MUZAKKIR DJABIR

Gelombang Perubahan Politik Malaysia

 

 

Oleh : Muzakkir Djabir*

OPINI, EDUNEWS.ID – Gelombang perubahan politik di negeri jiran kita (Malaysia) sedang bergerak merontokkan kokohnya dominasi struktur politik yang ditancapkan Barisan Nasional (BN) yang sudah berkuasa lebih dari 6 dekade merupakan koalisi yang beranggotakan 13 partai politik, dimana presiden UMNO sebagai partai terbesar saat ini, bertindak sebagai pemimpin koalisi.

Rakyat Malaysia pada pemilu kali ini, mayoritas menjatuhkan pilihannya kepada Pakatan Harapan. PH merupakan koalisi oposisi gabungan dari 4 partai politik dan bersepakat menunjuk Mahathir Muhamad sebagai ikon perlawanan, politisi gaek dan kharismatik ini menasbihkan dirinya sebagai pemimpin politik tertua (92 tahun) di dunia.

Tun M akan kembali berkantor sebagai Perdana Menteri di Putrajaya, suatu kawasan baru yang dibangun sendiri olehnya ketika kala itu menjadi PM dan diperuntukkan sebagai Pusat Pemerintahan serta industri high tech (Cyberjaya) serupa silicon valley di Amerika Serikat.

Menarik untuk menelisik lebih jauh dinamika politik yang berkembang di Malaysia, bagaimana tidak, struktur politik yang sudah menancap kekuasaannya sejak awal kemerdekaan bangsa ini dari Inggris, bisa tumbang dari kekuatan oposisi yang relatif baru terkonsolidasi.

Faktor-faktor apa yang memengaruhi sehingga BN bisa kalah dan PH memenangkan pemilu yang dihelat kali ini?  Menurut hemat penulis beberapa faktor atau variabel bisa dikemukakan dalam membaca spektrum perkembangan politik di Malaysia terkini, yakni; Pertama, masyarakat Malaysia secara psikologis mulai jenuh dengan dominasi pemerintahan BN yang telah berkuasa lebih dari 60 tahun.

Bangunan psikologis publik tersebut dikuatkan dengan realitas perekonomian Malaysia yang didera dengan pengangguran yang kian tinggi, biaya hidup pun mahal akibat kebijakan goods and services tax (GST) dan upah murah.

Publik menilai BN sebagai the ruling party tidak memiliki inovasi dan kreasi (platform) untuk memajukan Malaysia, justru menyebabkan Malaysia kian terpuruk. Kedua, Pemerintahan PM Najib terlilit dengan skandal mega korupsi 1MDB, perusahaan investasi yang merugikan negara triliunan ringgit.

Utang negara Malaysia sejak pemerintahan Najib juga semakin meningkat serta isu soal tenaga kerja asing, khususnya dari China juga membanjiri Malaysia. Tiga isu utama yang disebutkan di atas yang faktor yang menyebabkan jatuhnya popularitas Najib dan BN ditambah rumor mengenai kehidupan mewah keluarga dekat Najib, khususnya istrinya yang dinilai doyan plesiran dan belanja barang-barang mewah.

Ketiga, Bersatunya kembali antara Mentor dan Murid, Mahathir dan Anwar dalam satu barisan melawan PM Najib. Rakyat Malaysia tentu mahfum, sentuhan tangan dingin seorang Mahathirlah yang membawa Anwar Ibrahim menjadi tokoh utama dalam panggung politik.

Anwar sempat menjadi Menteri keuangan dan deputi di masa Mahathir berkuasa sebagai PM Malaysia. Publik pun memprediksi Anwar akan melanjutkan estafeta kepemimpinan Tun M sebagai PM Malaysia. Tapi, apa ayal, konstalasi pun berubah, hubungan Mahathir dan Anwar merenggang dan tidak harmonis.

Sehingga akhirnya, melalui kuasa Tun M, karier politik Anwar ‘lumpuh’ melalui tuduhan sodomi yang berujung Anwar dijebloskan ke dalam penjara. Seperti adagium dalam politik, ‘tak ada permusuhan yang abadi, kepentinganlah yang mengabadi’.

Adagium tersebut yang mengejawantah dalam mengambarkan relasi antara Mahathir dan Anwar, dua tokoh sentral dalam politik Malaysia yang pernah saling benci dan serang, sekarang kembali bersama dengan dipersatukan bahwa PM Najib dan BN sebagai common enemy mereka.

Penulis pernah berinteraksi secara langsung baik dengan Anwar, Nurul Izzah dan pentolan oposisi yang sebagian besar alumni PKPIM dan ABIM yang memiliki sejarah hubungan dengan HMI di Indonesia, pasca Anwar ‘lengser’ dari panggung utama kekuasaan Malaysia.

Mereka mendirikan sebuah lembaga think tank yang diberi nama Institut Kajian Dasar (IKD), lembaga yang salah satu konsennya terkait dengan isu demokratisasi, korupsi serta reformasi di Malaysia, kajian-kajian mereka kemudian di bukukan.

Melalui lembaga IKD ini pula relasi dan networking kelompok pro demokrasi di seluruh pelosok dunia dikuatkan. Di beberapa kesempatan penulis mengikuti kegiatan IKD tergambar betapa geramnya Anwar atas perlakuan Mahathir terhadapnya. Tetapi, itu dulu, sekarang hubungan mereka kembali mesra.

Politics is the art of the possible, ya politik merupakan seni atau jalan menjadikan sesuatu hal yang tidak mungkin menjadi mungkin atau nyata. Dinamika politik di Malaysia menegaskan perspektif tersebut di atas.

Ada dua fakta politik yang mengejawantah pada peristiwa pemilu di Malaysia yang nampak sangat tidak mungkin terjadi, tetapi kemudian benar menjadi nyata yakni; (1). kekuatan politik yang berusia lebih enam dekade dengan infrastruktur politik yang kuat ternyata dapat ditumbangkan. (2). perseteruan Mahathir dan Anwar yang sangat tajam, akhirnya dapat kembali mesra (harmonis).

Perkembangan politik Malaysia kedepan akan tetap dinamis dan menarik untuk diikuti, masih akan banyak ‘kejutan’ yang terjadi. The little Soekarno (Mahathir Muhamad) pun dilantik sebagai Perdana Menteri ke 7 dalam sejarah modern negeri jiran tersebut, kabinet akan segera terbentuk dan bekerja untuk rakyat Malaysia.

Sejalan dengan itu, transisi politik akan berjalan untuk menyiapkan panggung bagi Anwar Ibrahim. Sedangkan Najib dan keluarganya kemungkinan menanti untuk dipanggil dalam pengadilan berkaitan dengan berbagai skandal yang dinisbatkan kepadanya.

Dalam konteks Indonesia yang akan memasuki tahun politik, banyak pelajaran atau inspirasi yang bisa dipetik dalam proses politik yang terjadi di Malaysia, khususnya bagi kekuatan oposisi yang akan bertarung dengan incumben (Jokowi) pada Pilpres 2019 mendatang (akan dituliskan pada seri berikutnya). Selamat bekerja Tun M.

Muzakkir Djabir, Direktur Eksekutif Pusat Studi dan Transformasi (PUSARAN) Indonesia

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!