan karya yang monumental yaitu Tafsir Al Azhar. Dalam sejarah tersebut tercatat bahwa hegemoni kekuasaan orde lama begitu terasa sampai sekian banyak ulama harus mendekam dalam tahanan politik.

Tetapi ada hal yang perlu kita petik dalam catatan sejarah masa lalu yakni, bahwa Buya Hamka sama sekali tidak melahirkan dendam dengan Soekarno. Bahkan disuatu kesempatan Soekarno pernah berpesan bahwa ketika aku suatu saat nanti meninggal tolong sholat jenazahku diimami oleh Buya Hamka. Walaupun saat itu orang disekeliling Buya Hamka menolak dan tidak setuju. Tetapi sebagai seorang ulama dan cendikiawan muslim tentu tidaklah pantas untuk menolaknya, bahkan Buya Hamka pun meng-iyakan. Dan sejarah mencatat saat meninggalnya Soekarno Buya Hamka lah yang menjadi imam sholat jenazahnya.

Politik tanpa dendam

Kilas balik sejarah ini telah memberikan pendidikan kesadaran berpolitik yang sangat luar biasa. Bahkan disisi yang lain, sejarah pun kita bisa membaca dari sisi kelam seorang pemimpin revolusi Afrika Selatan yang juga dipenjara kurang lebih 24 tahun lamanya. Dalam sejarahpun ia pernah diinjak dan dikencingi kepalanya oleh sipir penjara atas nama pemerintah. Tetapi setelah ia bebas justru beliau mencari sipir penjara itu yang pernah mengencingi kepalanya, bukan apa-apa tetapi ia ingin memberikan maaf atas dirinya. Nelson Mandela keluar dengan filosofi kata maaf. Dan secara praksis ia membangun Afrika Selatan dengan konsep kata maaf. Begitu sederhana kalimat ini untuk sebuah perubahan yang lebih besar.

Baca juga :  Rumah dan Nasib Generasi Milenial

Soekarno, Buya Hamka dan Nelson Mandela segelintir tokoh yang menoreh sejarah politik yang kelam tanpa dendam dan fitnah. Pertanyaan kemudian apa urgensi tulisan ini diangkat kepermukaan ? bagi penulis jawabannya cukup sederhana yaitu, mencoba merespon konteks politik saat ini yang penuh dengan fitnah, ghibah, dendam serta hujat menghujat satu sama lain yang tidak mendidik. Realitas politik kekinian telah membentuk satu entitas budaya politik yang tidak berkarakter, kenapa demikian terjadi sebab pertarungan politik selalu dimulai dari menang kalah bukan pada sebuah kearifan politik.

Sebab filosofi kalah menang berujung pada sebuah ketidak-terimaan atas realitas yang ada. Menang merasa sombong dan angkuh, serta kalah merasa terhina, bahkan berujung pada gugat menggugat serta konflik antar pendukung. Realitas ini tentunya menyuguhkan sebuah kemunduran berpolitik. Oleh karenanya, peradaban harus disuguhkan sebagai sebuah mindset politik dalam menjaga demokrasi yang lebih beradab.

Dan konsep ini hanya bisa lahir ketika politik harus melepaskan jubah dendam serta fitnah bagi satu sama lainnya. Republik ini dibangun dengan sikap gotong royong dan bahu membahu, bukan lalu saling menjatuhkan satu sama lainnya. Saat ini perlu kesadaran kolektif yang konstruktif, bahwa membangun negara minimal disertai dengan political will (keinginan politik) yang besar dengan konsep yang humanitarian dan berkeadilan.

Tokoh tersebut diatas telah memberikan edukasi politik dengan membangun negara tanpa dendam dan fitnah serta kata maaf. Spirit bernegara seperti ini lebih humanis, terbuka, dan berperadaban. Etika politik begitu dijunjung tinggi, budaya menjadi perekatnya, simbol kebhinnekaan menjadi kekayaannya, dengan begitu hal ini akan sangat memungkinkan terjadinya sebuah peradaban politik yang ideal. Sehingga akan menghilangkan tensi dendam politik antara koalisi yang satu dengan koalisi yang lainnya. Nah, kalau ini terbiarkan maka sangat sulit mendorong kinerja pemerintah untuk mewujudkan kepentingan masyarakat.

Baca juga :  Mengenal Jeremy Corbyn, Pembela Hak-hak Warga Palestina dari Negeri Raja

Agak miris memang, saat menyaksikan dalam catatan media, baik itu media cetak, elektronik bahkan sampai kepada media sosial lainnya. Hujatan demi hujatan muncul disana sini. Pemerintah yang disorot oleh lawan politiknya, dicaci dijejaring sosial, pertanyaannya adalah apakah ini efek sebuah kerang demokrasi yang terbuka secara lebar sehingga semua orang punya kebebasan untuk memaki dan mencela, betapa ironisnya kalau kemudian seorang kepala negara dicatut, dihina, dimaki, bahkan lebih tragis dikatakan bodoh. Bukan berarti melakukan pembelaan tetapi paling tidak etika komunikasi itu perlu yang sifatnya mendidik. Michel Foucalt misalnya begitu menjunjung dan menghargai sebuah cara berkomunikasi yang baik sekalipun lawan bicara kita adalah manusia tanpa sekolah, tetapi menurutnya hargai karena itu sebuah realitas atau fakta.

Tetapi kita sepertinya terpental jauh dari cara-cara yang baik. Semuanya dianggap sebagai hak berdemokrasi. Tetapi dalam ruang-ruang kemanusiaan dimana demokrasi tidak menjadi sesuatu yang mutlak sebab ada keterbatasan manusia yang satu dengan yang lainnya dan itu perlu dihargai. Dan cara ini jauh sebelum negara ini merdeka telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Kemerdekaan yang kita rebut tentu juga dari sebuah cara dialog dan komunikasi yang baik. Oleh sebab itu, perlunya kita mengangkat nilai sejarah kepermukaan sebagai bagian terpenting dari proses perjalanan kebangsaan berikutnya. *** Aamin.

“catatlah sejarahmu disetiap waktu,
sebab suatu saat nanti waktu yang
akan mengenangmu”

 


Saifuddi Al Mughny

Analis Politik LKiS Institute Development Research
Anggota Forum Dosen Indonesia Makassar
OGIE Insitute Research and Political Development

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!