MUZAKKIR DJABIR

Reformasi dan Regenerasi Kepemimpinan

Muzakkir Djabir, Direktur Eksekutif Pusat Studi dan Transformasi (PUSARAN) Indonesia

Oleh: Muzakkir Djabir*

POTRET, EDUNEWS.ID – Gerakan reformasi 1998 berhasil mendobrak sentralisme kekuasaan Orde Baru, keterbukaan menjadi maujud dalam interaksi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Pasca reformasi dinamika sosial-politik pun menjadi riuh, hal ini disebabkan oleh kian bertumbuhnya partai politik dan industri media termasuk media sosial yang kemudian justru menjadi instrumen penting dalam pola baru, relasi kemasyarakatan bahkan pada konteks politik kekuasaan.

Senyatanya reformasi 98 merupakan gerak korektif atas praktek kekuasaan Orde Baru yang korup, dan diharapkan menjadi momentum dalam melakukan ‘daur ulang’ atau rekonseptualisasi sistem kenegaraan yang selama rezim orba menanggalkan karakteristik kebhinekaan Indonesia. Meski telah 18 tahun berlalu, gerakan reformasi dinilai ‘gagal’ menghantarkan wujud Indonesia yang dicita-citakan, hingga sekarang ini situasi ‘transisional’ masih belum secara penuh berhasil diputus dalam mata rantai kehidupan berbangsa dan bernegara, konsolidasi politik dan sosial juga terasa mengambang.

Lihatlah dinamika politik yang dimanifestasikan oleh kekuatan-kekuatan politik yang ada, masih berkutat pada kepentingan individual dan kelompoknya masing-masing. Simaklah produk regulasi yang dihasilkan oleh parlemen masih beraroma ‘pesanan’ atau transaksional dan tidak menyentuh fundamen problem bangsa dan masyarakat, lihatlah kinerja birokrasi kita yang demikian berbelit dan lamban, cermatilah praktek korupsi yang masih mengurita dan menjangkiti hampir di seluruh institusi kenegaraan, saban hari di media massa diberitakan kasus-kasus korupsi yang menjerat para elit baik di daerah maupun pusat. Saksikan pula interaksi sosial keagamaan kita yang gampang meledak dan robek dilecut soal SARA dan bacalah ketimpangan perekonomian antara si miskin dengan si kaya yang berjarak sangat jauh serta kedaulatan ekonomi nasional yang berada diketiak asing.

Reformasi tak ubahnya sebagai tonggak ‘euforia’ dan hanya mewujudkan perubahan yang bersifat prosedural saja tanpa menerobos substansi problematika keindonesiaan. Tetapi, terlepas dari kelemahannya, asa dan optimisme harus senantiasa dipatrikan, seluruh anak bangsa bertanggung jawab untuk berkontribusi demi kemajuan dan kemakmuran republik ini. Kaum muda harus mengambil peran secara aktif untuk mencipta sejarahnya sendiri sebagaimana lakon yang diperankan oleh para pendiri republik.

 

Regenerasi

Gelombang demokratisasi yang terjadi pasca reformasi memberikan peluang bagi siapa pun untuk mengekspresikan idealisme dan gagasannya, berkontribusi baik itu di lembaga negara, NGO maupun dunia usaha, reformasi secara tidak langsung mendorong proses regenerasi kepemimpinan, saat ini terlihat bermunculan figur-figur baru yang meramaikan dinamika kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Anies Baswedan (Kompas, 2006) secara gamblang memetakan jalur rekrutmen serta sirkulasi kepemimpinan di Indonesia yang dalam prosesnya kemudian tampil menjadi ‘rulling elite’. Menurutnya, (1). Pada periode 1940–1960-an kaum intelektual yang tampil menjadi elit dan banyak mewarnai dinamika kehidupan bernegara, mereka ini adalah pendiri republik yang rerata menikmati pendidikan corak Belanda. (2). Periode 1970-1990-an, merupakan masa keemasan militer, diera Soeharto hampir semua pimpinan di eksekutif, legislatif, yudikatif bahkan organisasi sosial kemasyarakatan berasal dari militer, dwi fungsi TNI menjadi alat legitimasi untuk dominan hatta pada institusi sipil sekali pun dengan mekanisme penugasan. (3). Kalangan aktivis menjadi rulling elit pada periode 2000-2020, mereka memiliki latar belakang sebagai aktivis di intra kampus maupun ekstra kampus seperti HMI, IMM, PMII, GMNI, PMKRI atau NGO dan Partai Politik, kejatuhan rezim militer Soeharto menjadi momentum bagi kelompok aktivis untuk memasuki arena kekuasaan. (4). Entrepreneur pada dekade tahun 2020 dan selanjutnya, akan tampil menjadi ‘rulling elit’, mereka lahir dan ditempah melalui bisnis keluarga atau HIPMI yang merupakan wadah pengusaha muda, di usia belia mereka berlatih mengorganisir dan membangun bisnis. Sekarang pun jika kita amati, banyak yang berlatar belakang pengusaha yang tampil menjadi elit, baik itu di pemerintahan, partai politik, organisasi profesi dan ormas.

Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab dengan proses regenerasi kepemimpinan yang sedang berjalan, akankah berbanding lurus dengan ekspektasi untuk mewujudkan agenda reformasi substantif? Republik ini nampak sudah ‘renta’ di usianya yang masih muda akibat penyakit kronis yang menjangkitinya, republik ini perlu ‘asupan’ yang sehat untuk mengembalikan vitalitasnya sebagai bangsa yang besar dan bermartabat. Tantangan terberat yang dihadapi oleh bangsa ini adalah soal korupsi yang akut, kemiskinan, integrasi sosial yang rapuh dan kedaulatan bangsa yang tergadai.

Secara alamiah, proses regenerasi akan menempatkan kaum muda pada masanya nanti sebagai ‘pelaku utama’ dalam interaksi kenegaraan, berperan mendrive arah bangsa ini mau ditujukan kemana. Tantangan utama bagi kaum muda sebelum masa itu tiba adalah bagaimana memantaskan dirinya dengan instrumen kepemimpinan yang dibutuhkan oleh realitas kekinian baik dalam konteks lokal, nasional dan global.

Kaum muda harus tampil sebagai antitesa dari model kepemimpinan yang mayoritas dipratekkan oleh elit sekarang ini, kaum muda harus menawarkan ‘kebaruan’. Mentalitas yang baru, yakni berani tidak korupsi, terdepan memberikan teladan dan berorientasi melayani. Gagasan baru, yakni memiliki inisiatif dan terobosan, berpikir out of the box sehingga berorientasi pada solusi terhadap problem yang dihadapi. Prinsipnya, generasi muda sebagai pemimpin masa depan penting untuk terus belajar dan memantaskan dirinya dengan membangun integritas dan memperdalam spektrum berpikir secara komprehensif. Problematika kedepan pastinya jauh lebih kompleks dan berat, untuk bisa leading diperlukan pemimpin yang kuat dengan visi besar, pemimpin yang mampu mengerakkan seluruh elemen anak bangsa untuk bersama-sama membangun dan mewujudkan republik yang maju.

 

Muzakkir Djabir. Direktur Eksekutif Pusat Studi dan Transformasi (PUSARAN) Indonesia

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close