Ekonomi

Indonesia tak Siap Hadapi Dampak Perang Dagang

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang dipicu kebijakan Presiden AS, Donald Trump, menaikkan tarif impor baja dan aluminium dinilai bakal meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia.

Hal itu akan berdampak negatif pada perekonomian Indonesia karena kurang siap menghadapi dampak perang dagang itu pada kurs rupiah, perdagangan internasional, dan investasi.

Pengamat ekonomi dari Universitas Brawijaya Malang, Adi Susilo, mengemukakan Indonesia kurang siap menghadapi dampak perang dagang pada kurs rupiah karena stabilisasi rupiah masih bergantung pada intervensi pasar.

“Dampak kurs seperti yang terlihat sekarang akan semakin tertekan karena kita banyak mengimpor barang konsumsi dan barang modal dari Tiongkok,” kata dia, Jumat (2/3/2018).

Baca juga :  Tiongkok Didesak Kurangi Surplus Perdagangan

Menurut Adi, apabila barang modal itu bisa diproses untuk diekspor kembali, tidak jadi soal. Masalahnya, Indonesia secara teknologi belum mampu menghasilkan produk ekspor berkualitas dan berdaya saing. “Jadi, kalau perang dagang terjadi akan membuat berat perekonomian Indonesia karena tidak terkompensasi,” jelas dia.

Adi menambahkan, begitu juga soal investasi. “Investasi asing langsung kita memang baik, tapi apakah sudah mampu membawa investor yang mau memberi transfer teknologi,” tukas dia.

Perang dagang AS-Tiongkok bakal menurunkan volume perdagangan global karena masing-masing negara saling melakukan proteksi, sehingga harga barang di AS dan Tiongkok naik.

Ini kurang bagus bagi pertumbuhan ekonomi. Bagi Indonesia, perang dagang berpotensi menekan ekspor. “Yang ditakutkan jika Tiongkok malah mengurangi pembelian obligasi pemerintah AS sehingga yield-nya naik,” papar Adi.

Baca juga :  Ketua MPR : 2 Orang Kaya di Indonesia Kuasai Aset Setara 1000 Orang Biasa

Ekonom UGM, Wihana Kirana Jaya, mengatakan perang dagang pada gilirannya mendorong investor cenderung bermain aman dengan melepas portofolio berisiko terutama di negara emerging market. Bank Indonesia (BI) dan pemerintah mesti memanfaatkan kebijakan moneter dan fiskal guna menahan laju capital outflow.

Advertisement

Menurut Wihana, kebijakan Trump yang inward looking makin kentara setelah Powell menjabat Gubernur Bank Sentral (The Fed) langsung mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga beberapa kali.

Hal itu berbarengan dengan pemotongan pajak pendapatan di dalam negeri dan disusul dengan menaikkan tarif impor. “Indonesia harus benar-benar cepat mengantisipasi,” tegas dia.

Wihana memaparkan Indonesia menghadapi tekanan pada rupiah, beban utang, dan kebutuhan untuk investasi. Persoalannya, investasi di Indonesia masih mengandalkan investasi sektor primer sehingga dividen kembali ke pemilik modal.

“Yang investasi jangka pendek ini, BI mau tidak mau akan naikkan suku bunga,” tukas dia. Sementara itu, Trump melalui akun Twitter, Jumat, menyatakan, “Perang dagang itu baik, dan mudah untuk dimenangkan.”

Sehari sebelumnya, Trump mengungkapkan akan menerapkan bea masuk impor baja sebesar 25 persen, dan 10 persen untuk aluminium. Kebijakan itu bertujuan melindungi produsen AS. Namun, pejabat Gedung Putih mengatakan rincian kebijakan itu masih akan diatur lebih lanjut.

Ketika sebuah negara (AS) kehilangan miliaran dollar dalam perdagangan dengan hampir setiap negara mitra bisnisnya, perang dagang adalah baik, dan mudah untuk menang. Misalnya, ketika kita kehilangan 100 miliar dollar AS dengan negara tertentu, dan mereka terlihat pintar, jangan berdagang lagi, kita menang besar. Mudah!” tulis Trump dalam akun Twitter.

Meningkatnya kekhawatiran atas perang dagang memicu aksi jual di Wall Street, serta di Asia dan Eropa. Akibatnya harga saham para produsen baja yang memasok pasar AS terpukul, dan posisinya semakin sulit. Trump yakin instrumen tarif akan melindungi pasar tenaga kerja AS.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com