MUZAKKIR DJABIR

Syarif Bando dan Revolusi Perpustakaan Indonesia

Muzakkir Djabir

 

 

Oleh : Muzakkir Djabir*

 

POTRET, EDUNEWS.ID- Kamis (14/09/2017) yang lalu, merupakan tonggak baru dan sejarah bagi dunia perpustakaan di Republik ini. Hari itu, Presiden Jokowi meresmikan secara langsung Gedung Pusat Layanan Perpustakaan Nasional yang berlokasi di jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.

Melihat letaknya yang berada di kawasan elit dan strategis, Pemerintah ingin memberikan pesan bahwa Perpustakaan merupakan institusi yang memberikan kontribusi penting dalam membangun dan memajukan peradaban suatu bangsa, olehnya itu harus diletakkan di ‘ruang depan’ yang ‘wah’ dan menarik, bukan di kawasan ‘kumuh’ atau dipinggiran yang sulit untuk diakses.

Gedung Pusat Layanan Perpustakaan ini berdiri megah dengan 24 lantai atau 27 lantai plus basement merupakan gedung perpustakaan tertinggi di dunia dengan koleksi sebanyak 2,6 juta buku.

Perpusnas Sebagai Pusat Gerakan Literasi

Keberadaan Pusat Layanan Perpustakaan nan megah dengan koleksi jutaan buku merupakan kabar yang sangat membahagiakan bagi pegiat gerakan literasi, bagi mereka yang bekerja di jalan sunyi, bergerak untuk mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat, khususnya di pelosok, akses terhadap sumber-sumber ilmu pengetahuan seperti buku adalah ‘kemewahan’ yang tak terbeli. Perpustakaan dan buku merupakan urat nadi mengeliatnya kerja literasi.

Pasca reformasi, kesadaran akan pentingnya menumbuhkan kesadaran membaca bagi masyarkat Indonesia membuncah tinggi, lahir banyak komunitas literasi yang bergerak secara swadaya dan swadana mengambil peran dan berkontribusi nyata dengan membuka perpustakaan atau komunitas baca serta menulis di pedesaan atau Kepulauan terpencil.

Komunitas-komunitas literasi yang berserak di pelbagai pelosok nusantara merupakan modal sosial sekaligus budaya yang penting untuk diapresiasi serta dikonsolidasikan oleh perpustakaan nasional tanpa menghilangkan karakteristik dari masing-masing komunitas.

Perpustakaan nasional harus tampil mengayomi, menguatkan dan memfasilitasi bertumbuh dan berkembangnya komunitas literasi karena sangat membantu bahkan meringankan kerja pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana termaktub didalam UUD 1945.

Tantangan!

Asumsi mengenai perpustakaan sebagai gedung yang ‘beku’, ‘dingin’ dan bagai monumen tak bertuan sedikit bergeser dengan kemewahan Gedung Pusat Layanan Perpustakaan sekarang ini. Tetapi, tidak sampai disitu tentunya, perpusnas harus menjadi pioner dan guide bagi pengembangan perpustakaan di daerah, sejauh yang kita ketahui, perpustakaan pemerintah di daerah masih sangat konvensional baik pada pola pengelolaannya, sarana dan prasarananya masih sangat minim dan miskin kreasi serta inovasi, sehingga tidak menarik untuk dikunjungi sebagai pusat pengetahuan.

Tugas utama bagi Perpusnas diantaranya adalah memodernisasi perpustakaan di daerah-daerah, bisa dibayangkan demikian signifikannya akselarasi pengembangan minat baca masyarakat, jika perpusnas, perpustakaan daerah dan komunitas literasi bisa bergerak seirama dan masif.

Minat baca masyarakat indonesia masih sangat memprihatinkan, berdasarkan Riset yang dilakukan Central Connecticut State University bertajuk ‘Most Littred Nation in the World’ (2016), minat baca kita menempati posisi ke 60 dari 61 negara. Sedangkan menurut data UNESCO, Indeks baca masyarakat Indonesia berada pada posisi 0,001 %, maknanya dari 1000 orang, hanya 1 orang yang rajin membaca. Indeks ini menegaskan bahwa posisi minat baca kita berada dibawah Thailand (59) dan hanya di atas Bostwana.

Dengan demikian, Perpusnas memiliki tugas dan tanggungjawab besar untuk terus bekerja menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat indonesia yang masih memprihatinkan. Hal lain, yang penting untuk menjadi concern Perpusnas setelah kerja membangun minat baca adalah menumbuhkan budaya menulis yang juga masih sangat rendah, rekam jejak peradaban suatu bangsa dapat ditelusuri melalui naskah-naskah yang dituliskan, peradaban besar selalu meninggalkan artefak kebudayaan melalui karya-karya tulis.

Bangsa kita harus memulai membangun budaya tulis yang kuat, agar cerita kebesaran bangsa ini akan tetap ‘mengada’ dan tak lekang oleh perjalanan waktu. Indikasi lemahnya budaya riset dan tulis kita dapat dipotret melalui jurnal-jurnal internasional yang mana nama-nama hatta kaum cerdik pandai kita masih sangat sedikit alias tertinggal jauh dibanding negeri jiran kita.

Sosok Bertangan Dingin!

Geliat Perpusnas sekarang ini, tidak lepas dari sentuhan tangan dingin Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando, pria low profile asal Sulawesi Selatan bukan orang baru dalam dunia perpustakaan, Syarif merangkak dari bawah olehnya itu sangat paham soal pengelolaan dan bagaimana menghidupkan perpustakaan sebagai Pusat ilmu pengetahuan. Salah satu gebrakannya untuk mengenalkan perpustakaan lebih masif ke publik adalah dengan mengangkat Najwa Shihab sebagai Duta Baca.

Perpusnas secara berkala membagikan buku-buku ke pelosok nusantara buat sekolah, komunitas dan ormas sebagai upaya mengatasi keterbatasan akses buku bagi masyarakat di pelosok. Digitalisasi pun sudah mulai dikenalkan di perpusnas yang berlokasi di jalan Salemba, pengunjung akan dibuat nyaman untuk berlama-lama berselancar dalam dunia kepustakaan.

Gedung Pusat Layanan Perpustakaan Nasional merupakan karya monumental di masa kepemimpinan Syarif Bando sebagai Kepala Perpustakaan. Gedung dengan konsep green building ini akan dilengkapi dengan fasilitas unggulan seperti Pusat data, ruang theater, Layanan koleksi Nusantara dan Mancanegara, Koleksi Kuno, Layanan Koleksi Foto, Peta dan Lukisan.

Fasilitas layanan lainnya dilengkapi dengan kabel jaringan data kategori 7 (CAT-7) yang mampu mentransfer data sampai dengan 10 gigabyte per detik yang setara dengan jaringan instalasi bandara di Swiss dan Sporthub Singapura.

Untuk terkesan lebih homey bagi anak-anak, reading area dirancang seperti taman bermain. Layanan Perpustakaan ini, diharapkan mampu menampung kapasitas 70 juta buku. Mari Membaca, Ayo keperpustakaan. Selamat Bekerja

 

Muzakkir Djabir.
Direktur Utama SMA Insan Cendekia Madani (ICM) Gunung Geulis, Bogor

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close