MUZAKKIR DJABIR

Menimbang Penajam Paser Utara sebagai Ibu Kota Baru

Muzakkir Djabir

Oleh : Muzakkir Djabir*

POTRET, EDUNEWS.ID-Wacana pemindahan Ibukota negara kembali bergulir dan ramai dibincangkan oleh masyarakat, setelah Presiden Jokowi dalam rapat kabinet terbatas menyampaikan rencana tersebut, bahkan sudah menyebut bahwa Ibukota negara akan dipindahkan ke wilayah diluar pulau Jawa.

Pelbagai argumentasi dipaparkan tentang penting dan mendesaknya agenda pemindahan Ibukota karena DKI Jakarta dinilai kurang representatif lagi menjadi pusat pemerintahan dan pusat ekonomi. Berdasarkan data Bappenas, kerugian ekonomi yang diakibatkan kemacetan pada tahun ini mendekati angka Rp100 triliun. Banjir juga menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan, 50 persen wilayah Jakarta berkategori rawan banjir, di wilayah Jakarta Utara penurunan permukaan air tanah rata-rata 7,5 sentimeter per tahun. Periode 1989-2007 permukaaan tanah di Jakarta sudah turun sampai 60 sentimeter dan akan meningkat akibat pengurasan air tanah, sedangkan air laut naik rata-rata 4-6 sentimeter karena perubahan iklim.

Baca juga :  Hari Bumi dan Kebijakan yang Bersikukuh Merusak Lingkungan

‘Benoa Taka’ Penajam Paser Utara!

Rencana besar pemindahan ibu kota, tentu membutuhkan persiapan yang matang dengan  memperhatikan aspek geopolitik, geostrategis, geososiobudaya, kesiapan infrastruktur pendukung, kerawanan kebencanaan dan pembiayaan. Presiden Jokowi secara eksplisit menyebutkan Kalimantan sebagai kawasan ibukota yang baru, bahkan Bappenas secara teknis sudah melakukan survey pemetaan di Palangkaraya (Kalteng), Tanah Bumbu (Kalsel) dan Penajam Paser Utara (Kaltim). Ketiga daerah ‘kandidat’ ibukota baru tersebut, tentunya masing-masing memiliki keunggulan, berada pada  posisi tengah sehingga jarak tempuh mereka yang berada di kawasan timur maupun barat relatif seimbang.

Dari ketiga daerah tersebut, menurut saya, Kabupaten Penajam Paser Utara patut dipertimbangkan dan representatif untuk dipilih menjadi ibukota negara karena letaknya pun sangat strategis, bisa menjadi centre untuk integrasi pulau Kalimantan, bisa diakses baik melalui darat, udara dan laut, maknanya Penajam Paser Utara akan memantik geliat sosial-ekonomi di kawasan Kalimantan, sehingga tumbuh menjadi kawasan ekonomi baru yang lebih produktif.

Baca juga :  Mewujudkan Rekonsiliasi Nasional!

Jika menimbang pada aspek geopolitik, geostrategis, geososiobudaya, instruktur pendukung serta kerawanan bencana, Kabupaten Penajam  Paser Utara sudah memenuhi kriteria tersebut, bahkan dibandingkan dengan Palangkaraya dan Tanah Bumbu, tingkat kepadatan tanahnya lebih baik, luasan area untuk membangun kawasan baru ibukota  juga tersedia. Selain itu, Penajam Paser Utara ini, kawasan yang baru bertumbuh sehingga desain tata ruang sebagai ibukota akan lebih leluasa dan maksimal. Daerah ini juga dihuni multisuku dan agama, integrasi sosial, budaya dan keagamaannya terjalin dengan rukun, sehingga juga akan berperan sebagai modal sosial dalam proses pembangunan ibukota baru nantinya.

Pemerintah pusat patut untuk mempertimbangkan dengan baik, bahkan menjatuhkan pilihan untuk menjadikan Penajam Paser Utara sebagai Ibukota negara yang baru karena variabel obyektif yang memang terpenuhi di wilayah yang dinahkodai oleh pemimpin muda, Bupati Abdul Gafur Mas’ud.

Baca juga :  Menakar 'Perkawinan' Sulsel Baru dan Spirit Restorasi di Pilgub Sulsel

Wallahu ‘alam bishawwab.

 

Muzakkir Djabir. Direktur Eksekutif Pusat Studi dan Transformasi (PUSARAN) Indonesia

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!