Nasional

Ini Sebabnya, Mengapa Partai kian Tertarik Dukung Nurdin Abdullah di Pilgub Sulsel

Direktur Eksekutif PUSARAN, Muzakkir Djabir

 

MAKASSAR, EDUNEWS.ID– Direktur Eksekutif Pusat Studi dan Transformasi (PUSARAN) Indonesia, Muzakkir Djabir mengungkapkan, jika kontestasi pilgub sulsel 2018, kian mengerucut pada tiga figur utama yakni NH (+Azis), IYL (+Cakka) dan NA (?).

Nama yang disebut terakhir, kian intens melakukan komunikasi politik dengan beberapa parpol. Dan dipastikan, NA akan melenggang maju sebagai bakal calon Gubernur Sulsel dengan dukungan PDI-P, PKS, Gerindra, PAN dan kemungkinan Demokrat. Parpol seperti Hanura, PKB, PPP dan ‘non seat’ masih akan diperebutkan dan merapat ke ketiga kandidat tersebut.

“Parpol yang telah menyatakan dukungan ke AAN pun tentunya akan menjadi cair dan wait and see sebelum menentukan pilihan pada kandidatnya, setelah mempertimbangkan benefit secara politik dan ekonomi bagi partai mereka,” papar Muzakkir, Kamis (21/9/2017).

Muzakkir menuturkan, arua dukungan yang semakin kuat dari parpol akhir-akhir ini kepada NA dipengaruhi oleh, Pertama, dukungan atau back up dari lingkar utama kekuasaan di republik ini.

“Sudah menjadi perbincangan umum bahwa NA mendapat sokongan dari Jokowi maupun JK, bahkan figur AM mengambil peran aktif dalam melakukan lobby ke parpol supaya memberikan dukungan kepada NA,”‘ungkap Muzakkir

Sokongan dari istana, beririsan dengan variabel Kedua yakni, figur NA yang relatif dinilai ‘sukses’ dalam membangun kabupaten Bantaeng, pun NA diklaim sebagai figur berintegritas, bersih, visioner dan memiliki networking yang memadai.

“Bagi Istana, dibanding NH maupun IYL, NA clear di terima oleh mereka,” katanya.

Ketiga, dengan figuritas yang dinilai kompoten dan bersih secara tidak langsung Istana atau Jokowi akan diuntungkan demi kepentingan kontestasi pilpres di 2019.

Keempat, dimunculkannya NA sebagai strategi untuk menguatkan posisi ketokohannya, sebagai ajang latihan untuk melompat pada posisi strategis di level nasional pasca JK kemungkinan NA bisa tampil sebagai representasi kawasan timur indonesia dalam dinamika kontestasi kepemimpinan nasional,” jelas Muzakkir.

Kelima, kehadiran NA diasosiasikan sebagai perlawanan terhadap wacana politik dinasti, dua paket pasangan yang lain IYL (yang membawa klan Yasin Limpo) dan Azis-Cakka (anak dari Kahar Muzakkar) kakak beradik yang berlawanan dalam pilgub sulsel.

Meski mendapat sokongan dari istana dan parpol mapan bukan berarti NA akan melenggang dengan mudah untuk memenangkan pilgub sulsel.

“Perlu kerja keras untuk meyakinkan pemilih dengan program-program yang relevan dengan kondisi kekinian sulsel serta tak kalah penting adalah calon pendampingnya sebagai cawagub, jika ingin memenangkan pilgub, NA mesti memilih representasi dari wilayah Bone dan Ajatappreng, Konsentrasi suara Luwu akan terbelah antara Azis dan Cakka, sehingga lebih strategis untuk memecah dan mengarap basis suara di Bone dan Ajatappareng, tentu tanpa melupakan ikhtiar mengarap pemilihan di wilayah lainnya,” tambah Muzakkir.

Untuk itu, pendamping NA harus yang memiliki basis electoral yang jelas dan terukur.

“NA dengan segala keberhasilannya dalam memimpin Bantaeng, pasti memiliki kelemahan dan kekurangan yang nantinya dikapitalisasi oleh rivalnya untuk melemahkan posisi elektabilitas NA dalam pilgub mendatang,” pungkas alumnus UGM ini.

EDUNEWS.ID

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close