Ekonomi

Perang Dagang, Pengaruh Tiongkok Menguat

 

 

HONGKONG, EDUNEWS.ID – Pengaruh Tiongkok di perekonomian global bakal semakin menguat setelah Amerika Serikat (AS) mengibarkan bendera perang dagang. Hanya saja, perseteruan kedua negara itu akan memberikan reaksi buruk terhadap perekonomian dunia.

“Ini mungkin memiliki reaksi buruk karena mempercepat upaya Tiongkok berswasembada dalam produk berteknologi tinggi dan lebih banyak. Dan itu pasti akan mendorong Tiongkok dalam gerakannya untuk membangun lebih banyak dan lebih banyak pengaruh politik dan ekonomi global,” kata Kepala Penelitian Ekonomi CLSA, Eric Fishwick, seperti dikutip sejumlah media, Selasa (11/9/2018).

Dia kemudian menunjuk “Inisiatif Belt and Road” yang merupakan sebuah program infrastruktur dan investasi yang secara luas dilihat sebagai upaya Tiongkok untuk membangun zona pengaruh ekonomi dan politik multinasional yang sangat besar dengan berpusat di Beijing.

Baca juga :  Subsidi Gas Elpiji 3 Kg akan Dicabut, Akademisi: Pemerintah Menipu Rakyat

Selain itu, di bidang pembangunan ekonomi, Tiongkok telah berada di sebuah misi untuk bergerak ke arah industri teknologi tinggi dengan rencana Made in Tiongkok 2025 yang berusaha untuk membangun kekuatan manufaktur di bidang-bidang seperti robotika dan kendaraan listrik. “Hal ini bisa mendorong Tiongkok sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia,” ujar Fishwick.

Fishwick mengatakan perang dagang AS-Tiongkok cenderung kental kepentingan politik. Terbukti, negosiasi yang dilakukan kedua negara selama ini karena AS merasa tidak nyaman dengan kekuatan ekonomi Tiongkok yang semakin besar. “Ini benar-benar karena Tiongkok adalah pesaing geopolitik dan geopolitik berikutnya ke AS, dan AS tidak nyaman dengan itu,” pungkasnya.

Baca juga :  Kemensos : Penurunan Angka Kemiskinan Jadi Program Utama tahun depan
Advertisement

Tiongkok Membalas

Sementara itu, Tiongkok kembali menegaskan akan membalas jika AS pada Kamis mendatang menambah daftar produk Tiongkok senilai 267 miliar dollar AS yang terkena tarif impor. “Jika AS tetap menaikkan tarif untuk produk-produk Tiongkok, Tiongkok akan mengambil tindakan untuk melindungi hak dan kepentingannya yang sah,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Geng Shuang.

Geng tidak memberikan rincian tentang kebijakan yang akan diambil sebagai pembalasan. Namun, dia mengatakan pemerintah akan memberlakukan aturan tertentu pada Juni. Ia menyebut kebijakan yang diambil sebagai langkah-langkah komprehensif. Trump diperkirakan akan kembali melakukan tekanan setelah diketahui neraca perdagangan kedua negara justru menempatkan Tiongkok surplus pada Agustus 2018.

Meski ekspor Tiongkok melambat, namun tetap surplus 31,05 miliar dollar AS atau sekitar 460 triliun rupiah, sementara pada Juli 2018 surplus sebesar 28,08 miliar dollar AS atau sekitar 416 triliun rupiah.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com