Opini

Ramadhan dan Tafakur Kebangsaan

 

 

Oleh : Febriansyah Ramadhan*

OPINI, EDUNEWS.ID – Bak roda yang terus berputar, hangatnya kondisi politik negeri ini, tidak akan pernah berhenti, walaupun  ancaman sekelas meteor hendak menghantam bumi, para politisi tidak akan peduli dan tetap memperjuangkan kepentingan dan pendiriannya. Itulah gambaran yang saat ini terlihat di singgahsana wakil rakyat yang selalu mendapat perhatian masyarakat.

Perdebatan sengit, tarik ulur kepentingan antar fraksi dalam revisi UU nomor 15 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pemilu contohnya, poin yang masih alot diperdebatkan yakni tentang Presidential Thereshold (PT). Dan yang paling menyedihkan, ialah ancaman yang dilontarkan pemerintah untuk walkout dari pembahasan, jika keinginan PT yang diajukan Pemerintah tidak diterapkan pada Pemilu 2019.

Baca juga :  Omnibus Law untuk Siapa?

Tulisan ini bukan untuk memberikan pandangan terkait PT, tetapi ingin mengajak bangsa ini agar saling bertafakur (refleksi/berfilsafat), khususnya para pembentuk undang-undang, agar proses musyawarah tidak diwarnai dengan ego kepentingan.

“Bertafakur satu saat lebih baik daripada ibadah satu tahun” sabda Nabi Muhammad SAW. Lebih lanjut Kang Jalal mengatakan, di tengah bangsa yang hidup dalam alam yang keras, ketika hari-hari mereka dipenuhi dengan pergulatan kepentingan, maka Rasullullah menyuruh mereka bertafakur. Apakah  sabda nabi itu relevan dengan tempat dan zamannya? Bukankah terkenal dengan adagium primum vivere deinde philosopari hiduplah dahulu baru berfilsafat, bukan sebaliknya.

Tafakur memang mengajak orang naik ke abtraksi yang tinggi, supaya ia turun ke bumi dengan petunjuk konkret. Islam adalah agama yang mengajarkan pentinganya revolusi konseptual sebelum revolusi fisik. Tindakan yang tidak didahului dengan tafakur, akan sama jeleknya dengan tafakur yang tidak disusul dengan tindakan.

Baca juga :  Penguatan Inklusif Peran KPK
Advertisement

Hal inilah yang benar-benar harus dicermati oleh para pembentuk undang-undang, dalam suatu kondisi seperti saat ini, kita perlu bertafakur, karena dengan itu kita akan memiliki jiwa besar untuk memecahkan permasalahan bersama, bukan justru walkout dari pembahasan. Musyawarah adalah identitas bangsa ini, musyawarah bukan untuk mengedepankan ego sektoral semata, bukan untuk memenangkan kepentingan yang dibawa, bukan pula kompetisi kalah/menang, musyawarah adalah menyatukan pandangan dalam satu titik, bertukar pikiran dengan jernih, mencari jalan keluar bersama-sama, guna mencapai kesepakatan bersama, serta menjalankan hasil musyawarah secara bersama-sama, itulah musyawarah.

Satu hal yang membuat citra musyawarah di parlemen hari ini kian memburuk, yakni akibat“nafsu” golongan yang selalu muncul ke permukaan. Nafsu, diciptakan Allah SWT untuk menguji manusia di dunia, Imam Sibawaih E. mengatakan bahwa tabiat nafsu selalu mengutamakan diri dan kepentingannya, ia tidak mau terbebani, cobalah hadapkan nafsu mereka pada sesuatu yang berat dan membebaninya, maka nafsu akan enggan dan menghindar.

Perilaku mengedepankan nafsu, khususnya nafsu untuk memaksakan kehendak kepada pihak lain dalam musyawarah, akan semakin memperburuk marwah musyawarah bangsa ini. Hal itu juga berpotensi melahirkan benih-benih tirani, karena sikap tirani yang digambarkan oleh Cak Nur ialah memaksakan suatu kehendak kepada pihak lain. Maka dalam momentum Ramadhan inilah, perlu kiranya kita melakukan tafakur kebangsaan, agar bangsa ini menjadi bangsa yang berbudi luhur yang bernafaskan nilai-nilai Pancasila.

Febriansyah Ramadhan, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com