Opini

Umar bin Khattab, Jokowi dan Pilpres

 

 

 

Oleh : Hasruddin Jaya*

OPINI, EDUNEWS.ID – Pernyataan Ketua DPP PDIP Bidang Kemaritiman, Rokhmin Dahuri yang mengumpamakan gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) seperti Umar bin Khattab dengan alasan kedekatan Jokowi terhadap rakyat adalah suatu ungkapan yang berlebihan dan mengada-ngada.

Perumpamaan tersebut disampaikan Ketua DPP PDIP Bidang Kemaritiman Rokhmin saat dimintai tanggapan soal #2019GantiPresiden di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan pada Minggu, 08 April 2018. (Baca Detik.Com, Ketua PDIP: Jokowi Seperti Umar Bin Khattab, Dekat Dengan Rakyat).

Menurut penulis, kedekatan Jokowi dengan rakyat dalam memimpin sangat jauh dengan kedekatan Umar Bin Khattab saat menjadi Khaliffah kala itu. Walaupun Jokowi sering melakukan blusukan kesana kemari ditempat kumuh dan membagikan hadiah, tetapi sikap tersebut terkesan pencitraan dan tidak mampu menjawab persoalan yang dihadapi oleh rakyat dan negara.

Berbeda dengan blusukan yang dilakukan Umar Bin Khattab saat wilayah yang dipimpinnya mengalami peceklik panjang yang disebut dengan tahun Abu. Setiap hari Umar Bin Khattab memerintahkan aparatnya untuk menyembelih onta dan membagikannya kepada rakyatnya.
Ia pun menabukan makan daging, minyak samin, dan susu untuk perutnya sendiri. Hal ini dilakukan untuk memastikan makanan tersebut diberikan kepada rakyatnya. Umar Bin Khattan hanya makan sedikit roti dengan minyak zaitun.

Blusukan yang dilakukan Umar Bin Khattab selain untuk mengetahui kehidupan rakyatnya, ia juga ingin memastikan jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya. Dan benar, waktu blusukan di perkampungan kecil wilayah Madinah.

Umar menemukan tenda lusuh ditengah-tengah gurun tandus. Didalam tenda tersebut terdapat seorang anak yang sedang merintih dan menangis kelaparan, bersama sang ibu yang sedang mengaduk aduk masakan. Dan ternyata yang dimasaknya adalah batu.

Ia lakukan semata mata untuk menyenangkan hati anaknya. Sebab sejak pagi, ia dan anaknya belum makan apa apa. Sehingga ia pun menyuruh anaknya untuk berpuasa dengan harapan ketika waktu berbuka mereka akan mendapat rejeki. Namun tetnyata tidak.

Anak tersebut terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Batu batu kecil dikumpul, dan dimasukkan ke dalam panci yang diisi air. Semua itu dilakukan untuk membohongi sang anak dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Tapi ternyata tidak, mungkin karena lapar sehingga sebentar sebentar anak tersebut bangun dan menangis minta makan. Lalu bagaimana perasaan Umar Bin Khattab setelah menyaksikan pemandangan itu?

Hati Umar Bin Khattab tersayat-sayat melihat dan mendengar penjelasan sang ibu. Dengan air mata berlinang, Umar Bin Khattab cepat cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat, ia segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada ibu dan anak yang sengsara itu. Lalu ia memasaknya dan mengajak keluarga miskin tersebut untuk makan. Semua habis, ia pun berpamitan dengan mengundang sang ibu untuk menemui amirul mukminin diesok hari.

Pertemuan sang ibu dengan amirul mukminin itu cukup mengharukan, ibu tersebet sontak terkaget ketika mengetahui amirul mukminin itu adalah orang yang telah memberi ia makan dengan anaknya. Ia pun meminta maaf karena telah berkata kasar dan kurang elok dengan menyumpahi amirul mukminin tersebut. Apakah Umar Bin Khattab marah karena telah disumpahi.?

Tidak.! Umur Bin Khattab justru kembali meminta maaf kepada sang ibu dan mengaku berdosa telah membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaannya. Bagaimana aku mempertanggung jawabkan ini di hadapan Allah, kurang lebih begitu kata Umar Bin Khattab sambil terus meminta maaf kepada sang ibu.

Lalu bagaimana dengan gaya kepemimpinan Jokowi yang diumpamakan sama dengan gaya kepemimpinan Umar Bin Khattab oleh Ketua DPP PDIP Bidang Kemaritiman? Pernahkah Jokowi selama menjabat sebagai pemimpin negara ini melakukan hal serupa seperti Kaliffah Umar Bin Khattab? Saya kira tidak.

Dan sangat keliru bila mengumpamakan gaya kepemimpinan Jokowi sama seperti gaya kepemimpinan Umar Bin Khattab.
Satu contoh kecil, disaat isu gizi buruk di Asmat Papua yang menghiasi pemberitaan media beberapa waktu lalu yang hingga kini mungkin persoal itu masih berlanjut, pernakah Jokowi secara langsung turun di Asmat untuk merasakan dan menyaksikan kondisi yang terjadi?

Selain itu masih banyak persoalan yang dihadapi oleh rakyat dan luput dari perhatian Jokowi. Lalu patutkah kita menyamakan gaya kepemimpinan Umar Bin Khattab dengan Jokowi hanya karena blusukan kemana kemana yang tidak jelas arahnya tersebut?

Bagi saya, ungkapan tersebut telalu berlebihan dan tidak berdasar. Sebab kharisma Umar Bin Khattab disaat menjafi Khaliffah dengan kharisma Jokowi dimata rakyat sangat jauh berbeda, dan tidak patut disamakan. Saya menduga ungkapan yang menyamakan gaya kepemimpinan Jokowi dengan Umar Bin Khattab tersebut adalah sebuah kekhawatiran yang diakibatkan oleh kurangnya kepercayaan umat Islam terhadap gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Jokowi saat ini.

Sehingga kemudian dimunculkan opini bahwa gaya kepemimpinan Jokowi sama dengan gaya kepemimpinan Umar Bin Khattab dengan tujuan untuk menarik simpati umat Islam menjelang Pilpres 2019. Sebab Umar Bin Khattab adalah salah satu sahabat Rasulullah Muhammad SAW, yang dijadikan tauladan dan panutan oleh umat Islam.

Hasruddin Jaya, Ketua Komisi Komunikasi, Media dan Informasi PB HMI (MPO)

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!