Mauliah Mulkin

Coretan Seputar Kantong Plastik

HORISON, EDUNEWS.ID – Saya sudah lupa persisnya kapan benda ini mulai diperkenalkan ke seantero negeri. Karena tahun 80-an awal kala saya masih berseragam putih merah benda ini masih terhitung asing penggunaannya. Jika hendak ke pasar, ibu-ibu lebih sering membawa tas plastik anyaman yang cukup besar, yang jika dimuati sayuran, ikan, buah, dan benda-benda dapur sekalipun masih akan cukup.

Saat itu para penjaja ikan di pasar tradisional semuanya masih mengandalkan daun jati atau daun pisang sebagai alat untuk membungkus bahan-bahan makanan yang hendak dijual. Hingga bertahun-tahun kemudian bahan-bahan alam itu lambat laun digantikan oleh benda yang lebih modern dan praktis yang bernama kantong plastik, atau tas ‘kresek’.

Ke mana-mana kantong plastik ini akhirnya dengan mudah bisa kita jumpai. Mulai penjual gorengan, bakso, sayuran mentah, hingga sebagai tempat muntah  di mobil-mobil angkutan umum atau bis antar propinsi. Lalu setelah digunakan, walau masih bersih dan baru, kita dengan mudahnya dan tanpa rasa bersalah sedikit pun melemparkannya ke tempat sampah atau pinggiran jalan besar. Datang hujan atau panas akhirnya menenggelamkannya sedikit demi sedikit hingga masuk ke perut bumi. Jika dihitung-hitung dan dikumpul-kumpul seluruh kantong plastik yang akhirnya dibuang begitu saja menjadi sampah,  bisa jadi timbunan plastik itu dapat membentuk pulau yang mencapai kedalaman ratusan meter ke bawah tanah.

Baca juga :  Larang Kantong Plastik, Kota Bogor Dukung Tas serat singkong

Beberapa bulan belakangan ini diterapkan aturan plastik berbayar untuk meminimalkan penggunaan kantong plastik. Mulai harga 200 rupiah hingga yang bernilai ribuan rupiah. Tidak lain maksudnya tentu agar orang-orang mulai hemat dan selektif menggunakan benda ini. Sampai saat ini saya tidak tahu apakah memang aturan ini berhasil menekan penggunaan kantong plastik atau tidak. Yang saya perhatikan, pengunjung yang datang berbelanja acap kali lupa membawa kantong belanjaan dari rumah. Yang terjadi mereka harus membeli kantong baru lagi dan lagi. Bukan soal uangnya yang hanya 200 perak, karena yang untung toh si pemilik toko sendiri. Tapi justru karena harganya yang sangat murah, akhirnya banyak yang merelakan saja keluar duit daripada keluar dengan memegang belanjaan di tangan. Andai harga kantong itu 5000 lebih mungkin baru terasa beratnya.

Baca juga :  Waspada Bullying dan Makna Gerakan Antar Anak ke Sekolah di Hari Pertama

Jauh sejak aturan ini diberlakukan, kami seisi rumah sudah cerewet perihal sampah plastik ini. Hanya menggunakannya jika benar-benar diperlukan. Belanjaan dari warung lebih  suka saya pegang saja karena jaraknya yang dekat. Pengunjung yang membeli buku di toko nanti baru saya tawari kantong jika kelihatan dia kerepotan memegangnya karena tidak membawa tas. Lalu kantong-kantong plastik bekas pakai yang ada di rumah kami kumpulkan untuk diberikan kepada penjual sayur langganan di pasar agar bisa digunakan kembali.

Dua hari lalu saya terpaksa ke toko ritel di pinggir jalan karena barang yang saya cari tidak ada di warung dekat rumah. Karena lupa membawa kantong plastik, saya balik lagi ke rumah mencari kantong bekas pakai. Sambil jalan saya berpikir apakah orang lain juga mau peduli dengan hal-hal kecil seperti ini? Lalu sejauh mana efek aturan yang berlaku jika lebih banyak yang tidak mau peduli? Saya kembali teringat dengan sebuah nasihat, “Teruslah lakukan kebaikan sekecil apa pun itu, karena suatu waktu akan ada hasilnya.” Bahkan jika hasilnya pun tidak kelihatan, setidaknya usaha untuk perbaikan dan perubahan tetap akan bernilai ibadah dan tentu saja positif di hadapan Allah SWT.

Baca juga :  Ritel Mainan Toys 'R' Us Bangkrut

Tetaplah lestarikan hal-hal yang baik sebagai penanda dan penjelas bahwa memang ia adalah sesuatu yang baik dan bermanfaat. Seperti kata seorang bijak, kebaikan yang jarang dilakukan akan dianggap buruk pada akhirnya, begitu pula dengan keburukan yang sering dilakukan akan dianggap baik pada akhirnya.

Mauliah Mulkin, Ibu rumah tangga, pemerhati masalah anak dan keluarga, bergiat di kelas Literasi Paradigma Institute.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!