Opini

Paradoks Less is More; Sebuah Refleksi Pendidikan

 

Oleh: Fitria Anis Kurly*

During the next 10 years about 1.2 billion young 15-to-30-years-olds will be entering the job market and with the means now at our disposal about 300 million will get the job. What will we offer these young, about a billion of them? I think this is one of the greatest challenges if we want to achieve peaceful development and hope for these young”

Martti Ahtisaari, Presiden Finlandia 1994-2000 dan peraih Nobel Perdamaian

Jika ditafsirkan, kutipan oleh salah satu mantan orang nomor satu Finlandia di atas adalah menyoal tawaran pendidikan seperti apa yang bisa diberikan kepada generasi muda mengingat tahun-tahun ke depan jumlah mereka akan semakin meningkat(bonus demografi 2035). Hal ini tentu akan berimbas pada kebutuhan bersaing memasuki pasar kerja yang selanjutnyamenjadi salah satu tantangan terbesar untuk bisa kita jawabbersama. Hal ini, dikatakan Martti Ahtisaari, akan juga menentukan Peaceful Development dalam konteks yang lebih jauh. Benarkah kita harus menekan semua anak-anak untuk bersaing sedemikian rupa? Sudah tepatkah sistem seperti full day school dan Ujian Nasional (UN) yang kita terapkan di Indonesia?

Belajar Dari yang Lain.

Tahun 1960-an, Rusia secara resmi meluncurkan Sputnik yang kemudian berimbas pada inovasi perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Matematika di United States. 20 hingga 30 tahun kemudian, tahun 1980-an dan 1990-an, sistem pendidikanJepang dan beberapa negara Asia yang kuat secara ekonomi lainnya secara luas mulai ditiru. Metode pendidikan mereka seperti memperbanyak tes, memperpanjang jam belajar dan memberi beban belajar kepada siswa mulai meluas. Dalam dekade terakhir, negara dengan perkembangan ekonomi pesat, Cina dan India memaksa Amerika memperkenalkan metode pengajaran abad 21; kurikulum yang lebih padat, standardisasi nasional, meningkatkan kompetisi antar guru dan siswa, mengharuskan elemen-elemen tersebut bekerja lebih keras. Beberapa dekade berikutnya, tanpa bisa diprediksi, kualitas pendidik di Amerika maupun Anglo-American nations menurun bahkan bisa disebut Amerika sedang menjadi contoh dari defenisi kegilaan versi Einstein; melakukan hal yang sama dan mengharapkan hasil berbeda.

Tekanan, intervensi pemerintah ke sekolah-sekolah, tuntutanpasar kerja, kompetisi, ujian, standardisasi nasional dan internasional, kegagalan sekolah, memecat guru yang tidak kompeten dan beberapa strategi yang terbukti gagal dalam kurun waktu lebih dari dua dekade di Anglo-Sexon nations, saat ini sedang digunakan kembali di banyak negara, bahkan dengan tekanan yang lebih hebat, Indonesia salah satunya.

Ini nyata terjadi di Indonesia, jam sekolah yang diperpanjang hingga tercetus ide full-day school, beban tugas yang ditambah hingga anak-anak seolah wajib mencari guru les untuk membantu belajar di luar sekolah, hingga didapati anak-anak pulang dengan seragam lusuh mereka, wajah penuh beban dan kelelahan. Begitu kira-kira gambaran tawaran pendidikan yang kita berikan saat ini. Padahal, kritik tentang sistem yang demikian sudah lama terdengar dari banyak penjuru dunia.

Race to the Top Strategy yang diperkenalkan di masa Barack Obama tahun 2009 dikritik bahkan diprediksi gagal oleh Michael Fullan (2010), seorang penasehat sekaligus pakar International Change. Strategi ini mengagetkan banyak guru karena mereka berfikir Obama akan mengakhiri sistem lama pada masa Presiden George W. Bush bernama No Child Left Behind (NCLB) yang menurut Ravitch (2010) dinilai sebagaiAwful Education Plan. Strategi Obama disebut gagal karena, menurut Fullan, memberikan perhatian kecil terhadap perkembagan kapasitas para pemimpin dan guru untuk berkembang dalam satu sistem. Hal ini berdasarkan teori gagal yang mengatakan bahwa kualitas guru dapat ditingkatkan melalui Competitive Reward System yang berdampak pada sistem manajemen yang egosentris. Semua mengurus bagiannya masing-masing dan ketika terjadi kesalahan mereka seolah tidak mau ikut campur, bukankah ini yang kita terapkan di Indonesia saat ini?

Finlandia; Sebuah Inspirasi

Seolah melawan arus, Finlandia melakukan banyak hal yang sebaliknya. Sistem mereka, diakui lembaga internasional seperti PISA (Program for International Student Assessment), jauh dari kata reformasi pendidikan karena tidak mencerminkan tuntutan pasar. Barangkali sudah begitu umum beberapa hal tentang sistem pendidikan di Negeri asal Nokia ini, seperti tugas ujian dan beban tugas yang sedikit, paradigma tentang profesi guru yang dianggap sebagai kunci perubahan, outcome dalam bidang pendidikan yang bertahun-tahun menempati posisi tertinggi dunia. Hal-hal yang kita sudah ketahui tersebut, sayangnya, dijawab dengan kemustahilan untuk diaplikasikan di Indonesia. Jadi, mari kita lihat dua paradoks pendidikan, yang jika tidak berlebihan, bisa kita sebut sebagai sebuah refleksi bagi pendidikan di negeri kita.

Paradoks pertama; Teach Less, Learn More. Berbeda dengan Indonesia dan negara lain yang menuntut jam belajar lebih lama, di Finlandia siswa dibebaskan pulang kecuali ada yang ditawarkan pada mereka seperti klub pendidikan atau rekreasional untuk meningkatkan pembelajaran dan perkembangan mereka. Cara lain untuk mengilustrasikan kuantitas vs kualitas adalah mengukur jumlah jam mengajar para guru. Menurut Organisation for Economic C0-operation and Development (OECD) guru di Finland pertahun menghabiskan 590-670 jam mengajar sedangkan di Amerika 1.085-1.131 jam.  Mengajar 6 jam perhari adalah pekerjaan berat mengingat tugas guru setelah itu yang harus merencanakan dan mengevaluasi pembelajaran sampai pada pendampingan untuk murid yang mengalami kesulitan belajar. Budaya belajar seperti ini, akan berimbas pada berkurangnya kecemasan kemudian tentu saja berperan penting dalam pencapaian siswa, guru dan sistem pendidikan lebih umumnya.

Paradoks kedua; Test Less, Learn More. Sejak adanya reformasi pendidikan di Inggris tahun 1988, akuntabilitas dengan menggunakan tes atau ujian mulai merambah ke seluruh sekolah di dunia. Pertanyaan pentingnya adalah sistem pendidikan mereka yang mengedepankan kompetisi dan akutabilitas dengan standardisasi tes menunjukkan kemajuan di skala internasional? Jawabannya adalah tidak. Menurut survey PISA 2000-2012 menunjukkan tidak adanya peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa di Amerika, Inggris, Salendia Baru, Jepang, Belanda, Kanada bahkan Australia. Meskipun ini tidak secara langsung mengindikasi kegagalan kebijakan pendidikan, namun hal ini menunjukkan seharusnya ada cara lain meningkatkan kualitas pendidikan. Pengadaan tes/ujian bukan hal yang buruk. Masalahnya adalah ketika ujian ini diadakan dengan tekanan begitu besar dan hasilnya digunakan untuk menjastifikasi ketidakmampuan siswa, guru bahkan sekolah.

Dalam banyak sumber dijelaskan bagaimana sistem pendidikan di Finlandia berevolusi, bekerja dan prinsip-prinsip yang mengakar di dalamnya berikut juga tantangan yang mungkin akan dihadapi di masa depan. Lalu apakah sistem pendidikan di Finlandia sempurna? Tentu saja tidak. Seperti halnya sistem tubuh manusia, sistem pendidikan juga merupakan proses terus menerus untuk menjadi atau process of being. Hal tersebut dikarenakan lekatnya bidang ini dengan ekonomi, sosial dan perubahan budaya yang di masa mendatang mempengaruhi pandangan hidup. Lalu, pada waktunya, akan menjadi bagian dari tren global yang mempengaruhi kita, tak mengenal asal negaranya. Sistem pendidikan nasional haruslah berevolusi untuk alasan ini.

*Penulis buku “Asa untuk Indonesia” dan Candidate Master of TESOL, University of Bristol, United Kingdom (LPDP Awardee 2017).

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!