Opini

Terbenamnya Mimbar Akademik Kampus Biru Brawijaya

Oleh : Nabil Lintang Pamungkas*

OPINI, EDUNEWS.ID – Kebebasan akademis merupakan suatu perangkat yang harus dijaga utuh kelestariannya dalam dunia pendidikan khususnya Perguruan Tinggi. Dengan adanya kebebasan akademis, diharapkan civitas akademik baik dosen maupun mahasiswa dapat menciptakan iklim kampus yang kritis, dinamis dan mampu menghasilkan problem solution di zaman yang penuh kompleksitas ini.

Tetapi, jalannya kebebasan akademis tidak semulus layaknya sirkuit motor dan F1. Sudah begitu banyak permasalahan-permasalahan di daerah kampus yang itu kaitannya dengan kebebasan berpendapat. Yang itu terjadi pada kampus saya tercinta, FISIP Brawijaya. FISIP UB kembali berulah, dengan dikeluarkannya surat keberatan yang itu dengan menindaklanjuti kebijakan pembatalan sepihak oleh rektorat terhadap kegiatan bedah buku “Salju di Aleppo” karya Dr Dina Y Sulaeman yang diadakan oleh pihak Laboraturium Hubungan Internasional FISIP UB.

Alasan utamanya terfokus pada si penulis buku tersebut yang dianggap pemikirannya yang beraliran sesat dengan embel-embel Syi’ah dan juga isi buku itu yang dianggap sesat karena manifestasi dari pemikirannya. Anehnya, surat tersebut dikeluarkan oleh salah satu ormas Islam ‘garis keras’ yang beroperasi di daerah Malang. Ormas tersebut mempunyai nama Jama’ah Ansharusy Syari’ah Mudiriyah.

Pertanyaannya, kenapa ormas Islam tersebut mempunyai kuasa terhadap pembatalan forum diskusi, yang mana acaranya berada dalam lingkup kampus? Saya hanya ingin memberikan dua asumsi pribadi terkait pembatalan kegiatan bedah buku; Pertama, sentimen negatif yang selalu muncul terhadap aliran-aliran yang dianggap sesat oleh yang kita anggap islam radikal untuk hari ini.

Baca juga :  Saatnya Pendidikan Keperawatan Kembali Berbenah Diri

Dengan adanya penyebaran Syi’ah-phobia yang mengakar luas hinggah nasional dan internasional mengakibatkan ormas Islam tersebut dengan tanggap mengeluarkan surat keberatan dengan menembus pihak kepolisian. Hal itu agar mendapatkan legitimasi jika terjadi chaos dan mendesak, mengintervensi pihak rektorat UB agar kegiatan tersebut dibubarkan. Dengan kata lain pihak rektorat tunduk kepada ormas-ormas yang hari ini sikapnya sebagai sikap yang sangat intoleran.

Pihak dekanat FISIP UB pun mengamini dengan keputusan rektorat yang sepihak, artinya dekanat FISIP UB tidak mempunyai kuasa atas fakultasnya sendiri. Jika melihat langkah dari dekanat FISIP UB pun disini bermain aman layaknya rektorat, alasan yang paling logis menurut saya adalah ketakutan akan terpotongnya dana pagu FISIP UB untuk tahun ajaran baru.

Kedua, pihak rektorat UB yang menjadi dalang dalam kasus pembatalan dengan dalih adanya pihak yang keberatan jika kegiatan tersebut diselenggarakan. Rektorat UB seakan-akan ‘cuci tangan’ terhadap permasalahan yang terjadi, pihak rektorat ingin terlihat bersih dimata mahasiswa, karena mahasiswa selalu memberi kecaman jika rektorat mencederai kebebasan akademis.

Patut diperhitungkan bahwa birokrat kampus mempunyai kewenangan dan otonomi sendiri terhadap forum yang sifatnya akademis dan sudah menjadi barang pasti dilindungi oleh Tri Dharma Perguruan Tinggi. Artinya didalam poin ini, rektorat UB menjadikan ormas islam tersebut sebagai tameng rektorat itu sendiri agar tidak terjadi sentimen buruk terhadapnya.

Baca juga :  Universitas Brawijaya Tempati Posisi Lima Kampus Terbaik

Kebebasan akademis kini dipenggal, dikekang, dipenjara hidup-hidup oleh para birokrat kampus itu sendiri agar menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang tumpul akan kekritisannya dan mereka penguasa bisa berkeliaran bebas tanpa kontrol mahasiswa. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang sangat jauh dari yang namanya mencerdaskan bangsa. Sistem pendidikan hari ini membuat para civitas akademik baik dosen dan mahasiswa hanya menjadi buruh akademis saja.

Menurut Max Horkheimer, ilmu pengetahuan di era modern diciptakan hanya sebagai “rasio-instrumental” bersifat netral dan tidak memihak satu sama lain, dengan ke-netralannya maka ilmu pengetahuan hanya menjadi alat bagi penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Yang dimaksud Horkheimer adalah ilmu pengetahuan sekarang tidak diciptakan untuk memihak kepada orang yang tertindas, ilmu pengetahuan bersifat netral yang dimaksud ilmu pengetahuan hanya untuk ilmu pengetahuan tetapi tidak untuk masyarakat.

Maka ilmu pengetahuan dengan ke-netralannya terhadap apapun dan dengannya berpotensi untuk menjadi alat bagi penguasa. Kejadian di Aleppo sekarang menjadi refleksi diri bagi kita semua, bagaimana sifat intoleran dan ketidakmanusiawian masih terjadi di dunia ini. Ribuan manusia terbunuh sia-sia tanpa ada sisa sedikitpun, para perempuan diperkosa layaknya budak, anak-anak tak berdosa pun menjadi korbannya. Peperangan ini pun terdapat pro-kontra dari berbagai pihak baik ormas islam yang berada di Indonesia.

Baca juga :  Kita Satu, Kita Kuat

Dan jika terus terjadi perang disana-sini, maka dunia ini akan jauh dari kata damai, aman apalagi sejahtera. Seyogyanya kita harus melihat sinyal positif dari kegiatan yang diadakan Laboratoriu, HI FISIP UB, bukan sentimen negatif akan label Syi’ah yang selalu dianggap sesat. Kegiatan tersebut sebagai langkah awal kita para civitas akademik yang mampu memahami penderitaan saudara kita dan kegiatan ini juga, sebagai simbol dukungan kepada saudara-saudara kita yang jauh disana, terlepas dari status aliran maupun agama tertentu.

Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Saudaramu yang bukan seiman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan” Semoga kampus kedepannya mampu memberikan ruang terbuka bagi mahasiswa khususnya kebebasan akademis yang hari ini selalu tersendat dan terkendala di setiap institusi pendidikan. Kebebasan akademis ialah spirit paling utama didalam kampus, dengan adanya kebebasan mimbar akademik maka kampus akan mampu mencetak mahasiswa yang kritis, progresif, dinamis, dan inovatif. Juga teruntuk rektorat UB dengan adanya kasus ini mampu berfikir ulang dalam mengambil keputusan secara bijak untuk kemajuan kampus biru kita tercinta, Brawijaya.

Nabil Lintang Pamungkas, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Brawijaya

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com