Mauliah Mulkin

Do It with Fun

Oleh: Mauliah Mulkin*

HORISON, EDUNEWS.ID – Salah satu hukum cara kerja otak yang saya pahami, pikiran manusia akan semakin kreatif dan cerdas mencipta jika ia dalam kondisi rileks. Maka saat anak-anak menjelang ujian atau ulangan di sekolah, saya tidak pernah berkali-kali menyuruhnya belajar. Jika ia menjawab ‘sudah belajar’ atau ‘sudah paham’ materi yang kira-kira akan diujikan, saya turut tenang dengan jawabannya. Meskipun nilai bukanlah segalanya, tapi karena anak masih hidup di tengah sistem yang masih mementingkan nilai, kami ikuitlah apa yang menjadi ketentuan sekolah.

Walhasil cara tersebut saya tradisikan dalam praktek belajar sehari-hari, Alhamdulillah nilai-nilainya pun tidak mengecewakan. Kami menghargai apresiasi yang diberikan oleh guru di sekolah dalam wujud nilai, tetapi tidak lantas menjadikannya tujuan terlebih mendewakannya. Mereka pun tahu itu. Prinsip kami, di kelas anak-anak sudah cukup stress dengan tuntutan pelajaran yang berat, ditambah lagi dengan kondisi di mana tidak semua guru mampu mengajar dengan menyenangkan. Alangkah bijaknya jika setibanya di rumah orangtua pun tidak ikut-ikut menekannya dengan berbagai tuntutan yang tidak penting.

Baca juga :  Jika Anak Bertengkar

Otak anak mampu belajar dengan cepat sepanjang metode pengajarannya mengikuti hukum-hukum kerja otak. Salah satunya adalah belajar dengan fun. Sangat disayangkan banyak metode pemelajaran yang justru bertolak belakang dengan apa yang seharusnya diterapkan. Seolah dengan ditekan, dipaksa, anak serta-merta akan lebih cepat dan mudah memahami. Justru TIDAK.

Saya masih ingat kejadian saat masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Waktu itu kami baru saja pindah dari sebuah desa yang cukup tertinggal dari ukuran materi pelajaran. Khususnya matematika. Bapak dengan telaten meluangkan waktunya untuk mengajari kami anak-anaknya. Sayangnya, metode beliau waktu itu belum tepat. Mungkin belum bersentuhan dengan metode terbaru cara belajar yang efektif ketika itu. Setiap kali saya diajari matematika, ujung-ujungnya dipastikan saya menangis. Kenapa? Karena sangat tegang diajari oleh beliau. Makin saya tidak tahu, makin Bapak menunjukkan ekspresi ketidaksabarannya. Meskipun tidak sampai dimarahi atau dipukul, namun raut wajahnya menunjukkan itu. Saya maklum mungkin beliau letih sepulang kerja, mesti menggunakan waktu istirahatnya untuk mengajari kami.

Baca juga :  Bahagia Membesarkan Anak (Bagian 2)

Nyaris setiap malam adegan tersebut berulang. Setiap kali diajari pelajaran matematika ujung-ujungnya saya pasti menangis. Nilai matematikan saya anjlok. Nanti melejit setelah masuk kelas 1 SMU. Bahkan mencapai NEM tertinggi antar sekolah sekecamatan pada tahun kelulusan kami waktu itu. Mungkin karena Bapak tidak lagi harus berjibaku mengajari saya setiap malam matematika. Sehingga saya pun mampu berekspresi belajar bersama dengan teman-teman lain.

Lima tahun belakangan ini saya mengajar di sebuah Taman Pendidikan Alquran (TPA). Selain diajari mengaji, anak-anak juga kami latih gerak dan lagu, bermain musik, kasidahan, dll. Biasanya lagu atau tarian tersebut ditampilkan saat prosesi kelulusan teman-temannya yang sudah waktunya diwisuda. Saya mendapat tugas melatih beberapa di antaranya.

Sebelum menghadapi mereka dulu pertama kali, ada satu keyakinan yang tertanam dalam benak saya, yakni mereka anak-anak yang mudah belajar dan diajar. Karena saya percaya dalam aliran jiwa anak-anak ada kecondongan yang kuat terhadap seni di sana. Tinggal dipancing dan disediakan wadahnya, maka bakat alami mereka pun akan muncul perlahan-lahan. Ada yang menonjol, ada yang biasa-biasa saja. Tugas kita sebagai pelatih atau guru, hanya mengarahkan dan memberi contoh. Setelahnya mereka dibiarkan berlatih sendiri. Kita cukup melihat sambil sesekali membetulkan gerakan-gerakan yang salah. Tapi itu jarang saya lakukan, karena biasanya temannya sendiri yang akan mengoreksinya, kemudian dengan senang hati mengajarinya cara yang benar.

Baca juga :  Anak dan Sekolah

Bahkan sebenarnya potensi anak-anak justru lebih besar dari orang dewasa. Jika tidak berhati-hati bisa-bisa kita hanya akan mengurangi kemampuannya bereksplorasi. Pada prinsipnya jika semua keterampilan diajarkan dengan cara yang menyenangkan, rileks, tanpa marah-marah dan tegang, maka anak-anak saya jamin akan lebih gampang belajarnya. Bukan hanya dalam hal pertunjukan seni, namun dalam belajar pelajaran sehari-hari di sekolah pun harusnya seperti itu.

Karena otak yang rileks akan lebih mudah menyerap pengetahuan dan keterampilan daripada otak yang tegang. Kita hanya perlu memahami ini, maka marilah mengajar selaras dengan cara kerja otak.

Mauliah Mulkin. Ibu rumah tangga. Bergiat di Kelas Literasi Paradigma Institute.

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!