Opini

Pilkada DKI: Figure Differentation Vs Voter Expectation

Oleh : Ikhsan Kurnia

Warga DKI adalah “end user” yang memegang kuasa penuh atas pilihan politiknya. Figur calon kepala daerah, melalui kendaraan partainya, bisa saja memarketingkan dirinya secara “B2B” (Business to Business). Mereka melakukan “presentasi” (kampanye) ke komunitas-komunitas, organisasi, interest-based groups atau social network lainnya secara kelembagaan. Namun, tetap saja keputusan suara ada di tangan individu. Dalam konteks Pilkada, preferensi individu terhadap figur tidak serta merta berbanding lurus dengan preferensinya terhadap partai. Migrasi pilihan bisa sangat dinamis, bahkan radikal.

Apa yang membuat individu menjatuhkan pilihannya? Salah satu yang menjadi pertimbangan meraka adalah harapan (expectation). Ini mengasumsikan tidak adanya praktek money politic. Atau jika pengaruh finansial para calon kepala daerah (atau sponsor politiknya) sama-sama kuat terhadap para pemilihnya, maka pertarungan dalam Pilkada lebih pada kompetisi memenuhi harapan pemilih (fulfill voter expectation).

Apa yang warga DKI harapkan kepada para figur calon gubernur mereka? Hasil pengamatan saya, warga DKI mengharapkan Gubernur Jakarta adalah figur yang mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan ibu kota, terutama banjir dan kemacetan (masalah transportasi). Mereka juga menghendaki keamanan kota lebih terjaga, mengingat angka kriminalitas dan kecelakaan masih tinggi. Rakyat kecil berharap mereka tidak digusur. Social security (jaminan sosial) terpenuhi, dan kesejahteraan masyarakat meningkat mengingat kebutuhan hidup sehari-hari semakin mencekik.

Ekspektasi tersebut berkorelasi terhadap kebutuhan mereka akan sosok pemimpin yang diharapkan. Saat ini, Gubernur Ahok masih memiliki pendukung, karena dianggap memiliki sikap dan karakter yang cocok untuk memimpin DKI. Sebagian dari mereka berkata: “Gubernur Jakarta harus berani “gila”. Kata “gila”, “nekat”, “berani” dan semacamnya bisa menjadi keyword penting yang merepresentasikan salah satu karakter kepemimpinan yang diharapkan untuk DKI. Ahok dianggap sebagai tipe eksekutor dan risk taker yang berani mengambil keputusan. Namun disisi lain memiliki cara komunikasi yang kurang elegan, sehingga dibenci oleh banyak kalangan.

Baca juga :  Opini : Ambruknya Keadaban Berbangsa

Tipologi Leadership Style

Saya membuat 8 tipologi style kepemimpinan yang dihasilkan dari 3 pasang variabel, yakni: Conceptor-Executor, Accomodator-Risk Taker dan Personally High Resource-Personally Low Resource. Dengan demikian dihasilkan 8 tipologi sebagai berikut: Conceptor-Accomodator-Personally High Resource, Conceptor-Accomodator-Personally Low Resource, Conceptor-Risk Taker-Personally High Resource, Conceptor-Risk Taker-Personally Low Resource, Executor-Accomodator-Personally High Resource, Executor-Accomodator-Personally Low Resource, Executor-Risk Taker-Personally High Resource, dan Executor-Risk Taker-Personally Low Resource.

Jika teori marketing yang digunakan oleh para kompetitor Gubernur Incumbent (Ahok) adalah membangun differentiation, maka setidaknya ada 8 karakter kepemimpinan yang berbeda-beda untuk konteks Pilkada DKI. Mari kita coba analisa beberapa figur utama yang muncul sebagai calon kompetitor Ahok.

Pertama, Yusril Ihza Mahendra. Jika dianalisa karakternya, agaknya ia termasuk tipologi Conceptor-Risk Taker-Low Resource. Yusril adalah seorang guru besar Hukum Tata Negara. Profilnya lebih dekat sebagai seorang konseptor daripada sebagai seorang eksekutor. Namun pengalamannya sebagai seorang pengacara dan ketua sebuah partai politik membuatnya berani mengambil resiko dalam memimpin. Terbukti dengan maneuver-maneuver yang selama ini dilakukannya untuk mem-beat Ahok. Namun, sayangnya ia termasuk kategori Low Resouce, dimana ia tidak memiliki kekuatan finansial untuk menjadi pemimpin yang mampu berdiri sendiri. Jika dilihat differentiation score-nya, tampaknya gaya kepemimpinan Yusril cukup jauh berbeda dengan Ahok.

Baca juga :  Mitos Santa Claus dan Pelestarian Penjajahan

Kedua, Anies Baswedan. Jika kita analisa leadership stylenya, agaknya ia masuk kedalam tipologi Conceptor-Accomodator-Personally Low Resource. Anies adalah seorang akademisi dan aktivis. Ia lebih menonjol dari sisi intelektual dan sebagai seorang orator. Ia memiliki kemampuan konseptual yang sangat baik, namun bukan tipe eksekutor dan administrator. Secara personal juga belum pernah teruji memimpin sebuah lembaga politik yang besar, sebagaimana Yursil misalnya. Ia cenderung lebih berkarakter akomodatif daripada sebagai seorang pengambil resiko. Secara personal juga kurang memiliki kekuatan finansial yang cukup kuat. Sebagaimana Yusril, agaknya Anies memiliki differentiation score yang cukup besar dengan Ahok.

Ketiga, Sandiaga Uno. Agaknya sosok ini termasuk tipologi Executor, Risk Taker-High Resource. Sosok ini adalah seorang pengusaha yang sukses di usia muda. Profesinya sebagai seorang entrepreneur menjadikannya lebih dekat dengan tipe eksekutor dan seorang pengambil resiko. Financial Resouce yang dimilikinya dapat menjadikannya sebagai pemimpin yang mampu berdiri sendiri. Sosok Sandi Uno berpotensi menjadi pelengkap gaya kepemimpinan figur-figur seperti Yusril ataupun Anies. Profilnya tidak cukup kuat menjadi seorang Gubernur, melainkan lebih cocok menjadi wakil Gubernur. Profilnya memiliki beberapa kedekatan dengan Ahok, yakni sama-sama seorang eksekutor dan risk taker. Bahkan Sandi lebih independen dari sisi finansial dibanding Ahok. Yang membedakan keduanya secara signifikan adalah pengalaman kepemimpinannya di dunia politik.

Baca juga :  Bentrok antar Mahasiswa Unismuh Makassar, Siapa yang Untung, Siapa yang Buntung

Seandainya figur yang menjadi kompetitor Ahok adalah Yusril dan Anies, maka keduanya memiliki “figure differentiation” yang kuat dan tegas. Dan ini menjadi nilai jual tersendiri pada segmen tertentu. Namun apakah itu berbanding lurus dengan mayoritas voter expectation? Apakah dua figur tersebut dapat diharapkan mampu menyelesaikan masalah Jakarta yang super kompleks?

Jika hanya variabel “figure differentiation” yang digunakan, sepertinya tidak cukup kuat untuk memenangkan kontestasi Pilkada yang dahsyat. Dalam kasus sebelumnya mungkin ini cukup bekerja efektif, misalnya saat Jokowi hadir dengan diferensiasi yang kuat dari sosok Foke (untuk Gubernur) dan SBY (untuk Presiden). Namun diferensiasi harus berbanding lurus dengan ekspektasi pemilih. Di zaman Jokowi, diferensiasi tokoh dan ekspektasi pemilih bertemu dalam satu momentum, sehingga menciptakan gelombang pilihan yang besar terhadap Jokowi.

Lalu bagaimana dengan figur-figur yang menjadi kompetitor Ahok? Dari sisi diferensiasi, mereka sudah cukup kuat. Selanjutnya tergantung seperti apa ekspektasi yang dimiliki oleh para pemilih. Tentunya ada segmentasi pemilih yang mempunyai konten ekspektasi berbeda-beda. Pertemuan dan kesesuaian (compatibility) antara diferensiasi figur dan ekspektasi pemilih akan menghasilkan suara. Sementara gap antara keduanya akan menghasilkan kekosongan. Namun, ini tidak berhenti disini. Masih ada pertanyaan yang mengandung peluang: Apakah ekspektasi pemilih dapat diciptakan (engineered) agar bertemu dengan diferensiasi figur?

Ikhsan KurniaPemerhati Manajemen, Sosial dan Politik; Alumni FISIPOL UGM.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!