Literasi

Singkirkan Bukumu, Nonton Tivi Dulu

Oleh: Sukma Putra Permana*

OPINI, EDUNEWS.ID – Tidak lama lagi akan sampai saatnya Ujian Semesteran bagi anak-anak kita yang masih bersekolah (terutama yang di Sekolah Dasar). Setelah semua jadwal ujian itu terlewati, tibalah waktunya untuk… liburan…..! Hari-hari liburan sekolah bagi anak-anak kita, adalah kesempatan mereka untuk ‘menyingkirkan sejenak’ buku-buku pelajaran. Inilah saatnya untuk istirahat pikiran dan waktu yang tepat untuk bermain serta bersenang-senang. Ada yang ‘pulang kampung’ ke tempat sanak-saudara atau kerabat. Ada yang berlibur bersama keluarga ke tempat-tempat wisata di luar kota atau di sekitar kota tempat tinggal. Ada yang menghabiskan waktu bermain video game, play station, atau online game di rumah atau di tempat-tempat persewaan. Ada pula yang sudah berencana menonton tayangan-tayangan favorit mereka di televisi yang –jauh hari sebelum liburan– sudah ditayangkan cuplikannya oleh stasiun-stasiun televisi swasta.

Agaknya, menyaksikan siaran televisi di rumah adalah pengisi waktu luang yang paling mudah, murah, dan mengasyikkan. Tapi, apakah sepanjang hari selama liburan, anak-anak kita akan terus-terusan nonton televisi? Lagipula, bukankah pada masa-masa sebelum liburan pun hampir setiap hari mereka selalu menonton televisi? Apakah semua acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi dapat memberikan hiburan sekaligus juga manfaat positif bagi anak-anak kita? Tidak adakah alternatif lain pengisi waktu liburan yang juga mudah, murah, mengasyikkan, dan sekaligus bermanfaat?

Memang tak dapat dimungkiri bahwa siaran televisi –bagi sebagian besar anggota masyarakat– telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai saat mata terjaga di waktu fajar, hingga saat mata kembali terpejam di waktu malam. Selama 24 jam nonstop berbagai acara televisi dapat disaksikan, sesuai dengan keinginan kita. Apalagi ‘kekuasaan’ untuk setiap saat dapat berpindah-pindah saluran televisi –melalui perangkat remote control– ada dalam genggaman, sehingga semakin bebas kita menikmatinya.

Baca juga :  Edukasi Kaum Buruh, TKI Hongkong Tulis Buku

Bahaya yang Mengintai
Tapi, rupanya kita belum sepenuhnya menyadari bahaya yang mengintai di balik beragam sajian acara televisi. Jika boleh bicara apa adanya, tayangan acara televisi sekarang ini sangat tidak aman bagi perkembangan anak-anak kita. Lihat saja sajian film dan sinetron yang bermuatan kisah cinta terlarang, seks bebas, pertikaian anak sekolah, intrik perebutan harta, kuasa, kekerasan, dan tak ketinggalan pula khayalan atau mistis yang jauh dari logika. Beberapa waktu yang lalu, di layar kaca kita pernah pula ada kisah-kisah berlatar religi tapi memberi kesan bahwa agama itu penuh batasan dengan sanksi azab dan siksa penuh angkara.

Turut pula memberi ‘semarak’ televisi kita, beragam acara gosip yang mengungkap rahasia pribadi orang lain dan berita kriminal yang penuh gambar kekerasan serta berdarah-darah. Patut pula diperhatikan, bahwa program berita pun seringkali lebih mengutamakan konsep infotainment yang atraktif, provokatif, dan sensasional.

Bagaimana dengan simbol-simbol yang bertuliskan ‘Bimbingan Orang Tua’, ‘Dewasa’, ‘Remaja’, ‘Anak-anak’? Berdasarkan pengalaman beberapa kalangan orang tua dan pendidik, ternyata simbol-simbol tersebut terbukti tidak efektif. Simbol-simbol seperti itu hanya membuat anak-anak menjadi penasaran, mengapa mereka tidak boleh menonton acara-acara televisi tertentu.

Tayangan televisi tidak selalu khusus untuk anak-anak. Sedangkan anak dalam perkembangannya membutuhkan tokoh panutan. Tidaklah mengherankan jika dalam menyerap perilaku tokoh-tokoh di televisi tanpa dibarengi filter yang sesuai. Perilaku tokoh idola ditiru apa adanya, tanpa sadar mana yang baik dan mana yang buruk.

Tayangan televisi juga dapat mempengaruhi perkembangan kreativitas. Anak jadi cenderung bersikap pasif, karena media televisi lebih bersifat komunikasi satu arah. Anak tinggal menerima informasi baik ataupun buruk apa adanya tanpa harus ‘mencerna’ lebih dulu. Perkembangan sosialisasi anak pun turut terganggu bila berlebihan menonton televisi. Banyak orang tua yang senang anaknya tidak keluar rumah di sore hari dengan hanya menonton televisi. Padahal, dari pengalaman bermain dengan teman sebayanya di luar rumah, anak jadi dapat belajar bersosialisasi dan mengendalikan perilakunya di masyarakat.

Baca juga :  Wahai Pemuda, Buktikan Janjimu

Terbiasa menonton televisi dapat pula mengurangi minat baca dan minat belajar. Kemampuan membaca seseorang didapat secara komprehensif. Mulai dari kemampuan mengeja huruf, memahami bahasa, menafsirkan sesuatu, hingga menyerap pengetahuan baru yang belum diketahui sebelumnya. Waktu menonton televisi 2-4 jam sehari merupakan hampir setengah waktu yang digunakan untuk belajar di sekolah. Belum terhitung lagi waktu belajar yang harus dilakukan di rumah. Dengan kadar hiburan televisi yang lebih tinggi dan menarik, tentu lebih menyenangkan daripada materi pelajaran yang serius dan tak menarik.

Jika ada demikian banyak sisi buruk yang ditampilkan, lalu untuk apa menonton televisi? Kenapa tidak kita matikan saja televisi kita? Atau singkirkan saja dari rumah kita, habis perkara! Tunggu dulu. Jangan terlalu tergesa bersikap demikian terhadap ‘kotak ajaib’ itu. Sebab, masih ada sejumlah tayangan televisi yang dapat memberi nilai positif bagi perkembangan anak-anak kita. Tinggal bagaimana kita memilih dan memilah acara-acara mana yang memberi manfaat dan tayangan apa saja yang membawa mudharat.

Rambu-rambu
Beberapa hal yang dapat menjadi rambu-rambu dalam menonton televisi bagi anak-anak —mungkin juga bagi orang dewasa– bisa kita coba terapkan. Pertama, jangan jadikan acara menonton televisi sebagai hiburan utama dalam keluarga. Sebaliknya, tanamkan kebiasaan untuk membaca bacaan yang baik sejak usia dini. Mulailah sejak anak belum dapat membaca sendiri, dengan membacakan cerita-cerita yang mengandung ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keteladanan. Ingatlah selalu bahwa ‘buku itu jendela ilmu’.
Kedua, jangan biarkan anak di bawah usia dua tahun menyaksikan siaran televisi. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP) –organisasi para dokter anak di Amerika Serikat– hanya anak berusia dua hingga tiga tahun saja yang diperbolehkan menonton televisi. Itupun hanya satu hingga dua jam sehari (http://pediatrics.aappublications.org). Dengan pembatasan tersebut, anak akan lebih banyak melakukan interaksi dengan orang tua dan lingkungan di sekitarnya.

Baca juga :  Memaknai Pemisahan Kemendikbud dan Kemenristekdikti

Ketiga, pilihlah program acara yang ‘tenang dan kalem’, sehingga ada waktu bagi anak untuk berpikir dan menyerap informasi dari tayangan tersebut. Hindarkan anak dari siaran yang agresif. Banyak aksi-aksi agresif dan serampangan juga ditunjukkan oleh film-film kartun yang akan membuat pikiran anak bingung. Jauhkan pula mereka dari tayangan menyeramkan. Pilihkan acara televisi sederhana yang menekankan pada kegiatan interaktif dan sarat dengan nilai kerjasama serta kasih sayang. Untuk anak balita, pilihlah tayangan yang mengandung lagu-lagu, tari-tarian, dan banyak menggunakan kata-kata.

Keempat, sedapat mungkin berikan penjelasan kepada anak tentang tayangan acara atau iklan yang lewat. Dorong mereka untuk bertanya apa saja, terutama yang berhubungan dengan kehidupannya sehari-hari. Beri penjelasan tentang baik atau buruknya suatu perilaku dan motivasi di balik itu. Perluas pula aktivitas menonton televisi dengan kegiatan membaca. Misalnya, dengan mencari informasi sejenis di dalam buku-buku ilmu pengetahuan.

Terakhir, teladan perilaku lebih baik daripada sekadar perintah dan larangan kita kepada anak-anak. Karenanya, jadilah teladan bagi mereka dengan memberlakukan rambu-rambu menonton yang sama kepada diri kita sendiri.
Demikianlah, semoga masa liburan dapat diisi bersama keluarga dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dibandingkan dengan hanya terpana menyaksikan keindahan ‘warna-warni semu’ layar televisi. Jangan biarkan televisi mengambil alih kendali diri kita, karena sesungguhnya kendali itu ada dalam genggaman kita sendiri. Jangan biarkan televisi ‘menyihir’ anak-anak kita dengan kalimat “Singkirkan bukumu! Nonton TiVi dulu!”

Sukma Putra Permana. Peminat puisi dan dunia literasi yang giat berproses kreatif di Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!