Opini

Tergerusnya Surplus Konsumen

Oleh: Tawaf T. Irawan*

OPINI, EDUNEWS.ID-Salah satu permasalahan perekonomian di masyarakat yang masih kurang menjadi perhatian adalah persoalan surplus ekonomi. Dua pihak yang biasa menikmati suplus ekonomi adalah produsen dan konsumen. Dalam literatur ekonomi, pusat perhatian diberikan pada soal keseimbangan dan proporsionalitas. Inilah sekarang yang menjadi permasalahan, soal proporsionalitas perolehan surplus ekonomi yang dinikmati produsen dan konsumen.

Perekonomian pasar saat ini, terutama yang dianut oleh negara kita, telah memberikan celah cukup lebar soal surplus ekonomi ini. Artinya, jika soal surplus ekonomi ini tidak teratasi dengan baik, maka yang terjadi adalah masalah susulan yaitu ketimpangan ekonomi akibat surplus ekonomi tidak terbagi secara proporsional. Sumbernya mudah dilacak yaitu dari proses pembentukan harga.

Proses pembentukan harga yang terjadi saat ini bukanlah bersumber dari realitas pasar yang bersaing, tetapi pasar yang berstuktur oligopolistik. Hal ini misalnya dapat dilihat pada pembentukan harga di pasar otomotif dan pasar properti. Di kedua pasar ini, harga-harga yang tercipta seringkali mengejutkan konsumen. Kenaikan harga-harga produk di kedua pasar ini boleh dikatakan kurang rasional. Namun yang menarik, meskipun harga yang tercipta kurang rasional, konsumen tetap bersikeras untuk membelinya.

Dilihat secara teoritik, permintaan atas suatu barang atau jasa dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti harga barang itu sendiri, harga barang lain, pendapatan per kapita, selera dan gaya hidup (life style) (Rahardja dan Manurung, 1999). Nah, dalam kasus pasar otomotif dan properti bisa diduga permintaan konsumen lebih banyak dipengaruhi oleh faktor selera dan gaya hidup. Konsumen kedua produk pasar ini tanpa disadari sebenarnya juga telah turut menciptakan pembentukan harga yang kurang rasional (irrational price). Dalam beberapa literatur ekonomi, perilaku konsumen dalam melakukan permintaan suatu barang terkadang bertolak belakang dengan teorinya (exception). Perilaku komsumen seperti inilah yang sering ditangkap oleh produsen sebagai sinyal yang baik (opportunity).

Baca juga :  Pada Guru Kita Titipkan Masa Depan Anak Bangsa

Pembentukan harga kedua produk diatas makin tidak rasional ketika proses pemilikannya tidak berdasarkan pembelian cash, tetapi kredit. Unsur sumber dana pembiayaan dan suku bunga ditambah dengan tenor pembayaran telah menjadi beban tersendiri bagi konsumen. Apalagi harga uang (cost of funds) yang bersumber dari lembaga keuangan saat ini bisa terbilang cukup mahal. Suku bunga pinjaman perbankan di Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan suku bunga perbankan negara-negara tetangga. Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Filiphina sudah menerapkan suku bunga kredit 1 digit, sementara Indonesia masih 2 digit.

Tergerus

Dengan corak pembentukan harga yang irrational, ditambah perilaku konsumen di kedua pasar diatas yang cenderung didorong oleh selera dan gaya hidup, maka tanpa disadari konsumen (end user) sebenarnya sedang tergerus surplusnya oleh produsen. Surplus konsumen makin lama akan kian menipis. Belum lagi konsumen melakukan hal yang sama di pasar lainnya seperti pasar elektronik, yang pada umumnya basis perolehan produknya melalui  kartu kredit atau pun leasing, maka dipastikan surplus konsumen makin tergerus.

Baca juga :  Membangun Jiwa Dengan Puasa

Kalangan masyarakat yang paling terasa dampak dari penggerusan surplus ini adalah mereka yang tergolong masyarakat kelas menangah dan berpendapatan tetap (fixed middle income community). Kelompok masyarakat ini adalah mereka yang miliki pendapatan lebih dari US$ 3,900 per tahun (Bhalla, 2009), atau  pengeluarannya US$ 6 – US$ 10 per kapita per hari (Banerjee  &  Duflo, 2008). Jumlah kelas menengah di Indonsia kurang lebih 20% dari seluruh penduduk Indonesia.

Sementara masyarakat berpendapatan rendah (low income), khususnya mereka yang berhubungan dengan pasar properti, umumnya masih aman dari penggerusan surplus  konsumen, karena proses perolehan propertinya pada umumnya mendapatkan subsidi dari pemerintah. Jumlah masyarakat low income ini kurang lebih 40% dari jumlah total penduduk Indonesia. Sementara masyarakat kalangan atas relatif minimal terkena penggerusan surplus konsumen ini, karena pola perolehan produknya umumnya dilakukan secara cash.

Kelas menengah mestinya sudah mulai merubah karateristik permintaannya, yaitu tidak lagi karena dorongan selera dan gaya hidup, tapi karena daya beli. Gaya hidup yang konsumtif dan berbasis hutang mestinya sudah mulai dikurangi secara perlahan jika surplus ekonominya tidak ingin tergerus habis bahkan negatif.  Karena kelas menengah ini masih memiliki kebutuhan kedepan dan perlu berinvestasi demi jaminan keberlangsungan hidupnya kedepan. Kelas menengah ini merupakan pilar ekonomi suatu bangsa. Pengalaman di beberapa negara maju, jika perekonomian kelas menengah ini terguncang maka akan berkonflik dengan kelas ekonomi dibawahnya untuk berebut sumber daya.

Baca juga :  Kurangnya Perhatian Pihak Universitas Atas Rokok

Surpus konsumen bisa membaik jika struktur pasar, khususnya di pasar otomotif dan properti dilakukan dekonsentrasi, yaitu dengan cara menambah pelaku usaha dan mengurangi penguasaan industri baik yang terintegrasi secara vertikal maupun horizontal. Selain itu, pembentukan harga uang (cost of money) perlu ditekan sehingga dapat bersaing dengan negara-negara tetangga. Tingginya suku bunga menjadi beban sektor industri dan berujung ke end user. Undang-undang persaingan usaha perlu dilakukan revisi secepatnya, dengan semangat melindungi konsumen.  Karena undang-undang persaingan yang ada sekarang masih belum jelas apakah melindungi persiangan ataukah melindungi konsumen.

 

Oleh: Tawaf T. Irawan. Mahasiswa Program PhD Universiti Utara Malaysia (UUM)

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!