Opini

There is No Free Change ; Menilik Demokrasi, Konflik dan Kekacauan Saat Ini

Ikhsan Kurnia

Ikhsan Kurnia*

OPINI, EDUNEWS.ID – Demokrasi sesungguhnya memiliki karakter fleksibel seumpama sebuah karet. Di saat tertentu ia ditarik ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah, namun pada akhirnya akan kembali dalam bentuknya yang proper, yang cenderung berada di tengah-tengah. Naturally, suka ataupun tidak suka, sifat demokrasi demikianlah adanya. Selama fondasi demokrasi di sebuah bangsa lebih kuat dari faktor-faktor pengubahnya, maka ia akan tetap kembali kepada proper position. Kecuali, jika “karet” demokrasi ditarik terlampau kuat, tidak mustahil ia akan robek dan tergantikan dengan sistem lainnya, yang diatur oleh kekuatan pengubah tersebut. Tentu, ini bukan perkara baik-buruk atau benar-salah.

Akhir-akhir ini, bangsa kita sedang menguji sejauh mana kekuatan dari “karet” demokrasi yang selama hampir dua dekade ini dibangun. Konflik sosial dan politik berfusi dalam satu tarikan momentum dengan skala yang relatif besar. Konon, ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern bangsa ini. Dimana pemerintah (government) dan masyarakat sipil (civil society) berada dalam posisi konflik diametral. Tarik-menarik antar keduanya cukup keras, namun frekuensi dan amplitudonya fluktuatif. Apakah konflik ini dapat bermigrasi menjadi kekacauan (chaotic) yang berujung pada tumbangnya fondasi demokrasi di negara ini?

Baca juga :  Konflik di Kawasan Teluk, Indonesia Diharapkan Proaktif Mediasi

Kondisi chaotic dapat terjadi jika manajemen konflik tidak berfungsi dengan efektif. Konflik yang berlarut-larut dengan volume yang semakin membesar dan melebar akan mengeraskan sikap dan perilaku perlawanan. Di titik tertentu, kekacauan dapat terjadi. Masyarakat sipil dapat menjadi apa yang dinamakan dengan civil disobedience, dimana mereka sudah tidak percaya dan patuh lagi terhadap pemerintahannya. Demikian pula, jika pemerintah mengambil sikap dan cara yang kaku tanpa pendekatan psikologi kolektif yang efektif, hasilnya dapat kontra-produktif.

Hingga hari ini, agaknya kelompok masyarakat sipil tersebut baru berada dalam tahap masyarakat yang kecewa (disappointed society) terhadap ketidakadilan yang diperlihatkan oleh pemerintah. Mereka masih bergerak dan bertindak sesuai dengan aturan main dalam konteks negara demokrasi. Aspirasi dan tuntutan mereka masih dilakukan sesuai dengan koridor yang berlaku. Dalam aksi demonstrasi, masyarakat sipil dan pemerintah masih dapat duduk dan berdzikir bersama.

Baca juga :  Inspektur Utama DPR : Jangan Menilai dari Pemberitaan

Dalam demokrasi, jika ada sedikit ketegangan dan tindakan-tindakan kekerasan di luar hukum, yang dilakukan oleh grass-root, maka itu hanyalah pernak-pernik demokrasi yang memang tidak diharapkan terjadi, namun tidak dapat dihindari sebagai sebuah fakta empiris. Dalam prakteknya demokrasi tidak selalu nir-kekerasan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kekerasan itu dilakukan oleh negara, atau oknum tertentu yang memiliki kekuasaan. Namun selama kekerasan dan tindakan-tindakan ekstrem yang ada masih dapat dikendalikan oleh penegakan hukum yang adil, maka sebuah konflik tidak akan berubah menjadi chaos.

Konflik diametral antar dua kubu yang masing-masing merepresentasikan sebuah pranata besar dalam kehidupan bernegara memang bukan perkara ringan. Jika tidak terkelola dengan baik, ia dapat memicu revolusi sosial. Tidak dapat dibayangkan total cost yang akan dikeluarkan jika hal itu terjadi. Namun dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa, bukankah there is no free change (tidak ada perubahan yang gratis)? Oleh karena itu, peristiwa yang terjadi saat ini harus dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk mawas dan mengevaluasi dirinya. Jika tidak, maka kehendak eksternal akan mendorong pemerintah agar mau mengubah dirinya, meski dengan sedikit paksaan.

Baca juga :  Opu Galla; Pewaris Muda Panrita Lopi Di Bulukumba

Ikhsan KurniaPengamat Sosial-Politik

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!