News

Hari Anak Nasional, PB HMI : Wujudkan Pendidikan yang Layak Bagi Anak Indonesia

Ketua Komisi Pendidikan dan kebudayaan PB Hmi mpo, Moh Hatta Sahib Budang

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID– Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Presiden Soeharto) Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984. Kegiatan Hari Anak Nasional dilaksanakan mulai dari tingkat pusat, hingga daerah.

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) MPO mengungkapkan, saat ini bisa jadi momentum untuk membentuk mental anak Indonesia agar berkarakter. 

“Salah satu momentum yang sesuai untuk perbaikan dunia pendidikan anak adalah Hari Anak Nasional. Melalui peringatan tersebut, anak-anak memiliki harapan baru untuk memperoleh pendidikan dengan layak melalui program revolusi pendidikan,”  terang Ketua Komisi Pendidikan dan Kebudayaan PB HMI-MPO Moh Hatta Sahib Budang dalam keterangannya, Senin (23/7/2018).

Baca juga :  Transport: Perluasan Larangan Sepeda Motor Takkan Kurangi Kemacetan Jakarta!

Hatta mengungkapkan, untuk benar-benar mewujudkan harapan anak Indonesia, pemerintah perlu melakukan beberapa cara seperti,  setiap anak berhak memperoleh pendidikan minimal 9 tahun, sesuai dengan peraturan pemerintah yaitu wajib belajar 9 tahun. 

“Dalam hal biaya pendidikan, pemerintah sudah menyiapkan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) untuk meringankan beban orang tua. Dengan begitu, diharapkan tidak ada lagi anak yang putus sekolah karena masalah biaya,” papar Hatta.

Advertisement

Hatta menuturkan, revolusi  pendidikan berbasis revolusi mental menjadi topik hangat dalam dunia pendidikan saat ini. Namun, mewujudkan revolusi pendidikan berbasis revolusi mental tentu tidak mudah. 

“Diperlukan adanya pembenahan dari berbagai hal, termasuk komitmen dan integritas seluruh pemangku pendidikan untuk menerapkan nilai-nilai kehidupan dalam setiap pembelajaran yang diberikan kepada anak,” ungkapnya. 

Hatta melanjutkan, revolusi mental berkaitan erat dengan pendidikan karakter anak. Tanggung jawab dan hormat merupakan nilai karakter dasar yang harus ditanamkan pada mental anak. 

“Saat kedua nilai tersebut sudah tertanam, maka seorang anak akan menghasilkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, toleransi, kebijaksanaan, disiplin diri, tolong menolong, peduli terhadap sesama, keberanian, dan sikap demokratis,” urainya. 

Sikap seorang anak yang dilandasi nilai-nilai tersebut merupakan suatu bentuk revolusi pendidikan. 

“Jadi, revolusi dalam dunia pendidikan bukan hanya ada pada tataran teori saja, namun juga perwujudan nilai-nilai yang ditanamkan dalam pendidikan ke kebiasaan hidup sehari-hari,” jelasnya. 

Pendidikan merupakan ranah startegis untuk membentuk revolusi tersebut. 

“Namun, mewujudkan revolusi pendidikan berbasis revolusi mental tentu tidak mudah,” pungkas Hatta. 

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com