Opini

Pemuda, Antara Jajanan dan Jajahan Gaya Hidup

  1. Refleksi sumpah pemuda dan kritik identitas kepemudaan

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIO-KOSMIK, EDUNEWS.ID – Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, “Jas Merah” semboyan populer presiden pertama republik ini dalam pidato terakhirnya pada tanggal 17 Agustus 1966. Meskipun sekadar membaca ataupun mendengarkan istilah tersebut, tapi spontan membawa energi besar bagi setiap jiwa pemuda.

Mengapa mesti mengingat sejarah? Sejarah bisa diartikan sebagai diri kita di masa lalu. Tak ada alasan untuk menyatakan kehadiran kita saat ini jika kita terputus dari rangkaian hidup di masa lalu. Secara biologis kita tak mungkin lahir tanpa memiliki nenek moyang. Nenek moyang yang selamat dari sejarah dan melanjutkan kehidupan yang tiba di masa ini.

Dari pemantik geneologis di atas kita bisa mengambil hikmah bahwa kita tak ada saat ini jika nenek moyang kita terkubur dan terputus di masa lalu. Suatu kesyukuran jika mereka mati di medan perang, namun sungguh memilukan dan enggan untuk dibanggakan jika mereka tergeletak karena kelaparan, penderitaan bahkan penjajahan. Darimana kita bisa lahir jika bukan dari rahim masa lalu.

Olehnya itu, sejarah adalah rahim kehidupan masa kini. Sedangkan perjuangan adalah jalan yang telah menyelamatkan hidup mereka. Karena mesti berjuang terlebih dahulu agar bisa hidup.

Kita tidak pernah memilih pada sejarah mana kita lahir. Tak pernah bisa sesuka hati memilih lahir dari rahim seorang bangsawan atau pejabat negara bahkan konglongmerat. Terus apa yang bisa kita perbuat dalam sejarah?

Hemat saya, kita memang tak bisa memilih bagaimana rahim kehidupan kita di masa lalu namun bisa menentukan bagaimana generasi esok hari. Mereka ditentukan hari ini, mereka adalah diperjuangkan hari ini, masa depan adalah buah yang bisa dipetik dari apa yang kita tanam hari ini. Ini persis kita saat ini tak lain adalah hasil dari perjuangan dari masa lalu.

Ini baru satu soalan sederhana. Sepertinya sejarah tak cukup mendalam jika sekedar kisah – kisah biologis dan geneologi antropologis. Sejarah tak sekadar membincang siapa nenek moyang kita melainkan apa yang telah diperbuat mereka di masa lalu. Jika pertanyaannya adalah siapa kita saat ini maka jawaban paling sederhana adalah siapa kita di masa malu. Namun jika pertanyaannya bagaimana kita saat ini maka jawabannya bagaimana sejarah bangsa ini masa lalu.

Apabila kita tak sejaya atau tak seheroik di masa lalu? Itu karena apa yang kita lakukan hari ini. Sudahkah kita menakar makna kepemudaan kita hari ini?

Perjuangan tak selamanya disambut dengan mawas dan progresif, namun tak sedikit yang justru tenggelam pada pelupaan. Kondisi ini membuat pemuda larut dalam kenikmatan gaya hidup. Jika meminjam analisis Ibnu Khaldun dalam bukunya Mukaddimah tentang siklus masyarakat. Masyarakat yang telah mencapai struktur sosial yang diharapkan maka cenderung berfoya-foya dan eforia. Mungkin beginilah fase kepemudaan hari ini karena merasa kemerdakaan telah digapai maka perjuangan pun usai.

Analogi di atas mirip kisah panglima perang yang mabuk-mabukan usai merebut kemenangan di medan laga. Padahal tidak menutup kemungkinan akan ada serangan susulan jika pertahanan sedang lengah. Masih mending jika berpesta karena kita pelaku yang telah merebut kemenangan di medan laga. Namun bagaimana menyedihkannya jika kita berpesta dari perjuangan yang tidak kita kenal. Bukankah ini semacam menari diatas derita perjuangan di masa lalu. Ya, menari dengan segala macam gaya hidup sampai mengubur kepekaan dan idealisme yang seringkali melekat bagi identitas pemuda.

Pemuda dan Gaya Hidup
Gamblangnya, kita mesti hidup dulu baru bisa bergaya tapi sekarang kelihatannya perlu bergaya dulu baru dianggap hidup. Ya, “aku bergaya maka aku ada”, kira-kira semacam ini adagium yang seksi. Bukan rahasia lagi bahwa penanda era bagi pemuda saat ini adalah gaya hidupnya. Saat ini sepertinya kita sedang berperang dengan gaya hidup. Berperang dalam artian berhadap-hadapan dengan kuasa citra simbolik dari gaya hidup.

Pemuda dengan gaya hidup adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Anda mungkin sering mendengar istilah “Ya, wajar tawwa dia bergaya, kan anak muda”. Ini mengukuhkan bahwa pemuda adalah segmentasi gaya hidup. Bukankah ini menjungkir balikkan makna subtantif sejarah kepemudaan. Sumpah Pemuda 28 oktober 1928 adalah jejak mentalitas yang menunjukkan kualitas dan makna pemuda yang sebenarnya.

Mereka tidak sibuk dengan dirinya sendiri, tidak sibuk mendandan atau nongkrong pada sudut yang adem dengan suguhan coffe berkelas. Namun mereka berdiri di bawah terik matahari dengan semangat nasionalisme yang tinggi. Sejarah Sumpah Pemuda adalah titik kulminasi kualitas kemudaan. Mereka telah menegasi keegoan pribadi, suku, agama, ras dan golongan demi tanah air, bahasa dan bangsa yang satu yakni indonesia.

Jajanan yang Menjajah
Gaya hidup adalah jajanan yang menjajah. Hemat saya, ini adalah model penjajahan gaya kolonialisme abad 21. Tak lagi menggunakan kekerasan fisik melainkan melalui simbol dan citra. Bahkan ini jauh lebih berbahaya dan massif karena menyentuh sisi terdalam kemanusiaan kita. Kolonialisme sudah merasuk lebih ke dalam, yakni pada cara kita melihat dan memaknai kehidupan. Ya, penjajahan idelogi.

Kolonialisme tak perlu menyerang pangkalan militer untuk mengusai negara lain, namun cukup dengan membombardir kesadarannya. Menanamkan ideloginya agar ia tunduk dalam skenario. Gaya hidup adalah satu di antara banyak praktek bekerjanya mesin penjajahan baru bertopeng kemajuan di balik paras kapitalistik. Karena yang disasar adalah kesadaran, maka pemuda tidak memahami bahwa sedang terjajah. Ketidaksadaran itulah yang membuat kita menikmati gaya hidup sebagai suatu prestise pemuda.

Mungkin kita sudah terlalu banyak melupakan kisah heroik pendahulu, sehingga terjatuh dalam ketidaktahuan sejarah. Dari kondisi ini sudah semestinya kita menundukkan kepala sejenak sembari merefkesikan nilai perjuangan para tokoh pendahulu kita.

Catatan sejarah adalah instrumen ingatan yang membantu kita melampui ruang dan waktu. Pemuda yang banyak mengingat sejarah adalah pemuda yang menghargai kehidupan.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!