Mauliah Mulkin

Perangkat Digital, Kawan Sekaligus Lawan

Oleh: Mauliah Mulkin*

 

HORISON, EDUNEWS.ID – Jika muncul pertanyaan, dapatkah kita manusia yang hidup di zaman ini bisa melakukan aktivitas sehari-hari tanpa perangkat digital? Rasanya mustahil menjalani kehidupan era kini tanpa kehadiran benda-benda tersebut. Laptop, ponsel cerdas, dan jaringan internet adalah rangkaian benda-benda yang lekat dalam keseharian kita. Pekerjaan apa pun yang muncul dalam benak bisa dipastikan terhubung dengan perangkat-perangkat ini. Ditambah tuntutan pekerjaan, profesionalisme, kecepatan, kebaruan, dan persaingan antar individu semakin mengukuhkan keberadaannya.

Bahkan interaksi manusia mulai bangun hingga tidur lagi seluruhnya dipandu dan disandarkan pada benda-benda tersebut. Percakapan dalam situasi tatap muka yang dulu akrab dengan sesama teman dan keluarga sudah tidak lagi dianggap penting dan utama, karena semuanya bisa dilakukan melalui perantaraan ponsel cerdas. Kelas sosial pun bisa terdongkrak lewat model dan jenis perangkat-perangkat yang menempel di tubuh. Serasa kurang gaul dan update jika tak mengikuti trend teknologi terkini.

Sebagaimana kehadiran televisi di Indonesia pada akhir tahun 60-an, yang mengakibatkan masyarakat mengalami keterkejutan teknologi, kira-kira situasi yang ada saat ini kurang lebih sama dengan situasi pada masa itu. Bahkan teknologi yang kini berkembang semakin canggih membawa dampak yang jauh lebih parah daripada televisi dulu. Para pengamat sosial menyatakan, masyarakat kita seharusnya mengukuhkan diri terlebih dulu pada budaya baca barulah kemudian budaya nonton merambah masuk ke tengah-tengah mereka.

Karena budaya baca yang belum tertanam baik, masyarakat pun tentunya lebih memilih menikmati suguhan tontonan depan layar dengan gambar bergerak serta variasi suara yang melenakan pendengaran, ketimbang menatap deretan tulisan tanpa gambar dalam lembaran-lembaran kertas. Jelas kedua media ini sangat berbeda dalam memberikan informasi kepada pembaca dan penontonnya. Dalam membaca banyak aspek yang terlibat, seperti imajinasi, logika, analisa, dan konsentrasi. Sementara perangkat digital hanya melibatkan sebagian kecil saja. Bahkan cenderung mengikis aspek lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian terakhir dari Yale University of Public Health, meluangkan waktu untuk membaca buku 3,5 jam per minggu memiliki kesempatan hidup panjang lebih tinggi. Membaca buku dapat melatih fokus dan konsentrasi. Membaca buku dapat memperbaiki memori. Itulah beberapa di antara manfaat membaca buku dibandingkan dengan membaca dan menatap huruf di layar laptop atau ponsel cerdas.

Jika pada orang dewasa saja mengandung banyak kerugian apatah lagi bagi kalangan anak-anak. Tentu dampak negatifnya masih akan terus bertambah. Sudah saatnya kita mengevaluasi penggunaan seluruh perangkat digital yang selama ini kita miliki, baik pada orangtua, terlebih pada anak-anak. Di antaranya kemampuan sosialisasi dan emosi anak akan mengalami gangguan. Tentunya kita tidak ingin menghasilkan generasi yang tidak berkualitas dan jauh dari harapan kita sebagai orangtua. Masih banyak dampak buruk yang ditimbulkan dari penggunaan perangkat digital ini. Perlu pembahasan khusus yang menyeluruh terkait masalah ini.

Satu hal yang perlu dilakukan oleh kita sebagai orangtua, yakni membatasi diri dalam menggunakan perangkat-perangkat ini. Terutama jika sedang berhadapan dengan anak. Karena mustahil mereka akan melepaskan diri dari cengkeraman benda tersebut sementara orangtua sendiri di depan mata masih asyik masyuk menggunakannya. Perlu kebijaksanaan dan komunikasi dua arah dari pihak orangtua untuk menjelaskan persoalan ini kepada mereka. Bagaimanapun anak meniru dengan mata, bukan dengan pendengarannya.

 

Mauliah Mulkin. Ibu rumah tangga. Pegiat Kelas Literasi Paradigma Ilmu.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close