Mauliah Mulkin

Serba Salah Hidup Anak

Oleh: Mauliah Mulkin*

HORISON, EDUNEWS.ID – Orangtua, orang dewasa, atau guru banyak mengeluh. Anak-anak sekarang kerjanya hanya main game online, sibuk chatting dan unggah foto-foto selfie di media sosial. Mereka enggan melakukan kegiatan fisik seperti main sepeda, main bola di lapangan, atau jalan-jalan sore bersama teman. Saya pernah berada dalam kelompok ini. Inginnya anak-anak melakukan kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat, seperti zaman kita kecil dulu. Atau era anak-anak yang lahir belasan tahun sebelumnya. Di saat mereka masih begitu asyik menikmati permainan masak-masak, main rumah-rumahan, kejar-kejaran di halaman, semprot-semprotan pistol air, atau main bola sepak bagi anak laki-laki. Apa yang sudah terjadi dengan kehidupan anak-anak era informasi dan teknologi canggih seperti sekarang ini?

Orang-orang dewasa nampak tak berdaya terlebih anak-anak yang memiliki jiwa masih sangat labil dan butuh bimbingan serta arahan dari orangtua maupun gurunya di sekolah. Orangtua inginnya begini, lingkungan menyediakan yang berbeda. Anak jadi bingung, terombang-ambil dalam rasa ingin tahu yang besar. Banyak pakar mengatakan, masyarakat kita sesungguhnya belum siap menghadapi serbuan informasi dan teknologi yang saat ini melanda pula bangsa-bangsa di negara lain. Saat masyarakatnya masih belum kuat berpijak pada tradisi dan budaya baca yang baik, media serupa televisi sudah menyerbu masuk. Saat bangsa kita masih tertatih-tatih membaca, internet sudah menerobos masuk ke pelosok-pelosok kampung. Anak-anak tak mau ketinggalan. Lagi-lagi tak berdaya, terbawa arus deras yang menyeretnya.

Baca juga :  Ikhtiar Menambal Devisa

Dunia tempat kita tinggal seolah sudah didesain agar sepenuhnya tergantung pada pergerakan teknologi. Sayangnya tidak mampu dibarengi dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang. Akhirnya orangtua kewalahan, anak-anak pun tak sedikit yang terbengkalai. Mereka lahir prematur dan tumbuh di tengah lingkungan yang kurang kondusif. Anak berjuang menerobos jalannya sendiri-sendiri. Orangtua masih sibuk beradaptasi dan bersosialisasi dengan dunianya yang lain. Anak melihat, menyerap bak spons, lalu meniru seluas panca indranya.

Sementara itu anak-anak diharapkan bertumbuh dengan kepribadian yang baik. Berakhlak terpuji, cerdas, dan bertanggung jawab. Pertanyaannya, apa yang sudah kita lakukan untuk menciptakan karakter-karakter baik tersebut? Saat ini di tengah gempuran teknologi dan budaya yang bebas hilir-mudik di depan mata tanpa sensor, kita perlu meningkatkan kewaspadaan, menambah amunisi pengetahuan, serta mengintensifkan komunikasia dua arah dengan anak-anak. Tanpa melakukan itu semua mustahil sosok anak yang kita idealkan akan terwujud dengan mudahnya.

Baca juga :  Keluarga Segalanya

Pada dasarnya seorang anak ingin membahagiakan atau menyenangkan hati orangtuanya. Hanya saja sering terjadi mereka salah bertindak, yang kemudian dimaknai negatif oleh orangtua. Misalnya, seorang anak yang diam-diam menabung untuk membeli hadiah sebagai kejutan di hari ultah ibunya. Dikumpulkannyalah uangnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya cukup untuk membeli kado yang berharga mahal untuk ukuran kantong seorang anak sekolah. Saat menerima kado tersebut, si ibu sangat senang bercampur penasaran, uangnya dari mana sehingga dapat membeli hadiah mahal begini.

Ibu ini marah, anak jadi kecewa dan sakit hati. Contoh lain lagi, seorang anak perempuan usia tiga tahun didapati oleh ibunya dalam keadaan belepotan bekas lipstik merah di wajah dan kedua tangannya. Tak jauh dari tempat itu, sebuah lipstik tergelatak dalam kondisi patah dan tak berbentuk. Tanpa ampun dan tanpa perhitungan, ibu tersebut memarahi dan memukul kedua tangan si anak hingga merah dan menyisakan tangis yang panjang menyayat hati. Dengan emosi marah yang masih memuncak, ibu ini masuk ke kamarnya, dan melihat cermin yang bertuliskan “Aku sayang mama”. Tangis penyesalannya tak terbendung lagi. Ia mencari dan memeluk sayang buah hatinya itu.

Baca juga :  Memerdekakan Anak

Jika orangtua tidak memahami keinginan anak, mereka masih punya “jurus” yang bisa diandalkan, yakni posisi mereka sebagai orangtua. Tetapi anak yang tidak mengerti keinginan orangtua tak mampu berbuat apa-apa, kecuali pasrah menerima takdirnya sebagai anak. Maka tak heran jika pelarian atas ketidaksalingpahaman ini berujung pada berontaknya anak dengan cara bergabung dengan kelompok-kelompok asosial di luar sana. Memilih berbaur dengan teman-teman yang menerima dirinya ketimbang berada di tengah orang-orang yang tidak ia pahami keinginannya.

Semoga kita para orangtua dapat terus meningkatkan kapasitas sebagai orangtua, agar anak dapat menjalani hidupnya dengan lebih mudah. Anak bahagia, orangtua pun terlebih lagi bahagianya.

Mauliah Mulkin. Ibu rumah tangga, pegiat di Kelas Literasi Paradigma Institute.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!