Ekonomi

Sri Mulyani Harap Ada Kenaikan Pendapatan Pajak di Tengah Pandemi Covid 19

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengharapkan perbaikan kinerja ekonomi yang mulai terlihat pada Agustus 2020 dapat mendukung penerimaan pajak yang telah terkontraksi sejak adanya pandemi COVID-19.

“Kita akan melihat secara keseluruhan, karena aktivitas masyarakat dan mobilitas mulai meningkat,” tutur Sri Mulyani dalam jumpa pers perkembangan APBN di Jakarta, Selasa.

Sri Mulyani mengatakan perlambatan ekonomi dan pemberian insentif fiskal memberikan tekanan kepada seluruh jenis penerimaan pajak selama periode Januari-Agustus 2020.

Salah satunya terlihat dari lesunya penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Badan yang juga terdampak karena adanya insentif pengurangan angsuran, penurunan tarif dan restitusi yang tinggi.

Selain itu, menurut Sri Mulyani, seluruh jenis pajak impor juga mengalami kontraksi seiring dengan penurunan aktivitas impor dan pemanfaatan insentif fiskal pembebasan PPh pasal 22 impor.

Baca juga :  Pengamat : Seharusnya Pemerintah Ajukan Moratorium Utang BLBI ke World Bank

Namun membaiknya aktivitas ekonomi yang mulai terjadi pada Agustus 2020, terlihat dari tingginya konsumsi listrik, kenaikan impor bahan baku dan konsumsi, membaiknya ekspektasi konsumen, dan tumbuhnya belanja bansos, bisa memberikan harapan terhadap membaiknya ekonomi.

Advertisement

Ia menyakini kegiatan ekonomi akan kembali menggeliat, meski Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali berlaku di beberapa daerah, karena masyarakat sudah mulai beradaptasi untuk beraktivitas dengan protokol kesehatan.

“Sejak Juni sudah ada penyesuaian dan ini menjadi harapan, meski kembali terjadi pengetatan. Jadi tidak semua aktivitas berhenti yang berdampak ke ekonomi, karena masyarakat sudah teredukasi,” ujarnya.

Sebelumnya Sri Mulyani memaparkan realisasi penerimaan pajak hingga akhir Agustus 2020 baru mencapai Rp676,9 triliun atau 56,5 persen dari target dalam Perpres 72 Tahun 2020 sebesar Rp1.198,8 triliun.

Sebagian besar penerimaan pajak itu berasal dari PPh Nonmigas Rp386,2 triliun atau 60,5 persen dari target Rp638,5 triliun dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Rp255,4 triliun atau 50,3 persen dari target Rp507,5 triliun.

Kontribusi dari penerimaan PPh Nonmigas yang terkontraksi 15,2 persen dan PPN yang turun 11,6 persen itu, menyebabkan realisasi penerimaan pajak tumbuh negatif 15,6 persen dibandingkan periode sama 2019.

 

ant

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com