Opini

“Sontoloyo” dan Intelektualitas Jokowi

 

OPINI, EDUNEWS.ID-Kontestasi kandidat Pilpres 2019 mendatang semakin terlihat dan tidak terelakkan. Sebagai warga negara, apapun bentuk kontestasinya harus dalam koridor positif.

Kontestasi bisa berupa perang gagasan, kritik program dengan konstruktif, dan sosialisasi visi strategis membangun bangsa dimasa mendatang. Kandidat  baik capres maupun cawapres merupakan tokoh bangsa yang bakal mengemban amanah besar menentuan haluan negara bangkit atau semakin terpuruk di posisi terbelakang dimasa mendatang.

Mengamati dinamika politik perkembangan kandidat pilpres, ada hal unik sekaligus menggelikan dari salah satu kandidat yakni mengumpat dengan istilah “Politisi Sontoloyo”.

Hal tersebut tidak lain, diutarakan oleh calon presiden petahana Joko Widodo di di Lapangan Sepakbola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2018) kemarin.

Entah sadar atau setengah sadar, Ia mengucapkan kata tersebut. Tetapi sebagai seorang tokoh bangsa yang mendapat perhatian publik karena statusnya sebagai calon presiden yang bakal meminta kembali dukungan publik. Tidak ada jalan lain, seorang Joko Widodo harus merefleksi diri dan menerima konsekuensi moral bahwa dirinya telah khilaf menggunakan istilah yang kurang mendidik.

Merujuk pada KBBI, kata “sontoloyo” artinya konyol, tidak beres, bodoh. Kata “sontoloyo” adalah sebuah umpatan yang kasar, baik itu disampaikan dengan gaya pengucapan yang santai maupun keras. Jika diminta menilai dalam subjektivitas penulis, alih-alih berharap perhatian publik, istilah “sontoloyo” Jokowi justru akan berimpilikasi negatif terhadap personal branding-nya.

Reaksi publik akan umpatan tersebut, jadi tamparan keras tak hanya bagi dirinya. Akan tetapi, juga merupakan tamparan keras bagi tim intelektual dibelakang Joko Widodo. Sebatas dan sedangkal itukah kualitas intelektual yang dimiliki?

Dalam berbagai perspektif apapun, istilah “sontoloyo” Jokowi tetap memiliki terminologi yang negatif. Perspektif psikologis, dengan memahami gerak dan bahasa Jokowi memberi pesan terhadap publik bahwa pribadinya sosok yang memiliki kontrol yang lemah terhadap dirinya.

Kedua, mungkin saja sosok Jokowi tengah stress dengan berbagai persoalan yang dihadapinya sehingga tak kuasa mengendalikan diri di depan publik. Jika hal ini benar, maka sesungguhnya dugaan yang berkembang selama ini soal leadership Jokowi rendah benar adanya.

Ia terpilih sebagai presiden 2014 lalu, diluar dari faktor kualitas intelektual. Bagaimana mungkin, Joko Widodo bisa lolos menjadi pemimpin tertinggi di negara ini? Ya, boleh saja karena sebelumnya Ia belum terekam  dan teruji lebih lama untuk dibedah personalitasnya di mata publik. Mengingat, karir Jokowi dipentas nasional begitu instan. Berbeda dengan tokoh-tokoh nasional umumnya, yang teruji dan tersaring betul dengan nalar dan kritik publik.

Dibanding pesaingnya, Prabowo Subianto jauh lebih unggul dari segi intelektualitas kandidat calon presiden. Kendati demikian, faktor penentu keterpilihan banyak faktor. Setidaknya dari segi hal ini, Joko Widodo harus lebih belajar. Juga kritik bagi aktor intelektual dibelakangnnya untuk lebih jeli memberi masukan terhadap personal Jokowi. Terima kasih!

 

Asran Siara, Sekjend Literatur Institut

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!