Ekonomi

Pengamat : Pemerintah Harus Fokus Bangun Substitusi Impor

ILUSTRASI

 

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Masih belum optimalnya pelaksanaan kebijakan penggunaan produk dalam negeri atau Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) disebabkan para pembantu Presiden kurang fokus dalam melakukan program substitusi impor.

“Ketegasan agar hasil industri dalam negeri terserap juga masih kurang. Terbukti, dari pengadaan alutsista sampai pertanian selalu produk luar yang menjadi pilihan. Bahkan, saat ini banyak produsen senjata asing yang sedang antre menawarkan produk, mulai helikopter, ranpur, dan sebagainya kepada pemerintah Indonesia,” kata pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya, M Nafik, Minggu (6/8/2017).

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo saat Rapat Kabinet Terbatas, pekan lalu, mengeluhkan kebijakan penggunaan produk dalam negeri, khususnya dalam pengadaan barang dan jasa di kementerian, lembaga, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Baca juga :  XL Kembali Rekrut Mahasiswa Untuk Program Future Leaders

Presiden bahkan mengungkap TKDN hanya menjadi sekadar kebijakan teknis administratif untuk melengkapi syarat dalam pengadaan barang dan jasa. Presiden malah sudah menyiapkan peraturan presiden (perpres) yang berisi kewajiban kepada kementerian, lembaga, dan BUMN untuk menggunakan barang dalam negeri.

Advertisement

Kabarnya, perpres ini akan segera diluncurkan dalam satu atau dua pekan ke depan. Isinya, selain mempertegas TKDN, Presiden juga menyiapkan kewajiban dan sanksi bagi kementerian, lembaga, dan BUMN yang tidak menggunakan komponen lokal.

Menurut Nafik, sah-sah saja Presiden menegur para menteri karena tidak optimal melaksanakan kebijakan TKDN.

“Presiden juga pantas mengganti para pembantunya apabila berorientasi kepada impor. Sebab, kalau urusan untuk negara diselesaikan melalui impor, tak perlu menteri,” tegasnya.

Nafik menambahkan, tugas para menteri adalah menjalankan program Presiden dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Kalau saja industri agribisnis dibela, tak hanya akan menghemat devisa, juga otomatis perekonomian sektor riil dan daya beli masyarakat pulih kembali. Bahkan, kesejahteraan rakyat jadi meningkat,” pungkas dia.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com