Mauliah Mulkin

Anak Patuh atau Anak Kritis?

Oleh: Mauliah Mulkin*
HORISON, EDUNEWS.ID – Adalah hal yang sangat lumrah bila setiap orangtua mengharapkan anaknya tumbuh jadi anak yang patuh. Makanya sering kita dengar ucapan-ucapan yang bertaburan saat seseorang mendoakan anaknya atau anak sahabatnya dengan kalimat semoga menjadi anak yang patuh. Saya bukan termasuk orangtua yang senang mendoakan dengan kalimat harapan seperti ini. Bukannya tidak berharap si anak jadi anak yang patuh, melainkan saya beranggapan kalimat tersebut belum lengkap. Saya khawatir jika pesan tersebut tertanam dalam diri dan pikirannya, ia akan kehilangan daya kritisnya. Saya juga khawatir ia akan menjadi anak yang patuh pada semua orang di luar sana, bukan hanya pada kedua orangtuanya. Ini akan sangat berbahaya.

Sebagai orangtua kita pastinya sangat senang dan merasa bangga jika anak-anak berhasil kita bina dan bentuk menjadi sosok yang penurut, patuh, dan tidak banyak tuntutan. Pekerjaan kita tentunya akan lebih enteng tanpa harus direcoki dengan kerewelan-kerewelan mereka. Bisa dibayangkan betapa akan repotnya sebuah keluarga yang memiliki anak lebih dari satu. Pada waktu yang bersamaan semuanya minta perhatian, sementara sangat sulit untuk memahamkan sesuatu dengan cepat dalam waktu seketika. Sehingga sosok ideal anak patuh pun menjadi dambaan dan harapan kita saat itu.

Baca juga :  Parodi Skizoprenia Di Tahun Politik

Seperti apa sih sosok anak patuh yang menjadi tujuan banyak orangtua selama ini? Anak yang patuh, adalah anak yang mudah diberitahu akan sesuatu, mau menuruti keinginan orang lain tanpa perlawanan, juga sangat mudah diarahkan sesuai dengan keinginan si pengatur. Lalu apa masalahnya? Jika orangtua tidak cukup terbuka menjelaskan kepada anak tentang harapan-harapannya serta penjelasan lebih lengkap tentang konsep kepatuhan tersebut, maka fatal akibatnya. Misalnya, anak perlu mematuhi orangtua hanya apabila permintaan atau perintah orangtua tersebut sesuai dengan norma-norma kepatutan atau kebenaran dari segi agama maupun aturan bermasyarakat. Contohnya, anak yang disuruh oleh orangtuanya untuk berbohong saat ada tamu yang mencari ayah atau ibunya. Jika anak kritis, tentu ia akan bertanya kepada orangtuanya, mengapa ia harus mengatakan hal seperti itu? Kecuali jika memang orangtua tidak peduli dengan akibat dari perkataan dan perbuatannya serta pengaruhnya terhadap perkembangan psikologis anak.

Baca juga :  Media, Popularitas dan Elektabilitas

Jika anak mampu memiliki sifat kritis, maka ia tidak akan mudah dibentuk ataupun dipengaruhi oleh orang atau kelompok lain di luar rumah. Jika benar dan sesuai dengan norma yang berlaku selama ini, maka ia akan mengikuti. Namun jika bertentangan biasanya ada perasaan tidak nyaman dalam dirinya. Jika belum mampu menyatakan penolakan dengan tindakan atau perkataan, minimal ia mempunyai filter dalam hatinya yang akan bersuara nyaring menentang hal tersebut.
Sayangnya kita umumnya menginginkan kecepatan dalam segala urusan. Masih langka orangtua yang mau bersusah payah membangun dialog yang mendalam dengan anak tentang suatu masalah. Selain karena urusan pekerjaan yang banyak, keterbatasan waktu pun menjadi sebuah kendala yang masih sulit untuk dikesampingkan. Sehingga kesempatan untuk berdiskusi atau menjawab segala pertanyaan anak menjadi sangat mahal.

Seringkali terjadi banyak ironi dalam kehidupan kita. Orangtua ingin anak paham terhadap suatu masalah. Namun tidak punya cukup waktu untuk menjelaskannya. Orangtua ingin waktu anak banyak dihabiskan untuk berkegiatan fisik di luar rumah, namun tidak mampu menemaninya untuk bermain bersama. Orangtua ingin anak tidak terlalu sering memegang gadget, namun apa daya orangtua sendiri pun tidak mampu melepaskan diri dari benda yang satu ini. Orangtua ingin anak kritis, namun tidak punya cukup waktu untuk berlama-lama berdialog dengan anak. Orangtua ingin anak dekat dengan ayah ibunya, namun orangtua tidak berusaha membangun komunikasi yang nyaman dan membuat anak senang menghabiskan waktu bersama orangtua.

Baca juga :  Sebarkan! Terkait Upaya Kriminalisasi HMI, Ini Himbauan Ketum PB HMI

Apa yang kita tanam, itulah nanti yang akan kita tuai. Jika kita mau bersusah-susah sejak sekarang mendampingi anak, maka kita boleh optimistis masa depannya akan bahagia. Namun jika yang terjadi sebaliknya, maka tentu tidak adil jika kita mengharapkan hal berbeda dari apa yang telah kita lakukan selama ini. Mari terus berproses menjadi semakin baik.

Mauliah Mulkin. Ibu rumahtangga. Bergiat di Kelas Literasi Paradigma Institute.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!