Opini

Sistem TV Berjaringan, Impian yang tak Kunjung Direalisasikan

Oleh : Ahsani Taqwim*

OPINI, EDUNEWS.ID – Seberapa sering kita menyaksikan daerah kita diberitakan oleh televisi swasta nasional? Berapa kali dalam seminggu kita melihat keindahan alam daerah tercinta kita diekspos oleh media Jakarta? Dari mana kita mengetahui informasi penting tentang pemerintahan daerah, penolakan kebijakan pemerintah oleh masyarakat dan lokasi wisata terbaru di daerah? Hampir sangat jarang.

Kalaupun ada, mungkin di Enrekang kita hanya akan menyaksikan seputar Latimojong yang memang menjadi salah satu gunung tertinggi di Indonesia, dangke yang menjadi makanan khas daerah dan tidak dimiliki oleh daerah lain, dan yang terbaru wisata cekkong yang sekarang menjadi objek yang sedang naik daun di kalangan mudamudi di Massenrempulu yang disebabkan salah astunya oleh sosial media instagram sebagai media sosial yang juga banyak membantu tumbuhnya lokasi wisata di daerah lain.

Menyaksikan Enrekang dibalik layar kaca beberapa tahun terakhir, jika saya boleh mengasumsikannya sebagai langganan Trans Media untuk kebutuhan syuting program acara Si Bolang, Jejak Petualang, dan beberapa liputan wisata lainnya. Bisa pula saya menyaksikan satu atau dua liputan berita Massenrempulu dari vidio yang di kirim Rudi Hartono (seorang kontributor Net TV untuk Enrekang atau mungkin Sulawesi Selatan) ke stasiun NET TV di Jakarta. Selebihnnya saya hanya menemukan di facebook atau grup whatsapp Generasi Baru Maspul (baca opini Kanda Jusrianto di edunews.id).

Baca juga :  Mengapa Ujian Nasional Perlu dan Harus ?

Pernahkan kita membayangkan daerah kita memiliki stasiun penyaiaran berjaringan yang akan meneruskan program televisi swasta nasional ke daerah sehingga kita bisa mengatur dan memiliki program acara khusus daerah. Membicarakan tentang penyiaran di Indonesia, tahun 2016 akan segera berakhir, banyak hal yang penting terjadi pada tahun ini, khusunya dalam hal penyiaran. Pertama, pada tahun ini pembahasan revisi undang-undang 32 Tahun 2002 tentang penyiaran tengah dibahas oleh Komisi I DPR yang membidangi komunikasi dan informasi.

Perjalanan panjang ini sudah dilakukaan sejak masa pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan tahun depan perencanaan pengesahan Undang-Undang tentang penyiaran kembali tersiar. Kedua, tahun ini perizinan perpanjangan izin siar telah diberikan kepada televisi penyiaran swasta nasional yang akan menyebarkan program-programnya ke seluruh daerah di Indonesia dengan kewenangan penuh dari tv swasta terebut.

Hal ini adalah salah satu peristiwa bersejarah yang hanya dilakukan selama 10 tahun sekali. Sebelum memberi izin siar langkah yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia adalah dengan melakukan uji publik Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) Lembaga Penyiaran Swasta-Induk televisi Berjaringan. Sentralisasi penyiaran menyebabkan sebagian besar penduduk tak bisa berbuat apa-apa dengan suguhan program acara dan berita-berita yang berpusat di Jakarta, bukan hal yang salah jika kita mendapatknan informasi tentang Ibu Kota, namun hal itu tidak terlalu kita butuhkan.

Baca juga :  Permintaan Maaf Ahok, Pengakuan Yang Tidak Menghentikan Proses Hukum

Mengenai pemberitaan Jessica, dan yang terakhir Ahok mungkin tak akan memberikan pengaruh pada kita yang jaraknya ribuan mil dari ibu kota Jakarta. Sehingga obrolan kita di warung kopi sebelah masjid di kampung pun seputar isu yang ada di Jakarta dan parahnya tidak jarang yang malah buta informasi akan kebijakan pemerintah daerah yang terkadang berpihak untuk masyarakat.

Frekuensi Milik Publik (yang mana)?

Membaca buku Ade Armando yang berjudul Televisi Jakarta diatas Indonesia, membuka mata saya bahwa frekuensi memang milik publik, namun hal itu masih menjadi persoalan tersendiri, mengingat Indonesia memiliki keberagaman yang sangat banyak, sehingga istilah publik Indonesia mengandung kekaburan karena itu mengasumsikan adanya sebuah publik yang tunggal atau seragam. Dengan demikian seharusnya masing-masing daerah berdaulat atas frekuensi siaran daerah. Dengan kata lain bahwa frekuensi siaran di Sulawesi Selatan seharusnya dimanfaatkan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat yang ada di Sulawesi Selatan.

Baca juga :  Melawan Macet; Belajar dari Malaysia

Ini bukan juga berarti bahwa kita akan terpisah satu daerah dengan yang lain, sebab akan selalu ada upaya dan kepentingan bersama unntuk tetap kolektif. Sentralisasi pun membuat ekonomi semua terserap ke Jakarta. Masyarakat daerah tak mendapat apaapa dari triliunan rupiah yang menyalir ke ibu kota. Pengusaha dari daerah yang ingin mengiklankan produk dan jasanya ke media televisi agar lebih dikenal hanya mengirimkan uang dalam jumlah yang tak sedikit ke Jakarta.

Politik pun begitu, dengan proses agenda setting yang dilakukan oleh media, mereka memiliki hak penuh untuk mengontrol mana yang di tayangkan dan yang tak boleh ditayangkan. Penggunaan siaran hanya dimiliki oleh sepuluh perusahaan besar di Jakarta, sehingga tidak mengherankan jika televisi Jakarta menjangkau jutaan rakyat Indonesia dan menanamkan pola hidup ala masyarakat Jakarta. Dan sepuluh industri penyiaran itu pula dimiliki oleh konglomerat dan politisi yang memiliki modal untuk mengenggam isi siaran untuk disebarkan keseluruh penjuru negeri dari pagi hingga pagi lagi, sehingga tak mengherankan pula jika anak cucu kita lebih menghafal lagu mars partai daripada lagu daerah yang iramanya menenangkan dan merindukan.

Advertisement

Impian Sistem Berjaringan

Meskipun kita mengenal TVRI pusat yang ada di Jakarta, siaran yang diterima didaerah datang dari TVRI yang beroprasi di regional. TVRI regional memang menyajikan siaran TVRI pusat selama beberapaa jam, tetapi juga menyajikan beberapa jam siaran daerah. Hampir semua provinsi memiliki stasiun TVRI regional yang bukan hanya sekedar menangkap siaran dari satelit palapa namun juga mengolah, menyaksikan, serta menambahkannya sebelum menyiarkan ke rumah-rumah penduduk dimana TVRI regional itu berada.

Seharusnya stasiun swasta pun telah melakukan hal serupa dan inilah yang di inginkan oleh pansus undangundang penyiaran, namun sampai saat ini hanya beberapa stasiun TV yang melakukannya, mayoritas lainnya bebas menjajah frekuensi publik dan menyebarkan ideologi mereka ke pelosok negeri. Jika melihat sistem penyiaran di Amerika terdapat sembilan ratus televisi lokal yang 90 persen diantaranya bergabung dengan empat stasiun televisi raksasa seperti NBC, FOX, CBS dan ABC.

Stasiun televisi lokal memiliki peran penting bagi empat stasiun besar tersebut. Sebab stasiun lokal itulah yang memiliki izin siaran disetiap daerah sehingga jika stasiun televisi raksasa tersebut ingin menjangkau ke berbagai daerah harus memiliki kontrak kerjasama dengan stasiun televisi lokal, yang nantinya akan menyiarkan program-program yang di nilai baik dan bernilai informatif bagi daerah tersebut. Disela itu program stasiun televisi lokal bisa beroperasi beberapa jam sehingga program-program televisi daerah seperti hiburan, berita lokal dan talkshow yang menghadirkan pembicara lokal untuk membahas dan mendiskusikan masalah daerah memiliki media untuk disbarkan kepada masyarakat yang akan terkena imbas langsung masalah yang dibahas dalam stasiun TV.

Ekonomi pun berputar dan mengarah ke daerah sebab stasiun pusat membayar stasiun-stasiun lokal sebagai imbalan atas kesediaan stasiun lokal tersebut mambawa program televisi sampai pada penduduk yang ada di daerah. Pengelolaan pun diserahkan kepada stasiun televisi lokal untuk menghidupi diri sendiri dengan pemasukan iklan lokal, sehingga produk-produk lokal pun akan semakin dikenal oleh masyarakat khususnya yang ada di daerah tersebut. Kemudahan mengiklankan produk akan membuat masyarakat berlomba-lomba membuat kreatifitas yang akan di perkenalkan, dan menarik minat pemilik produk untuk mengiklankan produknya di televisi lokal dan ini akan bermanfaat pada kesehatan Televisi lokal dan semakin dikenalnya produk lokal bagi masyarakat daerah tersebut.

Selama ini hasil produk barang, jasa, dan kreatifitas warga hanya dikenal melalui cerita antar warga (mulut kemulut) yang sangat terbatas. Padahal salah satu faktor yang mempengaruhi meningkatnya minat beli atau penjualan produk adalah karena dikenalnya produk barang atau jasa. Untuk dapat memperkenalkannya produk tersebut harus dikemas kedalam iklan yang kreatif serta menarik dan masifnya terpaan iklan pun akan semakin menarik minat pembelian. Sayangnya banyak produk kreatif yang diciptakan oleh masyarakat daerah hanya sampai pada pameran ulang tahun kabupaten yang juga akan hilang setelah pameran tersebut berakhir.

Ada banyak cita-cita yang dijanjikan oleh Undang-undang penyiaran baik dalam bidang politik, ekonomi dan budaya, sehingga sangat diharapkan dengan adanya revisi undang-undang akan benar-benar direalisasikannya cita-cita tersebut khusunya televisi berjaringan untuk menghidupkan ekonomi, pemahaman politik dan budaya leluhur yang mulai pudar dalam benak pengetahuan generasi muda di beberapa daerah Indonesia. Dan juga cita-cita agar masyarakat daerah tidak hanya menyaksikan gemerlap dan semrautnya ibu kota Jakarta di depan layar TV di bawah kaki gunung Latimojong seperti perkampungan yang ada di Enrekang.

 

Ahsani Taqwim, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UNDIP, Generasi Muda Masserempulu

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com