Mauliah Mulkin

Orangtua Juga Manusia

Mauliah Mulkin

Oleh: Mauliah Mulkin*

HORISON, EDUNEWS.ID – Jika ada buku yang berjudul Anak Juga Manusia maka saya ingin menulis perihal Orangtua Juga Manusia. Bukan ingin menandingi gagasan dalam buku tersebut, melainkan ingin membuka mata dan wawasan kita selama ini sebagai orangtua lewat judul di atas.

Di dunia tempat kita menjalani hidup ini selalu diwarnai dengan dua sisi atau kondisi yang saling berlawanan. Seperti juga ciptaan Tuhan lainnya, ada bulan ada matahari, ada malam ada siang, ada baik ada buruk, ada senang ada bahagia, ada yang inginkan kesempurnaan, ada yang biasa-biasa saja, dan seterusnya. Di ranah orang dewasa pun begitu. Ada sekelompok orang yang sangat menjunjung tinggi keteraturan, sehingga sulit bertoleransi terhadap kesemrawutan, ada pula yang tidak peduli terhadap segala peraturan yang ada. Yang penting hidup happy pasti segalanya akan berjalan lancar. Ada yang ingin melakukan segalanya dengan sempurna, ada pula yang tidak.

Hidup jadi penuh dengan warna-warni sifat dan karakter manusia. Jika tidak mampu menikmatinya maka orang akan mudah dilanda stres. Bukankah hanya pelaut yang mampu menyesuaikan layar dengan anginnya yang dapat mengarungi samudra? Intinya, seseorang mesti pintar menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarnya.

Baca juga :  Anak Patuh atau Anak Kritis?

Menjadi sempurna adalah sebuah niat yang baik. Akan tetapi untuk dunia orangtua, menyatakan diri apa adanya, mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya di hadapan anak dalam situasi tertentu bukanlah sebuah kesalahan atau kegagalan. Justru ia akan semakin mengukuhkan keberadaan kita sebagai orangtua yang juga seorang manusia. Dengan kondisi apa adanya, diharapkan anak akan lebih mudah menaruh simpati dan empati pada situasi orangtua. Sehingga lebih gampang untuk diajak bekerja sama. Tidak ada unsur manipulatif di dalam hubungan tersebut, tidak nampak usaha untuk menutup-nutupi perasaan yang sebenarnya. Untuk itu orangtua perlu mempelajari ketrampilan-ketrampilan tersebut.

Misalnya, seorang ibu yang letih karena baru saja membereskan rumah mulai ujung teras depan hingga halaman belakang, memutuskan untuk beristirahat sejenak di atas sofa sambil menikmati secangkir teh hangat. Putrinya yang masih batita datang mendekat meminta tolong dibacakan buku dongeng anak. Karena si ibu masih capek dan kurang mood untuk memenuhi permintaan anak, maka ia boleh saja menolak saat itu dan berjanji nanti malam akan memenuhinya. Atau dengan mengatakan, “Maaf ya sayang, Ibu lelah sekali sekarang. Bisa kita melakukannya nanti sore setelah Ibu selesai beristirahat?”

Baca juga :  Pilpres dan Media Sosial yang Asosial

Anak menerima atau tidak, langkah Ibu sudah tepat. Menyatakan pada anak apa yang ia rasakan dan bukannya memenuhi permintaan anak, hanya karena khawatir dicap sebagai orangtua yang tidak sayang anak. Karena menolak keinginan baik anak. Anak yang terbiasa dengan relasi manusiawi seperti ini pun akan mudah mengerti sepanjang hal itu dikomunikasikan dengan penuh kasih sayang.

Contoh lain, anak yang bertanya soal pekerjaan rumah pada ayahnya. Ayah yang saat itu tidak mengetahui jawaban tersebut, sah-sah saja untuk mengatakan yang sejujurnya kepada anak. “Ayah juga tidak tahu. Yuk, kita sama-sama mencarinya di internet.” Ayah atau ibu boleh saja salah, boleh tidak tahu, boleh merasa lelah, atau boleh merasa marah. Yang penting, semua dilakukan dalam koridor komunikasi yang sehat dengan anak.

Baca juga :  Mertua vs Menantu

Pada dasarnya anak perlu mengetahui perasaan yang sesungguhnya dari orangtua mereka. Jika memang perilaku anak membuat ayah atau ibu kecewa, maka mereka harus menyatakannya di depan anak. “Ayah/Ibu kecewa melihat sikapmu terhadap Nenek tadi pagi. Mengapa kamu melakukan hal itu?” Rasa marah, rasa kecewa boleh saja kita ungkapkan pada anak, asalkan dengan cara yang tepat. Bukan dengan nada marah, menilai, atau evaluatif. Tapi mengungkapkan perasaan kita sebagai orangtua, sebagai manusia. Jika perasaan tersebut ditutup-tutupi hanya karena menghindari disebut orangtua yang “tidak sayang anak”, “tidak hebat”, “tidak tahu segalanya”, maka saatnya kita mengubah paradigma tersebut.

Mari menyempurna dengan segala kekurangan kita. Karena orangtua juga manusia.

Mauliah Mulkin. Ibu Rumah Tangga. Bergiat di Kelas Literasi Paradigma Ilmu.

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!