Mauliah Mulkin

Kelemahlembutan yang Menggugah dan Mengubah

Oleh: Mauliah Mulkin*

HORISON, EDUUNEWS.ID – Kisah ini sudah sangat sering kita dengarkan atau kita baca mungkin. Entah itu di buku atau di blog orang-orang yang telah dengan suka rela menuliskannya. Saya sendiri pun membacanya pertama kali dari sebuah buku, hanya sudah lupa judul persisnya. Kisah tentang putra seorang negarawan yang juga peraih nobel kemanusiaan, Mahatma Gandhi.

Dr. Arun Gandhi saat itu sedang memberi ceramah di Universitas Puerto Rico. Sepenggal kisah pun ia ceritakan di sana. Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Duban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak mempunyai tetangga. Jadi tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Pada suatu hari ayah meminta saya untuk mengantar beliau ke kota menghadiri konferensi sehari penuh. Dan saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Baca juga :  Jika Anak Bertengkar

Pagi itu setiba di tempat konferensi ayah berkata, “Ayah tunggu kamu di sini jam 5 sore, lalu kita akan pulang bersama-sama.” Saya segera menyelesaikan berbagai pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian saya pergi ke bioskop. Saya sungguh asyik menonton aksi John Wayne sampai lupa waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17.30, saya langsung berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya.

Saat itu sudah hampir pukul 18.00.
“Kenapa kamu terlambat?” tanya ayah.
Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya terlambat karena menonton bioskop sehingga saya menjawab, “Tadi mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”
Ternyata tanpa sepengatahuan saya, ayah telah menelepon bengkel itu sehingga ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkanmu sehingga kamu tidak punya keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkan ayah pulang berjalan kaki dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah di jalanan seperti itu, maka selama 5,5 jam saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang telah saya lakukan.

Baca juga :  Ketua TP PKK Bantaeng Apresiasi Kegiatan Parenting SD Inpres Teladan Merpati

Sejak saat itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian itu dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, apakah saya akan mendapat pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sungguh luar biasa, saya merasa kejadian itu seolah-olah baru terjadi kemarin. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.

Pendidikan yang paling efektif dan pasti tertanam kuat adalah pendidikan yang disampaikan hingga tertancap di bawah sadar. Apa yang dilakukan ayahanda Dr. Arun Gandhi adalah menyampaikan pesan yang sangat mendalam di pikiran bawah sadar.
(Dikutip dari salah satu blog)

Bagaimana Dengan Kita?
Banyak orangtua ataupun guru di sekolah sering dihinggapi kebingungan, bagaimana mesti bersikap saat mendapati anak-anak berlaku tidak jujur atau bohong. Namun di tengah rasa bingung tersebut, muncullah endapan ingatan masa kecil bagaimana kita dibesarkan dulu. Saat kita kedapatan berbohong, bahkan mencuri barangkali, orangtua pun tanpa ampun menghujani kita dengan gagang sapu, pukulan dengan ikat pinggang, atau hukuman berat lainnya akibat ulah kita tersebut. Mungkin di antara kita ada yang sadar bahwa apa yang dilakukan itu tidak tepat atau salah. Akan tetapi tak berdaya dan tidak punya pilihan lain, mesti berbuat apa terhadap si anak. Akhirnya muncullah referensi pengalaman masa kecil yang telah lama terpendam di pikiran bawah sadar kita, bagaimana dulu kita diperlakukan saat melakukan hal yang sama. Dan umumnya tindakan yang lazim dilakukan oleh orangtua adalah menghukum baik itu secara psikis maupun fisik. Karena hal tersebut diyakini sebagai satu-satunya cara paling ampuh untuk membuat anak jera.

Baca juga :  Bahagia Membesarkan Anak (Bagian 1)

Jika ditanya mengapa orangtua menempuh cara tersebut, maka dalihnya karena sayang kepada anak. Ironisnya apa yang menjadi tujuan dan niat orangtua tidak serta merta dirasakan pula oleh anak. Yang timbul kemudian adalah perasaan marah, dendam, atau sakit hati akibat adanya hukuman tersebut. Mungkin saja dampak yang dirasakan oleh anak berbeda-beda. Ada yang justru terpacu dengan adanya hukuman, begitupun sebaliknya malah semakin hilang semangat dengan dijatuhkannya hukuman. Perlu pembahasan khusus menyangkut soal ini.

Semoga kisah singkat di atas dapat menjadi bahan renungan sekaligus pertimbangan bagi kita semua dalam merespons perilaku anak-anak kita.

Mauliah Mulkin. Ibu rumah tangga. Bergiat di Kelas Literasi Paradigma Institute.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!