MUZAKKIR DJABIR

Dari Reformasi Menuju Transformasi

 

 

Oleh : Muzakkir Djabir*

OPINI, EDUNEWS.ID – Genap 20 tahun usia reformasi kini. Gerakan reformasi 98 menandai satu fase perjalanan sejarah kebangsaan di republik ini. Etape bergantinya rezim otoritarian orde baru menuju etape indonesia modern yang lebih terbuka dan demokratis.

Tembok kekuasaan rezim Soeharto yang berdiri kokoh selama 32 tahun, akhirnya rontok oleh gelombang gerakan mahasiswa bersama kelompok civil society lainnya.

Kaum muda selalu berada di garda terdepan dalam sejarah perubahan di republik ini, tengoklah peristiwa kelahiran Boedi Oetomo tahun 1908 yang saban tahun diperingati sebagai hari kebangkitan nasional.

Sumpah Pemuda tahun 1928 maupun Kemerdekaan tahun 1945, dan banyak lagi peristiwa bersejarah lainnya yang mencatatkan pemuda sebagai pionirnya. Lalu, apa yang bisa kita refleksikan dari 20 tahun pasca reformasi?

Apakah perubahan yang terjadi telah menjadi jembatan bagi bangsa ini lebih maju, mandiri serta menyejahterahkan rakyatnya? Nada gugatan seperti di atas terlampau sering kita dengarkan dari publik, banyak suara ketidakpuasan menyikapi kondisi kebangsaan saat ini yang dinilai ‘kehilangan arah’!

Gelombang demokratisasi dan kebebasan bereksperesi menjadi faktual dirasakan pasca kejatuhan rezim Soeharto, nampak euforia menyeruak menyelubungi alam pikiran dan emosi organ gerakan pro demokrasi, euforia yang kebablasan yang menyebabkan melemahnya konsolidasi civil society.

Keberhasilan melengserkan rezim orde baru tak dìbarengi dengan konsistensi mengawal proses transisi politik, tak tersedia gagasan besar (roadmap) Indonesia baru yang meliputi sistem kenegaraan dan melingkupi seluruh sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akibatnya, kita gagap dan terkesan asal mengadopsi sistem demokrasi liberal ala Barat, tanpa ada filter, relevan tidaknya dengan konstruksi dan anatomi sosio budaya masyarakat Indonesia?

Parahnya lagi, kelompok civil society terbelah, tak berapa lama setelah Soeharto menyatakan lengser dari kursi kepresidenan, kelompok-kelompok ini terpolarisasi berdasarkan interest dan agenda politiknya masing-masing.

Akibatnya, aktor-aktor lama yang masih berwatak dan berparadigma orde baru dengan kekuatan sumber daya yang dimiliki dengan cepat melakukan rekonsolidasi dan ‘mengendalikan’ proses transisi yang berlangsung.

Simak saja, proses demokratisasi di Indonesia tak lebih dari demokrasi elektoral, kaya dengan pemilihan dari level terendah hingga pemilihan presiden, saban waktu di pelbagai wilayah nusantara ini, selalu bising dengan informasi soal pemilihan, politik uang menjadi mainstream dan politik nilai-gagasan menjadi sepi.

Surplus kebebasan berekspresi mengarah kepada kebebasan tanpa nilai. Lembaga-lembaga adhoc ramai didirikan tanpa fungsi yang jelas dan kuat, justru menghamburkan anggaran negara.

Supremasi hukum masih sekedar jargon sebab hukum masih lebih tajam kepada mereka yang lemah dan korupsi merajalela. Keterbelahan sosiologis antara anak bangsa juga perlu mendapat atensi yang serius, cepat dan tepat sebab riskan melahirkan destabilitas sosial maupun politik nasional.

Sistem ekonomi berjalan mengikuti logika kapitalisme. Dan diujung semua itu, kini rakyat mayoritas belum menikmati kehidupan yang memakmurkan mereka, sebagian dari mereka masih dibelenggu kemiskinan akut, ketimpangan (gap) antara kaum kaya dengan kaum miskin masih terlampau lebar bayangkan 49,3% kekayaan nasional hanya dikuasai oleh 1% orang terkaya di indonesia serta kemandirian bangsa berdiri tegak hanya pada pidato-pidato para petinggi di podium.

Kenyataan terkini bangsa ini, disaat reformasi sudah menginjak usia 20 tahun, berkembang logika dan harapan dari sebagian publik untuk kembali ke masa ‘gelap’ rezim otoriter orde baru, logika yang paradoks dan tidak bisa diterima nalar sehat.

Mengerakkan Transformasi

Wacana publik yang merindukan atmosfir zaman Soeharto menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang perlu diluruskan dalam perjalanan panjang bangsa ini, agar mampu meraih cita-cita kemerdekaannya sebagaimana termaktub di dalam pembukaan UUD 1945 dan atau gejala tersebut mengambarkan konstruk psikologi publik yang apatis atas lemahnya peran negara (pemerintah).

Kuncup-kuncup bunga demokrasi yang bermekaran tetap penting untuk terus disemai dan dirawat. Demokrasi prosedural harus segera didrive menuju pada demokrasi substantif. Proses perubahan gradual melalui jalan reformasi ini, mendesak untuk didorong bertransformasi secara sistemik dan simultan.

Reformasi senyatanya belum menghantarkan perubahan yang signifikan karena hanya melahirkan pergantian aktor tanpa ada injeksi dan internalisasi nilai-nilai kebaruan seperti yang termaktub dalam spirit gerakan reformasi 98.

Menilik potret keindonesiaan di usia 20 tahun reformasi, kaum pergerakan, khususnya gerakan mahasiswa, mestinya menjadikan peringatan reformasi sekarang ini sebagai momentum untuk membangun kembali orientasi gerakan yang lebih transformatif.

Mentransformasikan nilai-nilai kebaruan dan kemajuan, seperti; progresif, visioner, transparan, bertanggungjawab, merdeka, toleran, peduli, terbuka, berintegritas, profesional, egaliter, demokratis dan anti korupsi.

Nilai-Nilai (values) kebaruan tersebut harus menjadi paradigma baru dalam alam pikiran seluruh rakyat Indonesia, agar mewujud menjadi arus kekuatan kolektif dalam memanifestasikan wajah indonesia baru.

Nilai-nilai kebaruan dimaksud bersumber dari falsafah yang tumbuh sebagai kearifan lokal (local wisdom) serta prinsip-prinsip ajaran keagamaan yang dianut masyarakat Indonesia.

Republik ini defisit nilai (integritas) dari para tokoh-tokoh utamanya, miskin keteladanan dari para pemimpinnya, nusantara rindu dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti Soekarno, Hatta, Natsir, Agus Salim, Kasman Singodimedjo, Tjokroaminoto dan sebagainya, figur yang menginspirasi, teladan dan mengerakan.

Republik ini, memiliki potensi yang lebih dari cukup untuk tampil menjadi negara maju, sejahtera dan disegani. Gugusan pulau yang membentang bak zamrud khatulistiwa, keindahan dan kekayaan yang terkandung didalamnya tak terkira.

Indonesia akan menikmati bonus demografi di tahun 2045 dan diprediksi oleh PwC sebagai negara nomor 5 terkuat ekonominya di dunia pada tahun 2030 serta negara dengan populasi penduduk terbesar ke 4 di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat.

Segala potensi raksasa yang dikandung oleh republik ini tak akan bermanfaat jika transformasi nilai-nilai kebaruan yang disebutkan di atas tidak dimpelementasikan dengan baik. Reformasi telah memberikan ‘ruang dan atmosfir baru’ serta momentum untuk membenahi republik ini.

Transisi politik yang berkepanjangan harus diakhiri. Segala daya upaya anak negeri perlu digerakkan untuk bersatu, bergerak bersama mendorong gelombang Transformasi. Transformasi indonesia merupakan gerakan simultan antara penguatan karakteristik (values) masyarakat dengan kerja redesain seluruh sistem yang menjadi fondasi bekerja dan berjalannya pemerintahan dengan baik serta efektif.

Redesain terhadap sistem politik, ekonomi, sosial, pendidikan dan kebudayaan yang berbasis pada nilai-nilai yang tumbuh-kembang di masyarakat kita yang terkompilasi di dalam pancasila! Wallahu ‘alam bisshawwab.

Muzakkir Djabir, Direktur Eksekutif Pusat Studi dan Transformasi (PUSARAN) Indonesia

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!