Mauliah Mulkin

Bahagia Membesarkan Anak (Bagian 1)

Oleh: Mauliah Mulkin*

HORISON, EDUNEWS.ID – Anak adalah dambaan tertinggi hampir setiap orangtua. Kelahiran mereka dirayakan dan disyukuri oleh siapa pun. Demikian pula ucapan selamat yang mengalir dari berbagai penjuru sebagai tanda turut bergembira atas suatu kelahiran anak manusia. Simpulannya, memiliki anak seharusnya membahagiakan siapa saja, terkhusus orangtua anak yang bersangkutan. Namun kenyataannya, dalam perjalanan hidup selanjutnya anak seringkali dianggap sumber masalah bahkan menjadi sasaran pelampiasan kemarahan atas permasalahan hidup orangtuanya. Kehadiran anak pun kembali dipertanyakan. Seberapa besar ia diharapkan.

Membesarkan anak bukan perkara sepele, bukan pula proyek sekali kerja, setelah itu beres. Melainkan ia adalah pengabdian pada hidup, manusia, dan peradaban. Oleh karenanya ia hendaknya dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Selama ini persiapan orang banyak hanya tertuju pada kesiapan lahiriah pernikahan saja. Sementara di lain sisi mengabaikan persiapan mental dan ilmu yang memadai dalam mengarungi rumah tangga. Puluhan bahkan ratusan juta uang dipersiapkan demi menyelenggarakan sebuah perhelatan akbar pernikahan sepasang muda-mudi, namun lalai membangun jiwa mereka sebagai pasangan calon orangtua.

Ini barangkali salah satu penyebab munculnya banyak persoalan di kemudian hari. Hari-hari manis hanya dapat dinikmati dalam hitungan bulan. Setelahnya tanggung jawab besar sebagai ibu menanti tanpa tawar-menawar. Banyak yang berpikir, tanpa ilmu dan persiapan, kemampuan mengasuh dan membesarkan anak akan berjalan secara otomatis. Menganggapnya sebagai sebuah naluri keibuan yang setiap orang pasti memilikinya. Pada kenyataannya tidak semudah dan sesederhana itu dalam pelaksanaannya. Orangtua-orangtua muda menjadi panik, bingung bagaimana menghadapi aneka perilaku anak yang jauh berada di luar bayangan dan harapan sebelumnya.

Baca juga :  Kala Nenek Harus Menjaga Cucu

Hari berganti hari, bulan pun berlalu tanpa kompromi. Anak yang semula masih berupa bayi mungil sekarang telah menjelma menjadi anak yang lincah dan banyak aksi. Segala benda diraihnya, jendela dan kursi tidak lepas dari panjatannya. Piring dan gelas jika tak disingkirkan akan menambah daftar perabotan rumah yang dirusak olehnya. Saat anak butuh teman main, ibu akan sibuk dengan pekerjaan rumah yang bertumpuk. Dan ketika anak tidur, ibu masih juga belum selesai dengan tugas-tugas kebersihan termasuk membersihkan sisa-sisa permainan anak. Waktu tenang dan santai menjadi sedemikian mahal untuk diperoleh. Sehingga ibu menjadi semakin mudah letih.

Kelahiran anak berikutnya semakin menambah daftar beban dan tugas yang harus dipikul oleh orangtua. Begitu pula seterusnya. Jika tidak segera menyadari kekeliruan melangkah dan memperbaiki kualitas pengasuhan, maka selamanya orangtua terkhusus ibu, akan sulit merasakan bahagia dalam pengabdiannya. Yang ada justru stress berkepanjangan. Tentu bukan situasi seperti ini yang akan membahagiakan kita. Mari mengevaluasi kinerja keibuan kita dan kinerja keorangtuaan kita bersama pasangan selama ini. Apa saja yang perlu diperbaiki, dan bagian mana saja yang perlu dipertahankan. Tak ada cara instan untuk mengubah kondisi yang memburuk menjadi lebih baik selain usaha yang sungguh-sungguh dan konsisten.

Baca juga :  Sebelum Menuntut, Mari Menuntun

Salah satu cara yang menurut hemat saya bermanfaat untuk dilakukan saat ibu lagi gundah, lelah, atau merasa tak berdaya menghadapi segala keruwetan yang ditimbulkan oleh perilaku anak. Yakni dengan mencari teman untuk berbagai cerita suka dan duka merawat rumah dan mengasuh si kecil. Tentu dengan tidak bermaksud mengumbar persoalan rumah tangga kepada pihak luar. Kita dapat memilih cerita mana yang layak untuk disampaikan mana yang tidak. Jika belum berhasil, kita bisa membaca buku-buku penuntun yang berkenaan dengan persoalan yang sementara dihadapi. Biasanya setelah membaca buku-buku itu perasaan  akan menjadi lebih tenang dan merasa tidak sendirian mengalami persoalan tersebut. Membaca buku-buku fiksi juga bisa menjadi salah satu cara untuk merilekskan diri. Sering-seringlah mengobrol dengan pasangan atau menyediakan waktu tersendiri yang biasa kita kenal dengan istilah me time agar suasana hati bisa mengendor setelah sebelumnya meregang dikarenakan pekerjaan dan rutinitas yang beruntun setiap hari.

Baca juga :  Kelemahlembutan yang Menggugah dan Mengubah

Pada dasarnya mesti ada usaha tertentu yang dilakukan dalam mengatasi kesumpekan dalam rumah. Karena jika tidak, maka tumpukan masalah tersebut dari waktu ke waktu akan semakin tinggi, yang akhirnya membuat kita justru semakin ingin mengambil jarak sejauh-jauhnya dari situasi tersebut. Padahal masalah itu hadir untuk kita pecahkan bukan untuk dihindari. Karena ibu pun berhak untuk bahagia.

Bersambung ke Bagian 2

Mauliah MulkinIbu rumah tangga. Bergiat di Kelas Literasi Paradigma Institute.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!