Literasi

Seruan Untuk Pemuda

Oleh : Abdul Rais Abbas*

Sejarah Dunia ialah sejarah orang muda,
jika angkatan muda mati rasa,
matilah semua bangsa. (Pramudya Ananta Toer)

OPINI, EDUNEWS.ID – Peran pemuda dalam belantika perkembangan, perubahan dan kemajuan bangsa ini. Tak bisa diragukan. Banyak Capaian, kontribusi dan perjuangan nyata yang mereka torehkan dan berbagai pergorbanan yang mereka buktikan demi perbaikan dan kemajuan masyarakat Indonesia.

Perjuangan dan perlawanan mereka tidaklah terjadi secara simultan, spontanitas dan hadir begitu saja namun melalui ihtiar kemanusian, dengan belajar dari pergerakan dan perjuangan masa lalu. Yakni, belajar, mengorganisir dan bangun persatuan rakyat di akar rumput di desa, kampung-kampung, di kota dan di kampus-kampus.

Puncaknya kemudian mahasiswa dan massa rakyat menduduki Istana Negara dan sang prabu Jenderal Soeharto pun lengser dari jabatanya sebagai orang nomor 1 di republik ini.

Peristiwa itu kemudian menjadi suatu cerita yang selalu didengungkan, diceritakan, diperingati bak hari raya besar, dan dirayakan secara terus menerus sampai saat ini seperti semangat juang pemuda 1908-1920an sebagai cikal bakal momentum sumpah pemuda 28 Oktber 1928, 1966, dan generasi 1970-an hingga reformasi.

Artinya bahwa kita sebagai generasi pasca Reformasi melihat peristiwa bersejarah Mei 1998 itu dan peristiwa penting lainya. Tak mesti pada 98-nya saja atau pada kondisi dimana gerakan, perjuangan dan perlawanan itu dilakukan tapi yang terpenting ialah apa yang melatarbelakangi dan embrio perlawanan itu dilakukan. Agar penempatan dan penghormatan kita pada mereka.

Baca juga :  Ahok ; Antara Peran Engineer dan Marketer

Para pejuang-pejuang yang berkorban lebih untuk tanah air dan rakyatnya itu, tidak keliru bahkan parahnya kita salah alamat.

Dalam literatur dan buku-buku yang mengisahkan peristiwa penting nan bersejarah itu, Mei 1998 misalnya, tak sedikit yang keluar sebagai tokoh dan pahlawan. Tentu secara pribadi. Kita menghargai, mengapresiasi dan menjungjung tinggi perjuangan dan perlawanan mereka.

Atas dorongan dan gebrakan mereka jugalah kita bisa merasakan reformasi 19 tahun ini, walaupun semangat reformasi belum sepenuhnya 100 % kita rasakan. Namun yang mesti di garis bawahi, kejadian 98 ialah momentum bersejarah angkatan muda. Terdokumentasi dengan jelas bahwa kekuatan pemuda dan mahasiswa tak bisa dinafikkan sebagai bagian penting dalam kemajuan suatu bangsa.

Kita bisa lihat. Dari era pra kemerdekaan hingga reformasi, pemuda memiliki peran yang cukup penting dan andil dalam mendesain proses kemajuan dan peradaban bangsa ini. Maka memusatkan perhatian lebih dalam pengembangan karakter pemuda dan mahasiswa ialah mutlak di perlukan.

Sebagai bagian dari ihtiar untuk menjawab tantangan zaman tantangan dan semangat zaman yang ditandai dengan lajuhnya krisis multi dimensi, dari krisis ekologi, hingga sosial budaya adalah konsekwensi logis dari semangat zaman.

Baca juga :  Indonesia-Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia

Abad dimana semua berlaku dan bertindak kehendak modal. Modal ekonomi atau basis capital ekonomi yang menjadi primadona hingga mengaburkan modal sosial kita. Coba dikroscek sendiri, di mana kondisi masyarakat kita, dapat dengan mudah kita temui kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Yang miskin tambah miskin dan yang kaya tambah kaya.

Persoalanya bukan pada masyarakat kita tidak berusaha dan malas. tapi lebih dari itu, yakni penumpukan kekayaan. Kepemilikan modal secara besar-besaran dan sistem ekonomi yang kapitalistik yang berujung dan merambah pada ketidakadilan, kesenjangan dan kemiskinan dari masyarakat itu sendiri.

Logika ekonomi yang dimainkan saat ini diserahkan pada kehendak pasar dan modal. Diperparah lagi oleh pemerintah kita, DPR dan berbagai lembaga negara lainya. Yang sering juga bertindak sama seperti pemilik modal yang tidak mau rugi itu. Debat kusir soal pimpinan lembaga, soal prasarana di DPR RI, soal tunjangan gaji DPR dan lain-lain yang peruntukkannya juga bukan untuk kepentingan rakyat secara langsung.

Baca kinerja DPR RI, maka tak ada alasan bagi kita pemuda dan mahasiwa dimanapun berada untuk bermalas-malasan, diam dan membiarkan kejahatan dan ketidakadilan terus menggerogoti negrei ini.

Baca juga :  Nasionalisme Ulama Berorientasi Pasar

Sudah saatnya kita bangun dari tidur panjang kita, bersatu padu dalam bingkai dan semangat yang sama yakni; lawan, rebut dan menyelamatkan negeri ini dari tangan-tangan para penindas baru itu. Semangat muda 1908, 1928 hingga reformasi harus diputar ulang, didengungkan dan terus dinyanyikan sebagai mantra-mantra dan penyemangat perjuangan dan gerakan mahasiswa dan pemuda saat ini.

Dengan Mengasah pikiran perasaan dan watak agar kelak menjadi pemberontak sejati dan tidak bermental seperti penjajah dan penindas. Pikiran kita harus terbuka dan merdeka, perasaan harus selalu diperbiasakan agar anti pada penindasan, kemunafikan dan berpihak pada kebenaran, keadilan dan kemanusian.

Bagiku itulah mantra dan spirit yang harusnya selalu terpatri dalam gerak gerik kita sebagai anak dari semua bangsa. Bukankah cerita ummat manusia ialah cerita perjuangan untuk hidup dan membangun peradaban. Keberadaban yang didasarkan pada penghormatan yang setinggi-tingginya pada kemanusian, keadilan dan Kebenaran.

Singkatnya jika kita duduk diam dan tidak terlibat dalam perjuangan rakyat sesungguhnya kita telah menghambat proses kemajuan dan keberadaban itu sendiri. Wawlahualam.

Abdul Rais Abbas. Kabid PTKP HMI Cabang Jogja Raya.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com