Mauliah Mulkin

Mertua vs Menantu

Oleh: Mauliah Mulkin*

HORISON, EDUNEWS.ID – Satu hal yang cukup mengkhawatirkan bagi pasangan yang akan menikah adalah bagaimana nanti warna hubungan yang terjalin dengan keluarga calon pasangannya. Terutama mertua perempuan. Meskipun saudara-saudara ipar pun bisa jadi akan menimbulkan masalah tersendiri. Namun terkadang cinta yang sudah tertanam pada pasangan dapat mengaburkan semua bayangan tentang apa pun di depan sana. Hingga saat itu tiba.

Masing-masing pihak bertemu dengan membawa harapan besar satu sama lain. Menantu yang ingin disayangi selayaknya anak sendiri. Di sisi lain mertua berharap menantunya adalah sosok yang mendekati sempurna. Baik, sopan, rajin bekerja, rajin beribadah, menghormati mertua, mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga, serta sayang pada istrinya. Jika ia istri, diharapkan bisa menghormati suaminya, memperhatikan kebutuhan suami, rajin bekerja, terampil mengelola rumah tangga, bisa mengurus anak dengan baik, hemat, dan menghormati mertuanya.

Bulan-bulan pertama boleh jadi akan mudah dilalui, mengingat suasana permakluman yang masih menyelimuti hari-hari mereka. Di samping naluri untuk hanya menampilkan hal-hal yang baik-baik saja. Namun seiring berjalannya waktu, segala sesuatu yang tidak melekat dalam bentuk karakter asli pada akhirnya akan tampak jua ke permukaan. Usaha memaklumi sudah mulai luntur perlahan seiring adaptasi yang sudah semakin cair, pada akhirnya yang mencuat ke permukaan adalah tuntutan-tuntutan.

Baca juga :  Anak Patuh atau Anak Kritis?

Jika pasangan baru ini tinggal terpisah dari mertua, persoalan tersebut hanya akan muncul sesekali saja saat kedua pihak bertemu. Akan tetapi jika harus tinggal seatap dengan keluarga suami atau istri maka gesekan-gesekan akan sangat mudah terjadi. Maka persoalan demi persoalan pun akan saling bergandengan tarik-menarik satu dengan lainnya. Masakan istri yang kurang bervariasi bisa jadi awal masalah. Oleh mertua ia akan dianggap tidak terampil di dapur. Semasa gadis tidak biasakah ia memasak? Ditambah lagi dengan jam bangun istri yang seringkali keduluan oleh suami. Masalah ini bisa dirangkaikan dengan masalah sebelumnya, soal masakan tadi. Bila tidak berhubungan, biasanya akan dicarikan hubungannya. Mertua mulai menampakkan kekecewaannya baik secara terang-terangan maupun lewat sindiran.

Belum lagi jika pemahaman keluarga pasangan, misalnya suami yang masih sangat kental mempraktikkan budaya patriarkal. Di mana pelayanan terhadap suami adalah yang nomor satu. Piring dan gelas mesti dikhususkan. Jika tidak akan pamali. Pekerjaan suami hanya yang berurusan dengan wilayah publik. Wilayah domestik menjadi urusan istri. Sehingga untuk urusan cuci piring kotor sendiri pun harus istri yang mengerjakannya. Sementara antara suami dan istri sesungguhnya sudah terjalin kesepakatan-kesepakatan. Termasuk pembagian pekerjaan dalam rumah tangga. Namun segalanya bisa menjadi buyar dan berantakan manakala dominasi mertua sangat besar dalam kehidupan mereka. Anak tidak memiliki keberanian mengemukakan pendapat. Salah satu sebabnya karena khawatir akan berselisih paham yang mengakibatkan dikenainya vonis durhaka pada orangtua.

Baca juga :  Memerdekakan Anak

Masih banyak lagi masalah-masalah lain mungkin saja muncul dalam kehidupan sehari-hari pasangan suami-istri baru. Dari yang sepele dan remeh-temeh hingga masalah prinsipil yang menimbulkan dilema tersendiri. Sehingga jika mereka tidak mempersiapkan diri dalam hal pengetahuan, emosional, dan mentalitas, rumah tangga akan menjadi mudah goyah padahal layar perahu baru saja mulai dikembangkan.

Apa solusinya?
1. Siapkan pengetahuan sebanyak mungkin soal kerumahtanggaan dan pengasuhan sebelum memasuki arena pertarungan. Sehingga manakala timbul masalah setidaknya kita tidak akan panik dan bingung mesti berbuat apa.
2. Saling mengenal pribadi masing-masing sebelum kedua insan memutuskan untuk menikah. Ketegasan dan keberanian sangat diperlukan saat akan memulai mandiri berumah tangga. Sehingga apa pun nantinya masalah yang dihadapi, pengambilan keputusan tetap akan diserahkan pada mereka berdua.
3. Diperlukan kelapangan hati dan prasangka baik. Orang-orang yang lapang hatinya tidak akan mudah terpengaruh oleh sikap-sikap orang lain yang kurang berkenan. Begitupun dengan prasangka baik. Ia tidak akan mudah tersinggung oleh sebab suatu perilaku di luar dirinya. Karena baginya orang tersebut sesungguhnya tidaklah bermaksud menyakiti hatinya. Hanya saja mereka tidak mengetahui cara yang lebih baik untuk melakukannya.
4. Berteguh hati dan bersabar dalam menjalani proses yang tidak mengenakkan. Karena suka dan duka, senang dan bahagia berada dalam satu paket. Kita tidak bisa hanya memilih yang mengenakkan saja.
Terus menerus menambah wawasan dan pengetahuan serta keterampilan berhubungan dengan orang lain, sehingga apa pun masalah dan bagaimana pun situasinya kita akan mampu menghadapinya.
5. Tak lupa doa yang harus senantiasa dipanjatkan pada Yang Kuasa serta sikap pasrah dan ikhlas terhadap segala yang terjadi dalam kehidupan ini.

Baca juga :  Sebelum Menuntut, Mari Menuntun

Mauliah Mulkin. Ibu Rumah Tangga. Pegiat di Kelas Literasi Paradigma Ilmu.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!