Artikel

Revolusi Industri 4.0 untuk Pariwisata Toraja dalam Gaet Generasi Milenial

Oleh :  Eliyah Acantha Manapa Sampetoding

Pariwisata Indonesia Saat Ini
Selama 3 tahun terakhir, Wonderful Indonesia mendapatkan lebih dari 100 penghargaan dari berbagai negara. Hal ini tidak lepas dari keberhasilan event pariwisata yang dilaksanakan Kemenpar di bawah kepemimpinan Arief Yahya sejak menjabat sebagai Menteri Pariwisata. Arief Yahya sendiri pernah menjadi Direktur Utama PT Telkom Indonesia [1]. Pada saat dilantik oleh Presiden Jokowi, Kementrian Pariwisata yang di bawah kendali Arief ditargetkan untuk meraih 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) sampai tahun 2019. Pada 2017 kemarin, wisman sendiri mampu mencapai 15 juta kunjungan ke Indonesia.

Beberapa hasil yang didapatkan pada periode Menteri Arief Yahya adalah, seperti pada tahun 2017 Indonesia mampu masuk diposisi 50 besar dunia tepatnya posisi 42 dunia di sektor pariwisata. Menteri Pariwisata juga mengajak seluruh pemangku kepentingan lain membangun sektor pariwisata dalam konsep ABGCM (Academic, Business, Government, Community, dan Media).

Kilas Parwisata Toraja

Pada tahun 1974, pertemuan PATA (Pasific Asia Travel Association) melaksanakan pertemuan di Toraja (Tongkonan Siguntu) yang dihadiri perwakilan dari 60 negara. Konferensi tersebut membuat Toraja semakin dikenal sebagai Daerah Tujuan Wisata yang handal [2].

Ketua Asita (Asosia Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia) Sulawesi Selatan pada tahun 2015 menyatakan bahwa promosi pariwisata Toraja (Kabupaten Toraja Utara dan Tana Toraja) perlu ditingkatkan lagi. Festival Internasional toraja cukup menarik diperkenalkan diluar negeri tetapi tidak terasa di Industri Travel [3].  Padahal kegiatan internasional yang berhubungan dengan Toraja dapat digunakan untuk mengarahkan wisatawan ke Sulawesi Selatan sekaligus menjual destinasi wisata lain.

Pada Maret 2018, Asita Sulawesi Selatan melakukan koordinasi dengan Dua Pemerintah Toraja yang katanya akan menyambut kehadiran peserta pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) – Bank Dunia (WB) pada Oktober 2018. Koordinasi yang telah dilakukan adalah hal sarana dan prasarana, akomodasi, transportasi termasuk kondisi jalan menuju lokasi objek wisata [4]. Bahkan dibeberapa berita media online juga menggembar gemborkan bahwa peserta IMF akan disambut dengan baik. Hasilnya, persiapan koordinasi yang sudah dilakukan dengan baik antara stakeholder tersebut, hanya mendapat hasil kosong. Peserta IMF batal ke Toraja [5].

Jika merujuk pada berbagai kegiatan Pariwisata daerah lain, seharusnya setiap pemangku kepentingan Toraja tidak hanya terpaku pada berbagai event besar. Selama hampir 3 tahun pemerintahakan kedua bupati, tidak ada peningkatan dan berita signifikan keberhasilan pariwisata sebagai salah satu core economy Toraja. Padahal yang diketahui sebelum masuk era tahun 2000, Dunia hanya mengenal Bali dan Toraja, sebagai pariwisata yang menarik di Indonesia.

Pariwisata 4.0 dan Generasi Milenial

Revolusi Industri 4.0 tidak bisa dihindarkan. Tuntutan perkembangan teknologi ini membawa kita semua untuk siap menghadapi berbagai innovation di berbagai lini [6]. Dapat dilihat dengan maraknya ekspansi dunia digital dan internet ke Sebagai generasi muda juga mempunyai peran besar dalam melahirkan insan karakter dan kritis. Ada 4 hal penting di era Revolusi Industri 4.0 yaitu critical thingking, creativity, communication, dan collaboration.

Lalu, bagaimana dengan Generasi Milenial? Menurut Pew Research Center [7], generasi milenial adalah generasi yang terlahir antara tahun 1981 sampai 1996. Generasi tersebut dianggap lebih suka menghabiskan uang untuk pinik dibandingkan membeli rumah. Jika mengacu pada tahun 1998, usia generasi Milenial saat ini adalah berusia antara 22 tahun hingga 37 tahun.

Senior Director Global Lead Consumer Industries Accenture Consulting menyatakan bahwa ada 60 persen populasi milenial secara global di tahun 2020 akan berada di Asia [8]. Oleh sebab itu, milenial adalah sebuah potensi besar di Industri Pariwisata. Karakteristik milenial sendiri adalah mudah beralih dan pilih alternatif lain yang lebih bisa memberikan keuntungan. Milenial juga ingin sebuah kemudahan dalam berbagai aktivitas nya, hal ini bisa dimaksimalkan dengan penggunaan teknologi digital.

Ide Eco-Digital Pariwisata 4.0 Toraja

“Why build dinasty when can create ecosystem” sering terdengar pada startup berbasis Teknologi. Ya, internet adalah sebuah media promosi yang tepat bagi setiap stakeholder dua kabupaten Toraja.  Ekosistem digital pariwisata 4.0 Toraja itu bukan hanya sekedar promosi, provider, platform, dan traveler. Atau hanya wisatawan dengan platform dan aplikasinya. Tetapi, bagaimana pemerintah dua kabupaten Toraja tersebut melakukan kerjasama baik dengan masyarakat lokal dan startup digital nasional dan internasional.

Pemerintah kedua Kabupaten harus mulai bangun ekosistem, bukan membuat lagi dari awal atau melakukan promosi yang boleh dikatakan hanya lari kosong (sia sia promosi tanpa hasil yang maksimal). Caranya? harus mengajak milenial profesional yang bergerak pada Industri Revolusi 4.0 untuk menyusun strategi kolaborasi dan SOP Kreatif, yang bertujuan mampu menggaet milenial agar berwisata ke Toraja.

Akhir tahun 2017, saya diundang oleh STAKN Tana Toraja, untuk memberikan pelatihan “Membuat Sendiri Website Moderen yang Elegan”. Pada sesi sharing, saya menyampaikan bahwa, apabila yang mengikuti pelatihan (sekitar 80 orang) ini menceritakan kampung halaman Toraja di blog atau website nya, akan sangat baik dalam membantu pemerintah mempromosikan Toraja di dunia Digital.

Saya pernah sharing dengan senior tentang anggaran promosi pariwisata Toraja dalam suatu even misalnya di Jakarta. Senior tersebut mengatakan untuk biaya promosi satu kali disebuah even bahkan ke internasional, bisa mencapai 300 – 500 juta rupiah. Hasilnya dapat diketahuai, promosi tidak maksimal dan sangat disayangkan menurutnya. Saya coba memberikan ide, lebih baik Pemerintah membuat lomba mengenai toraja, misalnya Lomba Menulis atau Lomba Bikin Vlog. Hadiah dan pelaksanaan pada lomba tersebut diberikan hadiah yang tidak sampai 25% dari biaya promosi ratusan juta. Secara tidak langsung, sudah promosi wisata Toraja.

Pemaparan diatas, dapat diampul kesimpulan temporary bahwa Pemerintah Kedua kabupaten harus lebih cerdas dalam memaksimalkan potensi. Saya sewaktu backpaker ke Singapur dan Vietnam, serta berwisata dalam negeri ke Serang, Solo, Manado, Bali dan Semarang dalam mencari spot seluruh kebutuhan baik tempat wisata, akomodasi, kuliner hanya modal menanyakan Google. Di Google, banyak blog dan website yang menceritakan caranya berwisata ditempat tersebut. Tidak pernah pergi ke stan even pariwisata pemerintah mereka. Sedangkan cari informasi ke Toraja, maupun Pare-pare dan Palopo yang provinsi Sulawesi Selatan, tidak memiliki informasi update. Pemerintah kabupaten kedua toraja dan provinsi Sulawesi Selatan, harus memikirkan solusi cerdas.

Saya ingin menyarankan pemerintah khususnya kedua kabupaten Toraja untuk membuat policy mengenai sebuah inovasi pariwisata 4.0. Pertama, inovasi dalam konteks pembangunan berkelanjutan pariwisata harus melibatkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan pemangku kepentingan. Kedua, nilai inovasi harus memiliki nilai komersial agar dapat mendukung potensi industri pariwisata dan pelaku bisnis serta menarik generasi milenial, tetapi dalam artian tidak hanya memanfaatkan inovasi, tetapi mengantisipasi potensi dampak inovasi tersebut. Ketiga memaksimalkan potensi akademisi dan profesional kalangan milenial dalam proses nya, tidak hanya untuk sekedar menghasilkan inovasi baru, tetapi memaksimalkan teknologi agar memastikan inovasi tepat sasaran ke generasi milenial serta tidak berakibat negatif bagi pembangunan berkelanjutan dan masyarakat lokal sekitar.

Referensi :
[1]
http://www.tribunnews.com/bisnis/2017/11/04/menteri-arief-yahya-minta-keroyok-sektor-pariwisata

[2] https://www.antarafoto.com/bisnis/v1325505301/wisata-toraja

[3]https://travel.kompas.com/read/2015/07/26/161200127/Asita.Promosi.Pariwisata.Toraja.Perlu.Ditingkatkan

[4] https://makassar.antaranews.com/berita/99166/asita-pemkab-toraja-tingkatkan-koordinasi-sambut-tamu-imf-wb

[5] https://www.rakyatsatu.com/2018/10/peserta-imf-batal-ke-toraja-kadis.html

[6] http://id.beritasatu.com/home/revolusi-industri-40/145390

[7] https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/rentang-usia-generasi-milenial-diperbarui

[8] https://travel.kompas.com/read/2016/09/14/110300127/generasi.milenial.pasar.potensial.industri.pariwisata

Eliyah Acantha Manapa Sampetoding (Antha).  Alumni S1 – Teknik Informatika dari Universitas Telkom dan saat ini sebagai Mahasiswa Pascasarjana S2 – Ilmu Komputer dari Institut Pertanian Bogor yang sedang tahap penyelesaian studi nya. Saat ini Antha sedang bekerja juga pada perusahaan Telekomunikasi Selular. Selain Pendidikan dan Profesional Pekerjaan yang sementara dijalani, Antha saat ini aktiv dibeberapa organisasi. Aktivitas organisasi nya saat ini adalah sebagai pengurus pimpinan daerah PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia) di Ibukota, sekertaris pimpinan daerah Parkindo (Partisipasi Kristen Indonesia) Sulawesi Selatan dan anggota APTI (Aliansi Pemuda Toraja Indonesia).

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!