Ekonomi

Tiongkok Didesak Kurangi Surplus Perdagangan

 

 

WASHINGTON, EDUNEWS.ID – emerintah Amerika Serikat (AS) mendesak Tiongkok untuk segera mengurangi surplus perdagangan dengan AS hingga 100 miliar dollar AS atau sekitar 1.370 triliun rupiah dengan kurs 13.700 rupiah per dollar AS.

Demikian pernyataan juru bicara Gedung Putih, Rabu (14/3/2018) waktu setempat, sebagai klarifikasi cuitan Presiden Donald Trump di Twitter tentang permintaannya kepada Tiongkok untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangan sebesar satu miliar dollar AS.

“Bukan satu miliar rupiah, tapi hingga seratus miliar dollar AS,” tegas juru bicara Gedung Putih seperti dikutip sejumlah kantor berita. Namun, Gedung Putih menolak menjelaskan program Tiongkok mengurangi surplus perdagangan dengan AS.

Spekulasi berkembang, bisa saja Tiongkok diminta menambah pembelian produk Paman Sam, seperti kedelai dan pesawat, atau mengubah kebijakan industri Tiongkok, di antaranya mengurangi subsidi untuk badan usaha milik negara dan mengurangi produksi baja maupun aluminium.

Baca juga :  Turki Kembali di Guncang Bom Mobil, Puluhan Luka

Badan Statistik AS pada tahun lalu melaporkan AS mengalami defisit perdagangan dengan Tiongkok sebesar 375 miliar dollar AS. Jumlah ini sekitar dua pertiga dari total defisit perdagangan AS yang mencapai 566 miliar dollar AS.

Advertisement

Tapi, laporan BPS AS itu berbeda dengan laporan Tiongkok yang mencatat surplus perdagangan dengan AS hanya 276 miliar dollar AS. Permintaan AS kepada Tiongkok muncul bersamaan dengan rencana Presiden AS untuk mengeluarkan kebijakan tarif impor terhadap barangbarang dari Tiongkok.

Kebijakan ini merupakan bagian dari investigasi pada dugaan pelanggaran hak intelektual yang dilakukan Tiongkok. Sementara itu, tajuk rencana tabloid milik Tiongkok, Global Times, menuliskan Amerika Serikat tengah berpura-pura menjadi korban.

“Jika Amerika ingin mengurangi defisit perdagangan, meraka harus membuat warganya bekerja lebih keras dan melakukan reformasi yang sesuai dengan permintaan pasar internasional. Bukannya malah meminta negara lain untuk berubah,” tulis Global Times, Kamis (15/3/2018).

“Jika perang dagang terjadi, negara-negara yang berdaulat tidak akan tunduk pada Amerika. Tiongkok telah berusaha keras menghindari perang dagang, namun jika itu terjadi, menyerah bukan pilihan,” tulis tabloid itu.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com