MUZAKKIR DJABIR

Lafran Pane, Guru Para Begawan

Lafran Pane

 

Muzakkir Djabir*

 

Agustus silam, dalam rangkaian safari kampanye anti korupsi-bedah buku ‘Jihad Memberantas Korupsi’ di Sumatera Utara, tanpa terencana membawa saya menjejakkan kaki di Sipirok, Tapanuli Selatan, kampung halaman Prof. Lafran Pane, pendiri dan legenda HMI, organisasi mahasiswa islam terbesar di Indonesia, wadah perkaderan yang melahirkan dan mereproduksi muslim modernis secara massif hingga detik ini. Jujur, meski biasa mendengar nama Sipirok ketika membincang sosok Prof. Lafran Pane, saya tak menduga, kampung ini lumayan jauh dari Medan, ibukota propinsi Sumatera Utara. Perkampungan yang berada di perbukitan, bersama dengan DR. Abdullah Hehamahua yang juga mantan Ketua Umum PB HMI, kami bertandang ke rumah Prof. Lafran Pane, berjumpa dengan sanak familinya, lalu ziarah ke makam ibunda Prof. Lafran Pane serta mengunjungi Perpustakaan yang dibangun dan didanai oleh Pemkab Tapanuli Selatan, perpustakaan daerah yang dinamai tokoh kelahiran Sipirok tersebut, proses pembangunan sedang berjalan dan segera diresmikan pada tanggal 19 November mendatang.

Sesampainya di Sipirok, setelah menempuh perjalanan darat sekira 8-9 jam dari Medan, emosi dan pikiran saya terbawa melintasi, menjejak ruang dan waktu kehidupan seorang Lafran Pane, pemuda kampung yang tangguh dan sangat visioner. Saya membayangkan Sipirok di masa itu, pasti masih menjadi daerah yang sulit dijangkau bahkan bisa di bilang tertinggal dibanding dengan wilayah disekitarnya. Namun bisa melahirkan ‘mutiara’ bangsa dengan legacy yang monumental?. Terbetik dalam pikiran, mungkin alam Sipirok membentuk ketangguhan, kesigapan serta kecerdasan seorang Prof. Lafran Pane, jawabku.

Karakter kepemimpinan dan kepahlawanan seorang Lafran bisa jadi menitis dari Ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane yang merupakan jurnalis, sastrawan, kepala sekolah HIS, pendiri Muhammadiyah di Sipirok. Sutan Pangurabaan adalah pendiri dan pemimpin Surat Kabar Sipirok-Pardomuan (terbit 1927), berbahasa Angkola, salah satu koran yang menjadi corong kemerdekaan Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera. Dua kakak kandung Lafran Pane adalah Sanusi Pane (1905), Armijn Pane (1908), merupakan sastrawan, budayawan yang produktif. Sayang sekali, sangat sedikit jejak tulisan Lafran yang ditinggalkan buat generasi yang lahir kemudian.

Penulis saat berkunjung ke rumah lafran pane

Imajinasi saya tergelak, sungguh terkesima dengan sosok Lafran yang memiliki pikiran, lalu mengambil inisiatif bersama rekannya, mendirikan wadah perkaderan kepemimpinan yang bernama HMI. Lembaga yang oleh Jenderal Sudirman di sebut ‘Harapan Masyarakat Indonesia’ (HMI). Inisiatif Lafran dkk sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (yang kemudian menjadi Universitas Islam Indonesia, UII) Yogyakarta. Menegaskan soal kecerdasan dan rasa tanggungjawab kaum muda. Betapa tidak, Lafran muda, seorang perantau yang jauh dari keluarga dan merasakan betapa terbatasnya kehidupan masa revolusi fisik. Ketika itu, republik baru saja berusia dua tahun kemerdekaannya, sekumpulan anak muda berinisiatif membentuk organisasi yang tujuannya mengambil peran aktif dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan ajaran islam sebagaimana termaktub tujuan awal didirikannya HMI.

Harapan yang ditegaskan dalam pendirian HMI mengambarkan soal rasa ‘tanggung jawab’ yang begitu tinggi atas nasib dan masa depan bangsa. Mereka memilih jalan ‘aktivisme’ untuk mengasah diri, membangun empati. Disamping itu, pilihan mendirikan HMI sebagai wadah menggembleng pemimpin-pemimpin masa depan, menunjukkan visioner dan tingginya kadar intelektualitas the founding fathers HMI,mereka sadar bahwa republik yang masih belia dan sedang dalam pergolakan revolusi fisik, tatanan sosial-kenegaraannya masih sembrawut, membutuhkan banyak figur-figur tercerahkan dan terlatih untuk berkontribusi secara nyata dalam memobilisasi-konsolidasi perlawanan terhadap penjajah yang masih bercokol sekaligus juga bekerja mewujudkan harmonitas tatanan kemasyarakatan-kenegaraan sebagai sebuah negara baru.

Tak heran, kemudian cukup banyak kader HMI yang memilih berstatus tentara sebagai jalan pengabdiannya, salah satunya yang terkenal Jenderal Achmad Tirtosudiro. ‘Ceruk’ sumberdaya kepemimpinan yang masih minim tersebut, direspon dengan memgader mahasiswa muslim, membekali mereka dengan kemampuan manajemen kepemimpinan, nilai-nilai keislaman dan kenusantaraan.

Proses perkaderan dari sejak didirikan pada 5 Februari 1947 hingga di usia 70 tahun yang mulai terbilang renta, telah banyak melahirkan ‘begawan’ di republik ini, pada bidangnya masing-masing, semisal yang bisa kita sebut, di antaranya; Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Fachry Ali, Amin Rais, Deliar Noer, Azyumardi Azra, Syafii Maarif, Jusuf Kalla, Dahlan Ranuwihardjo, Achmad Tirtosudiro, Akbar Tandjung, dan generasi muda yang lagi ‘moncer’ Anies Rasyid Baswedan. Alumni HMI (KAHMI) hampir pasti bisa ditemukan dalam pelbagai sektor; baik di Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, Pengusaha, Pers dan NGO. Bahkan, guyonnya di DPR RI terdapat Fraksi KAHMI yang beranggotakan lintas parpol.

Meneladani Prof. Lafran

Lafran dan sejawatnya, mungkin tak pernah menyangka, HMI yang didirikannya bermetamorfosis, eksis menjadi organisasi yang disegani dan melahirkan banyak ‘tokoh’ utama dalam percaturan kehidupan sosial-kebangsaan di Republik ini. Keikhlasan, kesungguhan dan kepedulian merupakan manifesto awal gerakan HMI, energi ini yang terinternalisasi dan menjaga eksistensi HMI hingga dimasa keemasannya pada dekade 90an.

Masihkah spirit ‘lafran’ tetap terjaga?, sejujurnya eksistensi dan kiprah HMI bahkan KAHMI mulai banyak dipertanyakan, bahkan ditenggarai cahayanya kian redup, di kampus-kampus besar, HMI tinggal nama dan mulai kehilangan peminat, HMI terjebak pada romantisme, membesar-besarkan ‘prestasi’ masa lalu yang dilakukan pendahulunya, tetapi ‘gagap’ hendak kemana dan mau melakukan apa di era modern ini?.

Diskursus intelektual menjadi sepi, berganti menjadi debat dan cara mendapatkan harta plus kekuasaan, perebutan kekuasaan di struktur kepengurusan dari level bawah hingga tertinggi bak kampanye partai politik dengan mengunakan ‘ongkos’ yang tidak sedikit, anehnya kaum terpelajar ini, kadang menggunakan cara-cara premanisme untuk merebut kekuasaan di HMI. Makanya, jangan heran kemampuan menulis yang dibangun dari membaca dan diskusi intensif sebagai kultur HMI kian langka. Kepedulian untuk pembelaan dan mengadvokasi kepentingan kaum marginal pun kian menipis diganti dengan aksi-aksi sebagai tim sukses dalam event-event politik.

Penganugerahan gelar ‘Pahlawan Nasional’ untuk Prof. Lafran Pane hendaknya dijadikan pemantik untuk merefleksikan kembali nilai-nilai yang diwariskan beliau, nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan dan berkontribusi. Prof. Lafran Pane adalah guru dengan tindakan, suri tauladan bagi yunior-yuniornya yang datang kemudian, guru para begawan.

Berdasarkan catatan dari yuniornya yang berinteraksi langsung dengannya, Prof. Lafran hidup dengan penuh kesahajaan, mobilitasnya ke kampus untuk mengajar senantiasa ditemani oleh sepeda bututnya, sampai diakhir hayatnya pun, Prof. Lafran tak memiliki rumah pribadi. Keteladanan yang paripurna, orang-orang besar selalu memiliki keistimewaan dengan legacy monumental.

Catatan sederhana ini, sekedar apresiasi atas kerja-kerja ikhlas beliau melahirkan kader-kader umat dan bangsa, rasa syukur atas penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada pemuda Sipirok yang melegenda ini.
Selamat Prof. Lafran Pane.

 

Muzakkir Djabir, Ketua Umum PB HMI 2005-2007

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close