Opini

Pembajakan Citra Perawat dan Kejahatan Media Massa

Oleh : Iwansyah*

OPINI, EDUNEWS.ID – Media massa merupakan salah satu sarana yang baik untuk mempublikasikan sebuah perkembangan dan isu isu terhangat mengenai profesi keperawatan, namun kiranya hal ini bisa menjadi boomerang tersendiri bagi citra perawat di masyarakat. Berita yang dimuat di sebuah media massa pun, tidak hanya akan menampilkan hal positif dan kemajuan dari seorang perawat dan keperawatan, melainkan terkadang akan membahas mengenai hal negatif dari keperawatan secara mendalam. Sehingga hal hal yang dimuat dalam media massa mengenai perawat akan mempengaruhi persepsi masyarakat.

Perkembangan teknologi dan media massa yang semakin pesat tidak luput dalam menyoroti dunia kesehatan dan keperawatan. Hal ini ditandai dengan banyaknya berita dan hal-hal terkait mengenai perawat dan keperawatan. Semuanya dipublish dalam berbagai bentuk, ada yang yang ditampilkan dalam bentuk berita di berbagai media cetak, ada yang ditampilkan dalam berbagai lakon dalam sebuah film (suster gepeng, suster ngesot, suster keramas, dll).

Materi dan aspek yang ditampilkan beragam, mulai dari keberhasilan perawat, sekelumit masalah dan citra buruk dari perawat. Tak heran hal ini juga berdampak pada perawat itu sendiri, keperawatan, dan persepsi masyarakat. Hal lain juga diperkuat dengan banyaknya masyarakat yang mulai menyoroti kinerja tenaga-tenaga kesehatan dan mengkritisi berbagai aspek yang terdapat dalam pelayanan kesehatan melalui media massa.

Baca juga :  Pemimpin Teladan (Tulus)

Pengetahuan masyarakat yang semakin meningkat, berpengaruh terhadap meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan keperawatan. Oleh karena itu, citra seorang perawat kian menjadi sorotan. Hal ini tentu saja merupakan tantangan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan profesionalisme selama memberikan pelayanan yang berkualitas agar citra perawat senantiasa baik di mata masyarakat.

Media masa merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan dalam proses pencitraan perawat, akan tetapi yang selama ini terlihat yaitu kondisi yang sangat tidak etis untuk ditayangkan oleh media bahkan sangat bertentangan dengan kode etik dalam keperawatan itu sendiri. Maka dari itu harapan untuk selanjutnya yaitu adanya gerakan bersama secara terkoordinasi untuk menangani masalah ini secara bersama, agar tidak ada lagi tayangan-tayangan yang menggambarkan hal-hal yang tidak baik dan tidak sesuai dengan perawat, entah itu dari keprofesianya, maupun atribut-atribut yang dikenakan oleh perawat. Oleh karena itu isu starategis tentang pencitraan oleh media masa tetap harus diselsaikan dan diperbaiki mulai dari sekarang.

Realita yang terjadi selama ini menunjukkan bahwa citra profesi perawat cenderung rendah. Dunia perfilman di Indonesia pun ikut andil dalam membangun citra perawat dengan stigma negatif. Saat ini perawat hanya dijadikan sebagai objek eksploitasi dan komersialisasi. Para pekerja seni dalam perfilman di Indonesia akhir-akhir ini lebih senang mengekspos ikon perawat/suster dalam mendongkrak penjualan film tersebut seperti film berjudul Suster Ngesot, Suster Keramas, dan beberapa judul lainnya yang menjadikan suster sebagai makhluk pembunuh dan pendendam.

Baca juga :  Zakat dan Filosofi Pancasila

Ikon suster yang ditampilkan sebagai seorang perawat tersebut telah disalahgunakan oleh perfilman Indonesia telah mampu mempengaruhi persepsi masyarakat bahkan film tersebut sempat menduduki papan sebagai film laris.

Penggunaan nama profesi perawat atau suster sebagai judul film menjadikan profesi tersebut menjadi dikenal oleh masyarakat. Namun berbeda halnya dengan profesi keperawatan atau suster yang digunakan dalam film bioskop bertemakan horor seperti film berjudul Suster Ngesot. Film tersebut telah menciptakan stigma negatif di tengah masyarakat. Paradigma masyarakat terhadap perawat menjadi berubah 180 derajat. Masyarakat kini mempersepsikan perawat seperti hantu yang menakutkan dan mengerikan terutama perawat yang bekerja di Rumah Sakit.

Citra perawat pun semakin tercemar akibat film horor yang mengandung unsur pornografi seperti film berjudul Suster Keramas. Film tersebut menyajikan banyak adegan porno yang diperankan sebagai seorang perawat. Film tersebut juga kini telah membuat citra perawat menjadi tercemar dan membuat rusaknya budi pekerti dan akhlak bangsa indonesia. Paradigma mayarakat mengenai profesi perawat pun akan menjadi lebih buruk lagi disamping perawat itu menakutkan dan mengerikan, tetapi juga pornografi.

Baca juga :  Ketidaksiapan Orang Tua Siswa Menerima Pola Pendidikan Di Sekolah

Dampak dunia perfilman tersebut membuat semakin buruknya citra perawat. Oleh karena itu, seluruh insan keperawatan masih harus memperjuangkan langkah-langkah profesional dalam meng-counterstigma negatif yang ditimbulkan akibat dunia perfilman Indonesia sebagai salah satu agenda terpenting dan mendesak yang perlu didiskusikan lebih lanjut. Dalam konteks tersebut, profesionalisme pelayanan keperawatan kepada masyarakat menjadi salah satu kunci penting dalam memperbaiki citra perawat di tengah kehidupan manusia.

Menjadi seorang perawat profesional membutuh sebuah kerja keras dalam mengatasi berbagai tantangan dan tuntutan. Hal ini dikarenakan pencitraan perawat yang sudah menjadi doktrin yang melekat kuat di masyarakat melaui pemberitaan di media massa yang terkadang buruk, seperti sombong, judes, tidak ramah, kurang berpendidikan. Seperti itulah citra perawat yang ditampilkan dalam media massa. Apa yang ditampilkan dalam media massa tersebut merupakan akumulasi dari persepsi yang berkembang di tengah masyarakat melalui media massa, tidak heran kalau profesi keperawatan sulit mendapatkan tempat yang baik di hati masyarakat sebagai tenaga kesehatan.

Advertisement

Keberadaan perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan memang hal yang paling disorot oleh media massa dibanding dengan tenaga kesehatan lainnya. Hal ini membuat tenaga perawat menjadi hal yang rentan akan terpaan berita miring, salah salah dalam bertindak, akan langsung direspon oleh media massa. Tak jarang kita temukan di media massa, seorang perawat melakukan sebuah kesalahan, bahkan sampai diadili. Sebaliknya apabila perawat melakukan sebuah kemajuan, maka akan diapresiasi juga dengan baik.

Dalam keseharian kita, terutama di dinstitusi pelayan kesehatan, memang banyak ditemukan perilaku kurang baik dari perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Hal itulah yang sering menjadi perbincangan di tengah mesyarakat sehingga merembet ke media massa.

Memang tidak etis rasanya, apabila media massa banyak menjudge perawat secara keseluruhan melakukan tindakan yang kurang baik. Hal ini dikarenakan bahwa tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan harus benar benar memuaskan. Sehinnga mereka tidak mengharapkan lagi ada beberapa perawat yang melakukan kekurangan. Alhasil, keberhailan seorang perawat di ukur dari pencitraan dan pelayanan yang diberikan secara menyeluruh.

Beberapa citra seorang perawat yang biasa dibahas dalam media massa diantaranya : Perawat banyak melakukan kesalahan tindakan” di media massa, banyak di tampilkan berita mengenai kelalaian yang dilakukan oleh perawat dalam tindakan nya, tak heran banyak kasus seperti ini yang akhirnya berujung di persidangan akibat tuntutan dari keluarga pasien.

Hal ini sebenarnya terjadi karena standarisasi kemampuan perawat yang masih kurang, hal itu lah yang menyebabkan banyak ditemukannya perawat yang melakukan berbagai kesalahan, dan juga “Sikap perawat yang kurang bersahabat” Hal ini merupakan point yang paling banyak dibahas dalam media massa dan masyarakat terkait pelayanan yang diberikan oleh perawat.

Paradigma yang berkembang dimasyarakat pun telah menganggap perawat sebagai sosok yang mengerikan dan menakutkan di rumah sakit. Tak khayal perawat sebagai sesorang yang judes dan kasar sering di tampilkan di media, baik melalui berita tertulis dan lisan, atau pun melalui lakon peran seorang perawat dalam sebuah cerita. Hal inilah yang memperkuat asumsi masyarakat mengenai perawat.

Selama ini yang kita lihat, jarang ditemukan berita-berita mengembirakan dari seorang perawat. Hal ini terjadi karena ditutupi oleh banyak nya permasalahan yang muncul dalam dunia keperawatan sehinnga, keberhasilan seorang perawat tidak akan dianggap sebagai sesuatu yang “wah”.

Sebagai sebuah alat yang independent, memang tidak ada salah nya media massa mengeluarkan berita-berita apapun terkait sebuah profesi, asalkan masih dalam batas kode etik pers. Tetapi terkadang hal inilah yang banyak disalah artikan, sehinnga pers terkadang terlalu bebas dalam berbicara, sehingga ada beberapa pihak yang merasa dirugikan, Walaupun demikian media massa sebenarnya memiliki peran penting dalam sebuah profesi, diantaranya: Media massa merupakan alat publish yang paling tepat bagi sebuah profesi, tidak terkecuali profesi keperawatan.

Segala hal mengenai profesi tersebut akan dibahas secara mendalam tanpa ada yang tertinggal satupun. Media massa inilah yang akan mengabarkan kepada masyarakat mengenai segala aspek dari sebuah profesi, baik itu mengenai perkembangan, keberhasilan, kekurangan, dan info lain terkait hal itu. Alhasil masyarakat selaku pengikut dari media massa akan mengetahui secara singkat mengenai profesi tersebut. Media massa juga berperan sebagai alat kontrol bagi sebuah profesi, tidak terkecuali profesi keperawatan. Sebagai alat kendali, media massa akan menjadi acuan bagi profesi keperawatan dalam melangkah kedepannya.karana perawat tahu segala gerak geriknya akan dipantau oleh media. Hal ini baik bertujuan untuk memacu dunia keperawatan agar lebih baik.

Pencitraan perawat yang berkembang di media massa seharusnya disikapi dengan cara yang bijak. banyak hal yang harus menjadi bahan introspeksi dan pemacu oleh seorang perawat, diantaranya, perawat dituntut lebih komunikatif, bersahabat, dan meningkatkan pengetahuan dan sikll sesuai dengan profesi.

Iwansyah, Mantan Jurnalis Koran Pedoman Makassar

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com