Literasi

Surat Terbuka Untuk Bupati Bone

KEPADA YANG TERHORMAT BAPAK BUPATI BONE

(Sebagai Catatan Akhir Tahun)

Taparajaiangnga Addampeng,
Ujujung Upari Botto Ulu,
Saya junjung kemuliaanta‘ di atas kepalaku
Ri Pakka Ulaweng Ada,
Dari kata, ucapan dan tulisanku yang bercabang (menjadi perbincangan orang).

Dengan senantiasa Mabbulo Sipeppa’, Malilu Sipakainge’, Mali siparappé, Rebba Sipatokkong.

Tabé’ Puang, kesetiaan rakyat kepada pemimpinnya, sesungguhnya diukur ketika berani berkata salahki‘ jika salah dan berkata tongeng jika benar. Kritik pun demikian ini tertuang dalam kontrak sosial, perjanjian to manurung dengan para matoa Anang (filosofi kepemimpinanta’) saat Kerajaan Bone ingin didirikan, mudongirikkeng temattippakkeng, musalipurikkeng temmadinging, muase temmakkare’.

Jadi, tabé Puang. Bukan berkata benar walau salahki’, karena hanya ingin membuatki’ senang atau ingin bikinki’ jadi sorot publik seperti sebagian orang di lingkaranta’.

Demikian pula kritik saya, Puang, dan sebahagian orang selama ini adalah wujud kesetiaan kami ke kita’, Puang, sebab kami hanya berkawan dengan kebaikan. Namua ri cemméka uwwaé sitasi’…..

Tabé’ Puang, ingatki’ pappasengna tau riolota, percakapan La Méllong dengan Arungmponé.
Iyana tanra cinna maténa tana marajaé, Arumponé:
1. Linga’ Linga’é,
2. Narékko téai ripakainge’ arung mangkau’é,
3. Dé’é tomacca ri wanuaé,
4. Narékko naénréki warangparang tomabbicaraé,

Advertisement

5. Wéeddo’ pada gau’é ri lalempanua,
6. Teng namaséiwi atanna arung mangkau’é.

Artinya: Adapun tanda-tanda akan hancurnya negeri besar wahai Arumponé,
Awalnya adalah ketidakpedulian, yang kedua, jika raja penguasa tidak mau diperingati, yang ketiga, tidak ada orang pandai dalam negeri, yang keempat, jika hakim menerima suap, yang kelima banyak kerusakan dalam negeri, yang keenam, raja penguasa tidak mengasihi rakyatnya.

Tabé, saya dan kami bersamata’, Puang.
Puang, ancajiki’ pangulu (pemimpin) seperti orang tuata’ dulu menitipkan kawali yang filosofinya melihat bentuk pangulu yang membungkuk (rekko’) “kaléna” seorang pemimpin haruslah merunduk kepada kebaikan, membungkuk kepada kebenaran sebagai simbolisasi dari sikap menghargai dan menghormati hak-hak orang lain, peduli dan mendengarkan saran dan masukan, karena pemegang pangulu adalah rakyat, karena pemegang kedaulatan adalah rakyat.

Tabé’ Puang, kami sedih, messi babuaku, élo mitti uwwaé matakku, dari lubuk hati yang paling dalam maafkan kami.

Taparajaiangnga addampeng
Massimanna.

Atanna Tana Bone
Andi Singkeru Rukka
BTP Makassar, 26/12/2016

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com