Mauliah Mulkin

Bahagia Membesarkan Anak (Bagian 2)

Oleh: Mauliah Mulkin*

HORISON, EDUNEWS.ID – Keberadaan ibu dalam sebuah rumah sangat menentukan jalannya roda kehidupan dalam keluarga. Sehingga sering kita dengar orang-orang berkata, jika dibolehkan memilih siapa yang diharapkan memiliki umur lebih panjang, biasanya banyak yang lebih memilih sosok ibu. Betapa peran dan posisi ibu sangat vital dan menjadi sentrum dalam rumah.

Lihatlah saat pulang ke rumah, anak-anak akan lebih mencari dan menanyakan “mana Ibu” ketimbang “mana Ayah”. Dalam 24 jam ibu tidak nampak anak-anak akan merasa kehilangan. Berbeda dengan ayah. Salah satu sebabnya boleh jadi karena ayah sebagai pencari nafkah utama lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, sehingga intensitas untuk bertemu dengan anak-anak lebih rendah. Sedangkan ibu dengan mudahnya dapat ditemui karena ruang lingkup dan kerjanya lebih banyak dilakukan di rumah.

Dalam situasi dan kondisi seperti ini ada beberapa konsekuensi dan keuntungan yang mungkin timbul. Di antaranya, ibu akan lebih mudah memengaruhi anak karena faktor kedekatan psikis maupun fisik tadi. Namun di satu sisi ibu akan rentan terjangkiti rasa jenuh disebabkan kondisi dan situasi setiap hari yang nyaris sama ritmenya. Ibu perlu pandai-pandai memanfaatkan potensi ini.

Baca juga :  Anakku yang Enggan Mengaji Lagi

Sulit dimungkiri bagi ibu rumah tangga, bahwa dua puluh empat jam dalam sehari beredar di dalam rumah sungguh suatu situasi yang bagi sebagian orang menjemukan. Berjumpa dengan orang yang sama mulai pagi hingga pagi berikutnya. Sementara itu pula ia dihadapkan dengan tuntutan persoalan yang mengharuskannya piawai mengendalikan semuanya. Anak-anak yang berperilaku berbeda yang kadang menantang emosi dan nyali. Pasangan yang tidak sejalan dan sepemahaman. Sehingga energi yang pas-pasan menjadi gampang terkuras. Jika tidak mendapat suntikan dan asupan gizi (pengetahuan) yang cukup, kondisi ini akan membahayakan.

Pasangan diharapkan bisa menjadi orang terdekat yang bisa memakluminya. Ayah meskipun lelah sepulang bekerja setidaknya tetap bisa  tersenyum manis sesaat setelah berada di ambang pintu rumah. Ingatlah, bahwa selelah-lelahnya ayah bekerja, ibu jauh lebih lelah. Pekerjaan rumah tangga sangat kompleks dengan persoalan yang juga beragam. Ia terkait dengan sifat, perilaku, dan karakter manusia. Mereka pun bukan benda mati yang dengan mudahnya dapat diletakkan dan dibolak-balik sesuai keinginan pengaturnya.

Karena tidak sedikit persoalan rumah tangga yang pada dasarnya kecil dan remeh saja kelihatannya, namun karena tidak mendapat penanganan yang cepat dan tepat lambat laun ia berubah drastis menjadi lebih besar dari bentuknya semula. Begitupun masalah yang sebenarnya sepele, tetapi tidak mendapat respons yang simpati dan positif dari orang terdekat (pasangan), dapat berubah menjadi masalah serius.

Baca juga :  Pergumulan Sebagai Tanda Hidup dan Matinya Subyek

Dalam menyikapi masalah ini beragam cara ibu mencari penyaluran sebagai upaya untuk menyeimbangkan kejenuhan dalam rumah. Ada yang memilih jalan-jalan ke mal atau tempat perbelanjaan lainnya dengan alasan cuci mata. Ada yang senang bertemu di luar rumah dengan teman-teman lama sekadar ngobrol dan curhat masalah sehari-hari. Namun ada pula yang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah saja dengan chatting dan online di dunia maya. Pada dasarnya perlu selingan kegiatan agar mereka tidak jenuh menghadapi ragam kehidupan rumah yang cukup berat.

Setiap orang bebas memilih kegiatan yang mengasyikkannya sebagai pembunuh waktu. Yang penting perlu diingat dan diperhatikan, jangan sampai kegiatan selingan tersebut menjadi pekerjaan utama yang berakibat terbengkalainya pekerjaan pokok yang seharusnya lebih diutamakan untuk dilakukan. Dengan dilakukannya kegiatan-kegiatan selingan tersebut suasana hati dan pikiran ibu diharapkan bisa menjadi lebih segar dan bersemangat lagi dalam menjalani rutinitasnya sehari-hari.

Baca juga :  Hentikan Kekerasan pada Anak Sekarang Juga

Bagi saya pribadi membaca buku sambil menikmati secangkir kopi hangat di sore dan malam hari lebih saya nikmati ketimbang segala kegiatan menarik yang menggoda di luar rumah. Seperti nonton, nongkrong, belanja, dan sejenisnya. Mengobrol dengan pasangan di pagi hari sambil membahas berita terkini dan persoalan rumah meskipun hanya satu jam sudah sangat berarti asalkan dilakukan dengan penuh perhatian dan penghargaan satu sama lain. Begitupun dengan anak-anak. Kepadatan kegiatan mereka mengharuskan saya mengatur waktu untuk bisa ngobrol dengan masing-masing anak. Sulit untuk menemukan hari di mana mereka bisa utuh hadir  di pagi atau sore hari. Dalam sebulan mungkin hanya bisa dilakukan sekali atau dua kali saja.

Tidak ada cara lain untuk membangun kesalingpahaman di antara anggota keluarga tanpa melalui obrolan dan diskusi. Dengan memahami masalah orang lain dan dipahami oleh pihak lain menjadikan hidup menjadi lebih ringan, hati pun bisa lebih lapang menyikapi berbagai permasalahan yang terjadi.

Sambungan dari Bagian 1

Mauliah MulkinIbu rumah tangga. Bergiat di Kelas Literasi Paradigma Institute.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!