Literasi

Saleh Sejak Dalam Pikiran

Oleh : Nur Khasanah Latif*

OPINI, EDUNEWS.ID – Tentang kesalehan, bulan ini kita akan dengan sangat mudah menemukan orang–orang ‘saleh’ yang bertebaran. Di dalam rumah ibadah, mereka meramaikan masjid setiap malamnya. Lepas berbuka bersama, lalu bersiap menanti waktu tarwih tiba. Orangtua hingga anak–anak begitu bergembira didalam rumah ibadah, bagaimana tidak selain berbahagia berjumpa bulan berkah, ada warna–warni mukena dan sajadah yang masih wangi, berbau toko.

Tuhan meminta untuk menggunakan pakaian terbaik, sementara tatapan orang–orang seperti menyuruh menggunakan pakaian terbaru. Jadilah rumah ibadah tak ubahnya etalase toko.

Di jalan raya, tempat kendaraan sibuk berlalu lalang seakan berburu dengan waktu melunasi janji berbuka dengan keluarga, orang–orang ‘saleh’ justru merelakan waktu menanti berbukanya dengan berdiri di tepian jalan membagikan takjil kepada para pengendara, tidak jarang takjil tersebut disertai selebaran profil darimana gerangan takjil itu berasal.

Baca juga :  Blok Sanga-sanga dalam Kendali Negara untuk Sejahterakan Rakyat

Tahu kan maksudnya apa? Maksudnya, agar kenal saja siapa yang berbaik hati berbagi. Siapa tahu belakang hari orang tersebut ada perlu bantuan, begitu.

Orang–orang ‘saleh’ lainnya kita temukan di kantor–kantor instansi pemerintah, mereka membantu calon tertentu yang ingin memenangkan hati masyarakat lewat beberapa botol sirup dan sekian kilo gula pasir dengan label produk berubah menjadi wajah senyum manis sang calon. Ini agaknya lebih to the point. Terima bingkisannya, jangan lupa calonnya.

Advertisement

Ini ghibah? Saya lebih suka menyebutnya fakta. Mengajak berpikir, bahwa tiap-tiap orang memiliki jalan ‘kesalehank masing-masing.

Kita berpikir positif saja. Bulan ramadan perbanyaklah hal positif. Orang pamer barang–barang baru, kita positif mungkin mereka ingin memotivasi supaya kita juga memakai pakaian terbaru, maksudnya terbaik ketika akan bertemu Tuhan.

Ketika ada yang bagi–bagi takjil sambil menyodorkan profil atau mencantumkan senyum seribu maknanya pada bingkisan yang dibagikan, positif saja. Mungkin beliau ingin kenalan. Banyak teman banyak rejeki. Menyambung tali slaturrahim seperti ajaran dalam agama. Bukan hanya bermanfaat dalam menambah rejeki secara materi, tetapi juga dapat memperpanjang umur. Semoga yang bersangkutan dipanjangkan umurnya supaya bisa diisi dengan berbagi kepada sesama.

Berpikiran positif juga merupakan suatu bentuk kesalehan. Karena setiap tindakan yang positif pastilah lahir dari pikiran yang positif. Salehlah sejak dalam pikiran.

Nur Khasanah Latif. Peneliti Pusaran Indonesia.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com