Literasi

Rasullah dan Batas Kesabaran

 

 

Oleh : Dian Rahmanaputri*

Memetik Hikmah

Adakah Batas Kesabaran : Rasulullah dan Pengemis Buta

Pada zaman kepemimpinan Rasulullah salallahualaihiwasallam,kota Madinah menjadi tempat yang sangat ramai oleh penduduk dan pedagang yang datang dari berbagai tempat. Orang-orang muslim hidup dengan damai dan berjual beli dipasar dengan penuh kejujuran.

Sementara disalah satu sudut pasar kota Madinah hiduplah seorang pengemis yahudi buta yang setiap harinya suka mengoceh sendiri mengenai keburukan dan mendustakan Rasulullah Muhammad salallahualaihiwasallam “Semua manusia sangat bodoh,adakah seorang anak yatim diangkat menjadi Rasul? Bisa-bisanya manusia itu ditipu oleh muhammad. Apakah orang-orang tidak tahu bahwa muhammad itu seorang pesihir yang menipu dengan perkataannya,haus akan kekuasaan sungguh sangat kurangajar,” ujar Pengemis buta.

Perkataan pengemis buta itu kemudian di dengar oleh sahabat rasulullah bernama sahid yang begitu marah mendengar perkataan pengemis yahudi buta. Sebelum menghampiri pengemis buta itu tiba-tiba Rasulullah Muhammad salallahualaihiwasallam menghampiri pengemis yahudi buta dengan memberikan dinar emas.

“Lihat itu,kenapa Rasulullah Muhammad salallahualaihiwasallam memberi pengemis tidak tahu diri itu dinar emas?” kata Sahid heran.

“Hey siapa engkau tuan? Engkau sangat pemurah sekali,belum pernah seumur hidupku ada seseorang yang memberikanku dinar emas. Marilah duduk bersamaku sebentar akan kuceritakan sebuah kebohongan besar yang terjadi di kota ini,” kata pengemis buta kepada Rasulullah.

Pengemis buta itu tidak tahu bahwa yang memberikannya dinar emas adalah orang yang selalu ia bicarakan keburukannya.sementara dari tempat lain dipasar sahid dan rekannya memperhatikan pengemis buta itu,kemudian salah satu diantaranya mulai marah dan ingin menghampiri pengemis buta.

“Sungguh gila pengemis buta itu,apa dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?” ujar rekan Sahid.

Baca juga :  Mantan dan Tuhan

Sambil menahan saudaranya Sahid berkata “Sabar saudaraku,janganlah engkau bertindak melebihi Rasulullah Muhammad salallahualaihiwasallam,” Akhirnya Sahid dan rekannya mampu menahan diri dan hanya melihat Rasullullah dan pengemis buta tersebut.

Rasulullah kemudian memberikan makanan dan menyuapi pengemis buta itu dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. “Belum pernah aku makan seenak ini,bertemu dengan orang yang memperlakukanku sebaik ini.Terima kasih tuan,” kata pengemis buta.

Demikianlah sejak saat itu Rasulullah Muhammad salallahualaihiwasallam selalu mendatangi pengemis buta itu. “Andai Muhammad sebaik ini niscaya aku akan menjadi pengikutnya,” kata pengemis buta kembali.

Pengemis Yahudi buta tidak tahu sama sekali bahwa yang selalu membawakannya makanan dan menyuapinya adalah Rasulullah sebab Rasulullah Muhammad salallahualaihiwasallam tidak pernah menceritakan tentang siapa beliau sebenarnya ke pengemis buta.

Rasulullah Muhammad salallahualaihiwasallam juga tidak pernah marah karena selalu dihina oleh pengemis buta,beliau senantiasa bersabar meskipun dihina,bersikap lemah lembut kepada pengemis itu. hingga Rasulullah Muhammad salallahualaihiwasallam pun wafat.

Beberapa hari setelah wafatnya Rasulullah, salah satu sahabat nabi yaitu Abu bakar as siddiq menemui aisyah seraya berkata “Anakku,aku hendak bertanya adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan ?”.

“Wahai ayah,engkau adalah sahabat rasulullah yang paling dekat tidak ada kebiasaan nabi yang belum pernah engkau lakukan kecuali satu yaitu setiap pagi dikala Rasulullah melewati pasar beliau menyempatkan diri menyuapi seorang pengemis yahudi buta yang ada disana,” kata Aisyah.

Abu bakar As siddiq kemudian berangkat ke pasar dan mencari pengemis buta itu. “Dimana engkau sahabatku sudah berapa hari engkau tidak datang, sudah tidak ada lagi yang menyuapiku makan,” kata pengemis Yahudi buta kembali berbicara sendiri.

Baca juga :  Harga Mati: Papua Tetap Indonesia

Mendengar perkataan itu Abu bakar As siddiq sahabat rasulullah segera menghampiri sang pengemis buta tepat dihadapannya seraya berkata dalam hati “Mungkin itu orangnya,”

Mendengar suara seseorang berhenti dihadapannya,pengemis buta kembali berkata “Engkaukah itu wahai sahabatku? Sudah beberapa hari engkau tidak datang,duduklah. Mana makanan untukku? Aku sudah lapar.cepat cepat”.

Abu bakar tidak menjawab pertanyaan pengemis buta itu,segera ia menyuap pengemis buta yang sudah lapar. Si pengemis buta kembali bertanya “Apakah engkau tahu tidak kabar tentang Muhammad si pendusta itu? aku dengar pengaruhnya semakin luas entah sihir apa yang ia gunakan. Bisa-bisanya ia mengaku rasul memangnya siapa dia”.

Mendengar ocenhan pengemis Yahudi buta itu, Abu bakar sahabat Rasulullah menjadi marah dan sangat geram. Beliau kemudian menyuapi si pengemis buta dengan kasar.

“Hei engkau kasar sekali,kurasa engkau bukan sahabatku kau adalah orang yang berbeda,siapa engkau sebenarnya ?.” tanya pengemis buta. “Aku orang yang biasa memberikanmu makanan.” Jawab abu bakar. “Bohong,engkau bukan orang yang biasa menyuapiku.” Kata si pengemis buta. “Kenapa ?” Abu bakar bertanya.

“Engkau berbeda,orang yang selalu mendatangiku selalu menyapaku dengan lemah lembut,ia juga menanyakan kabarku,membesarkan jiwaku,menyuapiku dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Belum pernah aku temui orang yang memperlakukanku sebaik itu,pantasnya dialah yang menjadi seorang Rasul,” jawab pengemis buta
“Engkau benar bapak, aku memang bukan dia,” kata Abu bakar.

Si pengemis buta itu kaget “Lalu siapa engkau?” “Aku adalah salah seorang sahabatnya, namaku Abu bakar. “Lalu kemana sahabatku yang selalu datang itu?” kata si pengemis buta. “Orang yang engkau maksud sudah meninggal dua hari yang lalu,” kata abu bakar dengan jelas.

Baca juga :  Khilafah, Roma, dan Imam Mahdi

Mendengar perkataan Abu bakar tersebut, si pengemis buta kaget dan merasa terpukul,tongkatnya jatuh dan ia menangis terseduh seduh seraya berkata “Mengapa orang sebaik itu meninggal padahal aku belum sempat membalas kebaikannya,dia adalah orang yang paling terbaik yang pernah aku temui dimuka bumi ini bahkan melebihi saudara-saudaraku sendiri. Namanyapun aku tidak tahu,” Sambil terus menangis
“Bapak,maukah aku beri tahu siapa orang itu sebenarnya?” kata Abu Bakar kembali
“Siapa dia ?,” tanya si pengemis buta yang masih menangis.

“Dialah Rasulullah Muhammad salallahualaihiwasallam,” jawab Abu bakar dengan lantang
“Hah? Dia adalah Muhammad? Benarkah apa yang engkau katakan?,” Si pengemis buta semakin terisak, menangis menyesali perbuatannya menghina dan mendustakan Rasulullah dihadapan Rasulullah sendiri sambil memeluk Abu bakar.

Akhirnya Pengemis Yahudi buta itu berdoa memohon ampun pada Allah dan saat itu juga dia memeluk Islam. Sungguh Allah Maha besar.

Hikmah : Kita sebagai manusia harus senantiasa berbuat kebaikan dan bersabar
Bersikap lemah lembut meskipun itu adalah orang membenci kita
Meskipun ada sebagian orang yang merasa kesal jika dihina akan tetapi justru disitulah ujianNya, Allah tidak akan menyia-nyiakan kesabaran seseorang
Ketahuilah bahwa tidak ada batas kesabaran bahkan Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar dan Allah sangat menyayanginya.”

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!