MUZAKKIR DJABIR

Menunggu (Kembali) Tuah Tuan Abraham!

Muzakkir Djabir, Direktur Eksekutif Pusat Studi dan Transformasi (PUSARAN) Indonesia

Oleh: Muzakkir Djabir* 

POTRET, EDUNEWS.ID-Pagi kemarin, (Senin/7/6/2018) saya berkesempatan jogging menyusuri pinggiran pantai Losari, Makassar. Saat sampai di ‘anjungan’ nampak beberapa orang yang berbaju hitam bergambar wajah mantan ketua KPK Abraham Samad sedang menyiapkan panggung yang lumayan besar, dibelakang panggung tersebut terpampang backdrop berwarna putih bertuliskan ‘Deklarasi Calon Presiden Abraham Samad’. Deklarasi tersebut menambah jejeran publik figur yang mengadu peruntungan menjadi orang nomor satu di republik ini. Nampaknya, Abraham Samad beserta timnya sedang berikhtiar untuk kembali ‘masuk radar’ dalam panggung politik nasional, setelah pernah (hampir) menjadi cawapres Jokowi pada Pilpres 2014 ketika Abraham sedang menjabat ketua KPK RI, rumorsnya nama Abraham dicoret dan diganti nama JK setelah mendapat persetujuan king maker PDIP, Megawati Soekarnoputri di last minute jelang pendaftaran capres- cawapres 2014.

Lalu, setelah senyap dari blantika politik nasional dan kemudian muncul melakukan deklarasi sebaga bakal calon presiden, akankah langkah Abraham mendapat respon publik?. Sejauhmana ‘nafas’ yang dimiliki oleh Abraham untuk bisa bertarung dalam belantara Pilpres 2019?, Pilpres merupakan pertarungan yang memerlukan ‘energi’ besar, khususnya dalam konteks logistik dan jejaring untuk memenangkan kontestasi tersebut.
Abraham ketika menjabat sebagai Ketua KPK menunjukkan kelasnya sebagai figur yang kuat, namanya relatif tertanam dalam ingatan publik, tetapi seiring dengan ‘kasus’ pencopotannya sebagai ketua KPK (meski ditafsirkan sebagai tindakan kriminalisasi oleh regim yang berkuasa kala itu) sedikit memberikan kesan yang kurang baik terhadap personalitasnya. Maknanya, pekerjaan pertama yang harus dilakukan oleh Abraham dan timnya adalah memberikan informasi ke publik bahwa pencopotannya merupakan tindak kriminalisasi oleh regim atas sepak terjangnya dalam memberantas korupsi. Langkah ini penting untuk mengembalikan dan menguatkan kepercayaan publik bahwa dirinya ‘clear’ dari prilaku kriminalitas.

Sepengetahuan saya, Abraham dalam beberapa waktu ini, aktif berkeliling indonesia, khususnya ke kampus-kampus menjadi narasumber mengampanyekan gerakan anti korupsi, ini juga bisa ditenggarai sebagai strategi untuk menyosialisasikan dirinya ke masyarakat. Dalam rilis beberapa lembaga survey mengenai tokoh-tokoh utama yang memiliki populeritas dan elektabilitas serta memiliki kans dalam kontestasi Pilpres 2019, nama Abraham belum tertangkap radar. Survey-survey tersebut masih menyebut nama seperti; Jokowi, Prabowo, Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono, Gatot Nurmantyo dan Hari Tanoe, bahkan figur yang dijagokan untuk posisi cawapres pun nama Abraham belum muncul.

Fakta ini, pasti sudah terekam oleh think tank Abraham dan sudah memikirkan strategi untuk mendongkrak populeritas maupun elektabilitas Abraham. Dalam catatan saya, paling tidak keunggulan seperti; representasi kawasan timur, pemimpin muda, berwawasan (intelektual), strong leader dan berintegritas menjadi point yang mesti secara massif di kampanyekan ke publik dengan strategi yang mengadaptasi pendekatan millineal.

Tim atau konsultan politik Abraham mesti sering memberikan masukkan soal pola komunikasi jagoannya, menurut saya, dalam banyak statement yang disampaikan ke publik, pernyataan-pernyataan Abraham nampak masih kental bergaya aktivis LSM, kurang terukur dan kurang diplomatis, seperti ketika menyampaikan hal ‘bahwa mantan Ketua KPK tidak cocok jadi Menteri, Cocoknya Presiden. Meski saya menangkap pesan tersebut ingin meninggikan ‘bargaining’ seorang Abraham tapi idealnya diksi yang dipilih harusnya lebih diplomatis. Memasuki belantara politik kita memerlukan kelihaian yang mumpuni tanpa harus mendegradasi integritas-moralitas sang figur.

Akankah Abraham serius untuk running menjadi Calon Presiden? Perkembangan dan polarisasi politik mutakhir jelang Pilpres bisa menjawab pertanyaan di atas, Abraham tidak memiliki ‘rumah’ politik, Abraham sedang berselancar, mencari peruntungan politik, dari pergerakan politik yang dilakukan tersimpan ‘hidden agenda’ untuk mengecar posisi Wapres, kali situasi dan dinamika politik 2014 kembali berulang, siapa tahu Jokowi kembali melirik Abraham Samad sebagai calon Wapresnya? Meski, pembacaan saya Abraham bisa juga goyah dan melirik tawaran dari calon presiden lainnya.  Selamat Bergerak Daeng!
Wallahu ‘alam bishawwab

Di langit antara Makassar-Jakarta

 

Muzakkir Djabir. Direktur Eksekutif Pusat Studi dan Transformasi (PUSARAN) Indonesia

 

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!