News

Hiks, Baru 9% Peserta SKD CPNS yang Penuhi Batas Nilai Minimal

Ilustrasi

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID-Badan Kepegawaian Negara (BKN) menyebut angka peserta yang memenuhi batas nilai minimal atau passing grade seleksi kompetensi bidang (SKD) calon pegawai negeri sipil (CPNS) masih rendah.

Data sementara pelamar yang memenuhi passing grade baru 9%. Setiap peserta SKD harus mengerjakan 100 soal yang terdiri atas soal Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) 35 soal, tes Intelegensia Umum (TIU) 30 soal, dan tes Karakteristik Pribadi (TKP) 35 soal. Passing grade bagi peserta SKD 143 untuk TKP, 80 untuk TIU, dan 75 untuk TWK.

“Yang memenuhi passing grade baru 9%. Itu angka secara nasional,” ungkap Kepala Biro Humas BKN Mohammad Ridwan di Jakarta, Senin (5/11/2018).

Meski mendapatkan hasil kelulusan passing grade, Ridwan mengaku belum mendapatkan jumlah total peserta yang sudah melaksanakan SKD. Kondisi SKD, ujarnya, sangat dinamis dan tidak bisa didasarkan hanya pada jumlah peserta yang lolos seleksi administrasi. Namun, jika dibagi secara rata dan dilihat waktu SKD, Ridwan memperkirakan setidaknya 20-25% peserta sudah melaksanakan tes tersebut.

“Jumlah keseluruhan belum masuk ke saya. Hanya angka ke lulusan passing grade saja. Kan angka bergerak terus. Dan, tidak bisa dilihat hanya dari jadwal tes. Misalnya peserta yang dijadwalkan ikut seleksi 400, tapi yang datang hanya 395,” paparnya.

Ridwan mengatakan, rekapan-rekapan hasil SKD ini langsung diserahkan kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB). Hasil itu diberikan kepada Kemenpan-RB untuk bahan kebijakan lebih lanjut.

“Yang jelas, BKN sudah menyampaikan SKD ke Kemenpan-RB. Ini untuk bahan pertimbangan lebih lanjut. Pengumuman kelulusan nanti dilakukan oleh instansi masing-masing,” ucapnya.

Berkaitan dengan proses SKD, Ridwan menyatakan berjalan baik sejauh ini. Namun, dia mengakui ada beberapa hal unik yang terjadi. Mulai dari penemuan jimat sampai ada peserta yang melahirkan saat ikut SKD.

“Kalau di media sosial itu ada laporan penggunaan jimat di Jember. Lalu, ada yang demi SKD meninggalkan pasangannya saat resepsi penikahan karena jadwalnya, ada juga yang saat SKD melahirkan,” ungkapnya.

Pakar administrasi publik Yogi Suprayogi menilai kecilnya angka kelulusan sementara tersebut tidaklah masalah. Pemerintah harus tetap konsisten dengan passing grade yang telah ditetapkan.

“Kita ingin mencari bibit yang baik. PNS ini bukan hanya seperti dulu yakni direkrut secara formalitas. Saya pikir, anak hasil tes dengan sistem CAT lebih bagus kualitasnya,” tandasnya.

Menurut dia, SKD merupakan langkah untuk mengukur kemampuan dasar. Seharusnya hal ini berkaitan dengan pengetahuan yang sudah di dapat sejak sekolah dasar.

“Sebagai pelayan publik, dia harus mampu memahami itu. Saya pikir bagus dan saringannya semakin ketat. Ini nanti menghasilkan yang terbaik juga,” paparnya.

Berkaitan dengan tingkat kesulitan soal yang diujikan, Yogi belum dapat memastikannya. Namun, dia menilai seharusnya ada badan khusus yang menguji ini. Terlebih ada begitu banyak model soal di dalam sistem CAT.

“Pemerintah jangan sampai nanti malah menurunkan passing grade hanya karena jumlah peserta yang lolos sedikit. Kalau itu terjadi, maka sebuah kemunduran. Kalau memang tidak terpenuhi formasinya, maka di adakan lagi tahun depan,” ucapnya.

Sumber : okezone

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!