Literasi

Wahai Pemuda, Buktikan Janjimu

Oleh: Ahmad Dahlan Syam*

OPINI, EDUNEWS.ID – Peristiwa sejarah Sumpah Pemuda merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini menjadi satu tonggak utama bangkitnya semangat para pemuda Indonesia untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan peringatan sumpah pemuda pada setiap tanggal 28 Oktober 2016 yang selalu menjadi landasan semangat para pemuda walau berada dalam problematika yang menyeluruh.

Sumpah Pemuda adalah sebuah “produk” yang muncul dari pelaksanaan Kongres Pemuda Kedua yang dilangsungkan 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll.

Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres yang ditulis oleh Moehammad Yamin dan dibacakan oleh Soegondo yang kemudian dijelaskan panjang-lebar kembali oleh Moehammad Yamin. Istilah “Sumpah Pemuda” sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Para pemuda yang hadir saat itu menyebut rumusan tersebut sebagai sumpah setia.

Peran pemuda dalam suatu bangsa adalah ujung tombak pergerakan, sumber ide kreatif dan sebagai harapan. Ironisnya, sebagian besar pemuda terjebak dalam berbagai kegiatan yang kontraproduktif, kurang berkualitas serta daya saing yang rendah untuk memajukan bangsa. Namun dibalik banyaknya pemuda seperti itu, masih ada segelintir pemuda yang membuktikan dirinya berbeda dan disebut sebagai pemuda berperestasi.

Ada Butet Manurung mengukir kisah perjuangan dalam dunia pendidikan. Dia berjuang 14 tahun lamanya untuk keluar-masuk hutan demi memusnahkan penyakit buta huruf bagi anak-anak Orang Rimba. Ia tak pernah menyerah meski berkali-kali ditolak mentah-mentah oleh masyarakat suku asli tersebut. Visinya yang mulia kini berhasil ia wujudkan. Butet layak untuk mendapat apresiasi atas perjuangannya yang berlandasakan keinginan memajukan peradaban Indonesia. Hal seperti itu layak menjadi mimpi setiap orang. Berbagai penghargaan berhasil diraihnya antara lain penghargaan “Man and Biospher” oleh UNESCO dan ia berhasil mendapatkan Penghargaan Ramon Magsaysay yang kerap disebut sebagai Hadiah Nobel versi Asia. Magsaysay sendiri merupakan penghargaan yang diberikan pada individu maupun kelompok yang dianggap telah mampu memberikan perubahan bagi komunitas masyarakat di sekitarnya.

Baca juga :  Menimbang Ormas-ormas Anti NKRI

Mengintip dari sisi kewirausahaan ada Tyovan Ari atau kerap disapa Ari, merupakan CEO Vemeho sebuah perusahaan teknologi tinggi berbasis di Fransisco, Amerika Serikat. Dia dinobatkan sebagai salah satu dari 100 Top Global Young Innovator oleh YouNoodle yang berbasis di Silicon Valley, Amerika Serikat. Pemuda Indonesia yang satu ini, sukses di usianya yang belum genap 25 tahun. Tentu saja ia menjadi salah satu pemuda Indonesia yang menginspirasi dan patut untuk dibanggakan karena kecerdasannya. Sejak saat itu Ari dijuluki sebagai Anak Ajaib dari Wonosobo.

Dunia teknologi mengisahkan Jim Geovadi, yaitu Pemuda berusia 24 tahun asal Indonesia yang berhasil meretas sistem satelit dan dikenal dengan nama Jim. Jim adalah pakar keamanan teknologi informasi yang memiliki fokus untuk menemukan celah keamanan komputer serta jaringan yang memiliki kekhususan sistem telekomunikasi. Bahkan Jim dikenal sebagai peretas legendaris yang cukup ditakuti oleh Amerika dan Eropa. Wow! Pemuda Indonesia dapat dikenal dunia sebagai hacker yang andal dan tercatat berhasil meretas satelit.

Baca juga :  Leila dan Tjoet: Duo kombattan Perempuan

Terakhir ada seorang Joy Alexander, namanya populer saat ia berhasil tampil di ajang penghargaan musik dunia paling bergengsi, Grammy Awards sebagai Best Instrumental Jazz Album dan Best Jazz Solo Improvisation. Di usianya yang terbilang masih muda (sekiar 13 tahun), Joey Alexander berhasil memukau dunia dengan keahliannya mendenting sebuah nada indah piano dalam balutan musik jazz. Joey berhasil menguasai teknik bermain piano serta improvisasi yang luar biasa. Menariknya, ia belajar musik jazz secara otodidak dan hampir secara keseluruhan dimulai saat usianya baru enam tahun. Latih dan terus berlatih menjadikan Joey menguasai teknik permainan piano yang kemudian mengizinkannya satu panggung dengan artis kelas dunia seperti Adele, Taylor Swift, dan Bruno Mars.

Tentu saja ini bukan hal yang main-main. Manusia tercipta dengan potensi masing-masing dan juga kelebihan yang ada dalam diri sendiri. Kita tidak tercipta hanya untuk menonton orang lain sukses dan bahagia. Namun, kita juga harus berproses sebagai orang yang akan diakui oleh dunia. Kini pertanyaan yang paling membekas mendengar prestasi kebanyakan pemuda di luar sana menuntut kita bertanya dalam hati “Lantas, siapa saya?” Ketahuilah mereka tidak lebih sempurna darimu, semua orang diciptakan sama saja. Akan tetapi mereka sudah tahu apa yang menjadi kelebihan mereka dan berusaha untuk mengembangkannya hingga bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Sehingga setiap mata melihatnya, setiap telinga mendengar dan dunia mengakuinya. Pantaskan diri untuk dapat diakui.

Baca juga :  Jika Anggaran Pendidikan Disunat

Bersemangatlah anak muda Indonesia! Sukses tidak diciptakan untuk sebagian orang, tapi hadiah yang bisa diambil oleh semua orang yang berusaha menggores kenyataan dengan impiannya. Kisah pemuda di atas tadi hanya secuil dari kisah yang ada dan sangat kecil dari kisah yang akan muncul kemudian hari. Kisah yang akan muncul di tangan pemuda-pemudi masa kini. Jadilah sukses menurut versimu sendiri, jangan tinggalkan jati diri yang sebenarnya.

Marilah kembangkan potensi yang kita miliki dengan konsep yang lebih universal untuk kemaslahatan orang banyak. Kita sama-sama saling menginspirasi, menyamakan visi, bersatu dan bekerjasama untuk maju bersama Indonesia, demi kejayaan bangsa dan negara.
Jangan tanyakan apa yang bangsa ini bisa berikan kepada Anda tapi coba tanyakan apa yang Anda dapat berikan kepada bangsa ini dimulai dari diri sendiri dengan hal kecil sejak sekarang. Yakinlah kita bisa. Indonesia yang kita impikan adalah Indonesia yang tanpa kemiskinan, Indonesia yang tanpa kelaparan, Indonesia yang tersenyum tanpa kesakitan dan Indonesia sebagai negara sejahtera. Kita bisa menyamai negara yang sudah lebih dahulu maju, namun bukan dengan cara berjalan. Indonesia harus berlari. Kejar ketertinggalan dan pastikan pemuda ada di barisan pertama. Buktikan sumpah setia itu sebagai janji para pemuda dalam memajukan Indonesia.

Ahmad Dahlan Syam. Ketua Umum HIMIKA Unhas 2012-2013, Pengajar di UMY.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!