Mauliah Mulkin

Sebelum Menuntut, Mari Menuntun

Oleh: Mauliah Mulkin*

HORISON, EDUNEWS.ID – Secara umum teori-teori kepemimpinan banyak mengajarkan, betapa menjadi seorang pemimpin itu sungguh berat. Ia perlu memiliki sederet kualifikasi untuk dapat menyandang atau menduduki posisi sebagai pemimpin. Namun khusus untuk orangtua, rupanya kualifikasi yang dimaksud seringkali ibarat pepatah, jauh panggang dari api. Kenyataan sangat  berbeda dari harapan. Kita menjadi orangtua bukan karena memenuhi syarat ataupun memiliki kompetensi, melainkan karena  menerima efek biologis dari sebuah pernikahan.

Tengoklah kiri kanan kita. Anak-anak yang dilahirkan berdempet-dempet jaraknya, dan dalam jumlah yang banyak tanpa pengaturan. Sangat lumrah terjadi anak-anak yang seolah berlomba saling mendahului siapa yang lahir pertama lalu berikutnya, dan berikutnya lagi. Jika kelahiran mereka didahului perencanaan yang matang sebelumnya, semisal berapa tahun jarak anak yang satu dengan anak berikutnya, atau pada usia berapa si ibu sudah akan berhenti melahirkan; meskipun kelihatan banyak dan berdekatan jaraknya, belum tentu mereka kewalahan. Siapa tahu dalam pandangan orang luar nampak melelahkan, akan tetapi bagi si pelaku sendiri ia justru menggembirakan dan membahagiakan. Wallahu a’lam.

Baca juga :  Mari Sebarkan Cinta

Untuk itu dalam tulisan ini saya hanya akan membahas orang-orang yang tidak siap dan berkeluarga tanpa perencanaan. Lalu apa hubungannya dengan persoalan kepemimpinan?  Hubungannya ada pada keteladanan. Orangtua yang menjadi pemimpin, khususnya para ayah selaiknya memiliki karakter-karakter yang mumpuni sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga. Karena jika tidak, posisi tersebut akan hanya tinggal nama. Menjabat pemimpin namun tidak memiliki ruh sebagai seorang yang patut untuk diikuti. Orangtua jika tidak menyadari ini sejak awal akan mudah terperangah melihat fenomena-fenomena yang terjadi.

Anak akan dengan mudahnya dicap “pemberontak”, “pembangkang”, “durhaka”, “kurang ajar”, dan lain sebagainya. Tanpa berusaha melihat sumbangsih yang telah mereka berikan pada tumbuhsuburnya perilaku-perilaku asosial anak selama ini. Menuntut seseorang untuk berperilaku sebagaimana yang diharapkan perlu kearifan tersendiri. Ia perlu memahami salah satu prinsip kepemimpinan, pemimpin harus menjadi siapa yang ingin mereka lihat. Logika sederhananya, jika kita sebagai orangtua menginginkan anak berperilaku santun, menghargai orang lain, mampu mengelola emosi dengan baik, sudahkah itu semua menjadi perilaku kita sehari-hari?

Baca juga :  Permintaan Maaf yang Terpaksa

Jika jawabannya adalah tidak, maka mari menjauhi segala tuntutan tersebut. Sebaliknya perbanyaklah menuntun, terutama menuntun diri sendiri terlebih dahulu. Menempa pribadi-pribadi kita menjadi orangtua-orangtua yang lebih baik dan terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Apabila kualitas ini berhasil kita raih, maka atmosfir perubahan menjadi sesuatu yang niscaya. Tidak perlu retorika yang berbunga-bunga bahkan berapi-api disertai kemarahan untuk mengubah orang lain. Jika prinsip-prinsip kepemimpinan disertai metode komunikasi yang tepat banyak kita aplikasikan maka hasilnya tentu akan lebih menggembirakan dan memuaskan kedua belah pihak.

Saatnya menggeser paradigma pola interaksi orangtua-anak, guru-murid. Anak bukan obyek yang tidak punya pikiran dan perasaan, melainkan mitra sejajar yang perlu senantiasa diperhitungkan dan dihargai pendapat dan eksistensinya. Mereka manusia yang sama dengan kita orang dewasa. Hanya pengalaman saja yang membedakan. Maka bercakap dan berinteraksilah sebagaimana dua orang dewasa yang saling menghargai dengan saling mendengarkan buah pikir masing-masing.

Baca juga :  Kelemahlembutan yang Menggugah dan Mengubah

Tinggalkan cara-cara lama di mana percakapan orangtua-anak hanya memuat pertanyaan basa-basi dan perintah ini itu.  Menghakimi perkara tanpa memberi kesempatan anak menjelaskan pokok persoalannya. Atau mendiktekan solusi tanpa keinginan mendengar kronologis permasalahannya. Saatnya anak dan orang dewasa duduk bersama dalam kesetaraan. Berdiskusi menggali ide-ide cemerlang mereka. Bertanya hal-hal yang tak dimengerti dunia orangtua. Jika kita mau meluangkan waktu dan memberi mereka ruang untuk berekspresi, lalu orangtua mengapresiasi, hasilnya tentu akan mencengangkan.

Mauliah Mulkin. Ibu rumah tangga. Bergiat di Kelas Literasi Paradigma Institute.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!