Literasi

Ramadan dan Kesalehan Sosial

Oleh: Saifuddin Al Mughniy*

Ramadhan tentunya bukan hanya sekedar melaksanakan puasa dengan menahan lapar dan haus akan tetapi bulan ramadhan adalah bulan di mana penuh dengan berbagai kenikmatan Ilahiyah dapat kita temukan. Bagaimana kemudian Al-Quran memberitakan akan datangnya suatu malam yang memiliki ketinggian dan kemuliaan yakni malam lailatul qadr yakni seribu bulan yang secara matematis sekitar84 tahun lamanya, sehingga barangsiapa yang mendapati mala mini tentu pahalanya melalmpaui usia manusia normal yang berkisar hanya 64 tahun, subhanallah.

Ramadhan sesungguhnya adalah bulan tarbiyah dimana setiap ummat muslim baik kaya maupun miskin meleburkan dirinya dalam suasana ibadah. Si kaya tentu belajar bagaimana rasanya menahan lapar dan dahaga tidak seperti saat sebelum berpuasa yang boleh jadi hidupnya serba berkecukupan. Dan bagi si miskin tentu menjadi suasana yang haru sebab dengan ramadhan menghadirkan dirinya sebagai manusia yang berpunya sama dengan orang yang berpunya, mereka pun harus berbuka dan sahur bersama tanpa sekat-sekat social yang ada.

Baca juga :  Intellectual Capital dan Nalar Pembangunan Daerah

Olehnya itu, sering kita dengar dari kalangan Muslim, orang yang mempertentangkan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial.  Mereka memisahkan secara dikotomis  antara dua bentuk kesalehan ini. Seolah-olah dalam Islam memang ada dua macam kesalehan: “kesalehan individual, ritual” dan “kesalehan sosial”.

Padahal dalam Islam kesalehan itu tak terbatasi oleh ruang dan wakt.sebab makna kesalehan itu adalah sebuah kebaikan, seorang pelacur pun yang memberikan seteguk air minum kepada seekor anjing, itu juga adalah kesalehan, tanpa harus kita pisahkan dalam bentuk tindakan apakah itu baik atau benar.

Namun dalam banyak kenyataannya, kita juga melihat masih terdapat ketimpangan yang tajam antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Banyak orang yang saleh secara individual, namun tidak atau kurang saleh secara sosial. Saleh secara individual serinkalikita jumpai bagaimana seseorang itu beragama secara personal baik, tetapi terkadang juga kita tak menemukan ia bertindak saleh secara sosial.

Baca juga :  Dinamika Kekuasaan Dalam Proses Penganggaran BLT Tepat Sasaran di Masa Pandemi Covid-19

Hal ini terjadi karena kita seringkali terjebak pada mazhab dan cara berfikir kita yang sempit terhadap Islam itu sendiri. Bahkan nyaris ada juga saleh secara sosial, tetapi kurang saleh secara individual. Sehingga Islam mengajarkan kepada kita bahwa kesalehan itu sedapat mungkin berjalan baik secara individual maupun secara social. Dan ramadhan tentu adalah jalan bagi ummat muslim untuk menunjukkan tindakan atas kesalehan social dalam bentuk berbagi terhadap sesama.

Advertisement

Kesalehan individual disebut juga dengan kesalehan ritual, pertanyaannya adalah kenapa? Karena lebih menekankan  dan mementingkan pelaksanaan  ibadah ritual secra pribadi (Habluminallah) seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah sunnah lainnya.  kemudian kesalehan individual karena hanya mementingkan ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan dan kepentingan diri sendiri.

Namun pada saat yang sama mereka tidak memiliki kepekaan sosial, dan kurang menerapkan nilai-nilai islami dalam kehidupan bermasyarakat. kesalehan jenis ini ditentukan berdasarkan ukuran serba  formal, yang hanya hanya mementingkan hablum minallah, tidak disertai hablum minan nas (hubungan kemanusiaan) dalam dimensi kehidupan kita.

Sementara “Kesalehan Sosial” menunjuk pada perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai islami, yang bersifat sosial. Bersikap santun pada orang lain, suka menolong, sangat peka terhadap masalah-masalah ummat, memperhatikan dan menghargai hak sesama; mampu berpikir berdasarkan perspektif orang lain, mampu berempati, artinya  mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan seterusnya.

Kesalehan sosial dengan demikian adalah suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud sebagaimana dalam al-quran sudah ditegaskan rukuklah bersama dengan orang-orang yang ruku, melainkan juga ditandai oleh seberapa besar seseorang memiliki kepekaan sosial dan berbuat kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya. Sehingga orang merasa nyaman, damai, dan tentram berinteraksi dan bekerjasama dan bergaul dengannya, tanpa sekat primordialisme, hubungan emosional, mazhab, serta simbol-simbol social lainnya.

Saifuddin Al Mughniy, OGIE Institute Researh and Political Development

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com