Literasi

Traveling Cendikia; Jalan Panjang Tan Malaka

 

Oleh : Abdul Malik Raharusun, M.Pd

LITERASI, EDUNEWS.ID – Hari Jumat 23 Desember 2016 lalu bersama Bundo Dona dan Cendikia kami bertiga kembali melanjutkan sebuah perjalanan panjang mengunjungi jejak sejarah Rumah masa kecil Tan Malaka. Masih dengan motor tua, Jum’at pagi jam 09.10 WIB kami menerobos udara dingin Bukittinggi menuju rumah Tan Malaka. Rumah Tan Malaka beralamat di Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, Suliki, Kabupaten Limapuluh Koto.

Ini perjalanan panjang Bukittinggi menuju pusat Kota Payakumbuh setidaknya 40 kilometer kami lewati. Menelusuri rumah Tan Malaka sesungguhnya tidaklah terlalu sulit. Dari pusat Kota Payakumbuh kami mengikuti Jalan Tan Malaka salah satu jalan utama Kota Payakumbuh. Jalan Tan Malaka adalah jalan terpanjang di Sumatera Barat sejauh 48 kilometer dari pusat Kota Payakumbuh hingga ke Kampung Suliki, Kabupaten Limahpuluh Koto.

Dari pusat Kota Payakumbuh, perlu bersabar sembari menikmati menyusuri Jalan Tan Malaka. Jalan yang semula dua jalur kemudian akan menyempit hanya dapat dilewati dua mobil. Perjalanan masih panjang sampai jalanan hanya dapat dilewati satu mobil. Jika terdapat dua mobil pada arah yang berlawanan maka salah satunya harus mengalah menepi entah di sudut tebing atau sawah penduduk. Jalan Tan Malaka belum juga berujung, perjalanan akan menaiki gunung, berkelok-kelok dengan pemandangan serba hijau di Kecamatan Gunung Omeh di Suliki pada sudut kampung Jalan Tan Malaka benar mengarahkan perjalanan ke rumah masa kecil Tan Malaka.

Pemerintah Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limahpuluh Kota memang sengaja mendesain Jalan Tan Malaka yang dari pusat Kota Payakumbuh dan berujung di Koto Tinggi melewati Rumah Tan Malaka dengan begitu akan mempermudah pengunjung. Perjalanan ini harus dinikmati. Sebelum mencapai Rumah Tan Malaka pengunjung dapat mampir dibeberapa destinasi wisata yang juga bermanfaat.

Di Bunian menuju Lampasi sebuah gapura besar membentang di Jalan Tan Malaka tertulis Kampung Randang, mampirlah sebentar menikmati randang Uni Erika atau Uni Yolanda dan lain-lain yang sudah kesohor akan membantu mengenyangkan perut keroncong. Setelah perut terisi perjalanan dilanjutkan melewati Jembatan Lampasi akan ketemu simpang dua jika ke kanan akan menuju kampung Teah yakni kampung penyair Chairul Anwar dan Adri Sandra di Padang Jepang. Chairul Anwar penyair angkatan 45 Terkenal dengan ontology puisi ‘Aku’. Melanjutkan perjalanan di Jalan Tan Malaka sampai di Limbanan terdapat dua simpangan. Simpangan ke kanan akan menuju daerah Mahat, Mahat dikenal juga dengan Negeri Seribu Menhir peninggalan purbakala zaman batu. Dan ke keri menuju Suliki, Rumah Tan Malaka.

Mengunjungi Rumah Tan Malaka ambillah waktu pada pertengahan Desember. Tanggal 19 Desember ditetapkan pemerintah RI sebagai Hari Bela Negara ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhyono untuk memperingati berdirinya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara tanggal 19 Desember 1948. Dari Rumah Tan Malaka perjalanan dapat dilanjutkan ke Koto Tinggi disana terdapat gapura dan museum PDRI dan jika beruntung dapat mengikuti acara peringatan Hari Bela Negara. Bulan desember juga lagi museum buah durian sepanjangan Jalan Tan Malaka daerah Suliki sebagai salah satu penghasil durian di Sumatera Barat juga akan menawarkan durian yang manis dan super murah.

Jalan Panjang Hidup Tan Malaka
Tidak banyak sejarawan yang menulis tentang Tan Malaka hal ini disebabkan sikap Pemerintahan awal Orde Lama dan terutama sikap Pemerintahan selama Orde Baru yang menempatkan Tan Malaka sebagai tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dilarang segala bentuk publikasinya. Hanya beberapa sejarawan yang tetap nekat menerobos tembok rezim dan tetap mengabarkan sosok Tan Malaka. Diantaranya sastrawan Hasbullah Parinduri alias Matu Mona (1910-1987) karyanya yang menggabungkan fakta dan fiksi tentang gerakan kiri radikal masa Hindia Belanda berjudul Pacar Merah Indonesia menjadikan Tan Malaka sebagai tokoh sentral. Sejarawan lain yang mengulas tentang Tan Malaka adalah Harry Albert Poeze.

Baca juga :  Edukasi Budaya Literasi, Formaci Rillis Buku 'Sing Penting NUlis Terus'

received_1570127713003997

Harry Poeze adalah sejarawan asal Belanda yang mendidekasikan karya skripsi, tesis dan disertasi doktornya dengan meneliti kiprah Tan Malaka.Selain itu sejarah Tan Malaka dapat juga diketahui melalui kerabat dekatnya, yakni cicit dari garis keturunan Ibunya di Suliki.

Tan Malaka lahir dari pasangan Ibu Rangkayo Sinah dan Bapak HM. Rasad. Sutan Malaka atau Tan Malaka adalah salah satu gelar pada masyarakat Minangkabau. Oleh sebab itu jika berkunjung ke Suliki kita akan menemukan banyak nama yang menggunakan gelar Tan Malaka. Nama kecil Tan Malaka adalah Ibrahim, bergelar Ibrahim Datuk Sutan Malaka (Tan Malaka).

Di Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota pada 2 Juni 1897 Ibrahim kecil lahir. Sebagaimana tradisi Minangkabau rumah Gadang yang tak berkamar hanya dinding bertirai memang disediakan bagi anak perempuan.Anak laki-laki Minang harus bermalam tidur di Surau.Ibrahim juga seperti anak Minang lainnya di Suliki juga menginap di Surau. Di Surau para lelaki Minang belajar ngaji Al-Qur’an, pengetahuan agama, pengetahuan umum dan juga pencak silat.Keluarga dan surau lah pendidikan pertama bagi lelaki minang.

Ibrahim menyelesaikan Sekolah Rakyat di kampung halamanya Suliki. Karena kecerdasannya pada tahun 1908 Ibrahim didaftarkan pada Kweekschol atau sekolah guru di Fort De Kock (Bukittinggi), inilah kali pertamanya Ibrahim merantau dan untuk selanjutnya melanglang buana menjadi tokoh dunia. Di Kweekschol, Ibrahim dengan cepat menguasai bahasa Belanda, dan pada tahun 1913 Ibrahim menamatkan sekolahnya.

Setelah tamat pada sekolah Kweekschol, Ibrahim melalui sistim matrilinial memperoleh gelar dari Ibunya yakni Datuk Sutan Malaka.Kini namanya bukan saja Ibrahim tetapi Ibrahim Datuk Sutan Malaka dipanggil Tan Malaka. Tulis Harry Poeze, Tan Malaka, Dalam suatu upacara khidmat pada tahun 1913 didudukan pada jenjang yang mulia.

GH.Horensma guru di Kweekschool Tan Malaka direkomendasikan untuk melanjutkan studi ke Rijkskweekschool (Sekolah Pendidikan Guru Pemerintah), di Belanda. Di Belanda lah Tan Malaka banyak membaca dan berdiskusi tentang politik dan gerakan sosialisme, komunisme. Tan Malaka membaca dan memahami dengan baik karya-karya Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin dan Friedrich Nietzsche.Di Belanda juga Tan Malaka berkenalan dengan Henk Sneevliet tokoh komunis.Tahun 1919 Tan Malaka menamatkan sekolah di Belanda dan kembali ke Hindia Belanda (Indonesia).

Kembali ke Hindia Belanda (Indonesia) Tan Malaka terlibat secara praktis sebagai pejuang bagi sebuah bangsa yang telah lama dicita-citakannya. Sebuah petualangan jalan panjang hidup dimulai oleh Tan Malaka, menjadi guru bagi anak-anak kuli sekaligus menulis propaganda kesadaran nasional bagi kaum buruh di Perkebunan Teh di Sanebah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Utara pada Desember 1919 sampai Juni 1921. Pada Juli 1921 Tan Malaka menuju Semarang membuka sekolah dan menjadi tokoh pergerakan.

Di Semarang, Tan Malaka menjadi pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan banyak bersentuhan dengan Sarekat Islam pimpinan Tjokroaminoto. Pada Kongres Komunis Internasional keempat tanggal 12 November 1922, Tan Malaka tampil membacakan pidato dalam bahasa Rusia yang sangat baik. Pidato yang menurut beberapa sejarawan menunjukan sikap positif Tan Malaka dengan gerakan Islam.

Baca juga :  Cendekiawan Muda ; Catatan Jumat Dari Al Azhar

Sikap Tan Malaka yang Islamis mendapat tantangan dari tokoh-tokoh PKI dan berujung pertemuan di Prambanan dimana Tan Malaka menolak terhadap rencana revolusi yang dilancarkan PKI tahun 1922. Sikap mayoritas PKI yang ceroboh dengan kegagalan revolusi kemerdekaan membuat Belanda dan Inggris menuduh Tan Malaka adalah otak dari Rest en Orde (keamanan dan ketertiban). Sebuah episode jalan hidup panjang dilalui Tan Malaka selama 20 tahun (1922-1942) menjadi pengasingan/buronan polisi internasional Belanda dan Inggris. Dalam masa pelarian ini Tan Malaka ke Cina, Manila, Thailand dan Eropa.

received_1570127723003996

Dua puluh tahun pengasingan Tan Malaka tetap berjuang baik melalui tulisan pemikirannya ataupun lewat organisasi gerakan yang dirikannya. Tan Malaka baru kembali ke Indonesia tahun 1942 pada masa pendudukan Jepang.

Ibrahim Datuk Sutan Malaka selama jalan hidup panjang pemikiran dan perjuangan fisiknya telah dipertaruhkan untuk kemerdekaan Indonesia. Beberapa pemikiran Tan Malaka tentang Indonesia telah ditulisanya sejak tahun 1920.

Diantara pemikiran Tan Malaka antara lain, Parlemen atau Soviet (1920), SI Semarang dan Onderwijs (1921), Dasar Pendidikan (1921), Tunduk Pada Kekuasaan Tapi Tidak Tunduk Pada Kebenaran (1922), Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) (1924), Semangat Muda (1925), Massa Actie (1926), Local Actie dan National Actie (1926), Pari dan Nasionalisten (1927), Pari dan PKI (1927), Pari International (1927), Manifesto Bangkok(1927), Aslia Bergabung (1943), Muslihat (1945), Rencana Ekonomi Berjuang (1945), Politik (1945), Manifesto Jakarta (1945), Thesis (1946), Pidato Purwokerto (1946), Pidato Solo (1946), Madilog (1948), Islam dalam Tinjauan Madilog (1948), Gerpolek (1948), Pidato Kediri (1948), Pandangan Hidup (1948), Kuhandel di Kaliurang (1948), Proklamasi 17-8-45 Isi dan Pelaksanaanya (1948) dan Dari Pendjara ke Pendjara (1970).

Atas seluruh dedikasi Tan Malaka kepada bangsa lewat Keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional. Tan Malaka jalan panjang hidupnya sangatlah berliku, dari seorang anak minang yang hidup di surau, menjadi pelajar, pejuang, buronan, di cap penghianat, ditetapkan sebagai pahlawan dan diasingkan dari publik. Pada akhirnya Tan Malaka pun menghilang secara misterius sejak 1949. Adalah Harry Poeze, sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa yang menangkap dan menembak mati Tan Malaka pada tanggal 21 Februari 1949 adalah pasukan TNI dibawah pimpinan Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Tiba Di Rumah Tan Malaka

Sekitar pukul 14.00 kami tiba di Rumah Tan Malaka setelah sebelumnya ban motor depan kami pecah dan di tambal, lebih dari 3 jam perjalanan kami tanpa macet. Seluruh rasa pegal dan capek terbayar sudah kini kami bertiga (ayah, Bundo dan Cendikia) berdiri pada halaman rumah gadang. Pada teras rumah di atas tertulis ‘TAN MALAKA’. Sebuah bendera merah putih berkibar dibawahnya sebuah prasasti pertanda diresmikannya Rumah Tan Malaka (Museum dan Pustaka) tanggal 21 Februari 2008. Rumah Tan Malaka adalah rumah Gadang Minangkabau, berdinding kayu dan beratap seng dengan atap bergonjong lima.

Lebih dari 10 menit kami berdiri pada halaman rumah Tan Malaka.Suasana sunyi senyap sebab rumah tersebut memang berada pada ujung kampung dikelilingi sawah dan hutan. Sampai kemudian seorang petani yang hendak ke kebun lewat dan katakana dalam bahasa Minang ‘kalau ingin masuk, masuk saja pintu biasanya tidak dikunci’.

Baca juga :  'Misteri' Tan Malaka

Kami mendekati rumah Tan Malaka perlahan dengan hati-hati kami menaiki tangga rumah yang sudah menua dimakan waktu. Rumah yang kosong tak berpenghuni ataupun penjaga. Lantai rumah pun sudah sangat rapuh beberapa papan lantai tidak dapat lagi dipijak. Debu menempel pada dinding dan perabot rumah. Rumah Tan Malaka sebagaimana kebanyakan rumah gadang dibagi hanya dua rungan.

Memasuki ruangan bagian pertama sebuah buku tamu dan kotak amal pada pintu masuknya. Buku tamu itu sudah penuh dengan tulisan kesan-pesan pengunjung yang datang baik kepada keluarga atau pemerintah agar merawat rumah Tan Malaka. Dari buku tamu tersebut terlihat luar biasa dahsyat pengaruh Tan Malaka akademisi atau politikus dari Belanda, Australia, Jerman menyempatkan waktu berkunjung. Pada ruangan ini berisi beberapa foto Tan Malaka menempel pada dinding rumah. Foto ketika Tan Malaka di Belanda. Terdapat juga satu foto hitam putih ukuran besar Tan Malaka seolah menyambut tamu yang masuk.

Kami melangkah ke ruangan tengah agak luas dengan tirai yang membatasi tempat tidur. Pada rungan ini masih tergantung rapih baju adat Tan Malaka.

received_1570127793003989

Foto-foto Tan Malaka dalam ukuran yang cukup besar dan foto keluarga Tan Malaka tampak menghiasi rungan ini. Sebuah foto Tan Malaka bersama Ir. Soekarno pada keterangannya tertulis Bung Karno bersama Tan Malaka pada rapat akbar tanggal 19 September 1945.

Juga foto bersama Tan Malaka bersama rekan-rekannya di luar negeri di Moskow. Sebuah foto Tan Malaka membaca buku Gerilya Politik dan Ekonomi (GERPOLEK) Oktober 1948 di Yogyakarta. Foto Ibunda Tan Malaka Ny Sinah bersama dua perempuan. Dan beberapa foto Tan Malaka di Deli, di Belanda serta foto-foto keluarga Tan Malaka.

Satu Ranji (Silsilah) keluarga Tan Malaka tertulis pada atasnya ‘Daftar Ranji Datuk Tan Malaka Dari Ninik Mamak Turun Temurun Yang Bertali Darah’. Dari ranji matrinial tersebut Ibrahim adalah generasi keempat yang menggunakan gelar Sutan Malaka (Tan Malaka) dari Ninik Mamak.

Tan Malaka memiliki satu adik bernama Kamaruddin.Selain ranji terdapat juga daftara ‘Perangkat Limbago Adat Kalarasan Bungo Setangkai’ dibuat Maret 2005. Dari perangkat lembaga adat ini terlihat Raja Adat Bergelar Sutan Malaka membawahi, dua balang adat terdapat 8 wilayah, lantak salapan terdapat 8 datuk, tongko raja, 2 Parikpaga dan 132 orang penghulu andiko.

Dua buah lemari kaca ditempatkan pada tengah ruangan. Lemari satu berisi buku-buku Tan Malaka dan beberapa buku lain tentang Tan Malaka. Lemari yang satunya berisi perabot rumah tangga terdapat juga kain batik Ibu Sinah yang digunakan menggendong Ibrahim Datuk Tan Malaka tahun 1896-1897. Selain itu terdapat satu ranjang tidur, dua peti besi dan banyak foto dan lukisan kelompok atau orang yang pernah mengunjungi rumah Tan Malaka.

Dua kami di rumah Tan Malaka hanya kami bertiga (Ayah, Bundo Dona dan Cendikia) dan deretan foto, lukisan dan buku-buku, larut dalam suasana sunyi senyap. Rumah Tan Malaka nyaris tanpa perawatan, benar kata sebagian sejarawan Tan Malaka fauding father, lahir, perjuangan dan kematinya dalam keadaan terasing. Melekat stigma salah kaprah orang tentang Tan Malaka komunis, pemberontak dan penghianat  telah menjauhkan pemikiran dunia asal Indonesia ini dari diskursus umum.

Bukittinggi, 25 Desember 2016

Abdul Malik Raharusun, Guru Sejarah SMA Negeri 2 Kei Kecil-Maluku Tenggara, Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Wilayah Maluku

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com