Internasional

Abe Kembali Memimpin Jepang

 

 

TOKYO, EDUNEWS.ID – Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, dipastikan kembali memimpin Jepang setelah koalisi Partai Liberal Demokrat (LDP) menang besar dalam pemilu nasional yang diselenggarakan pada Ahad (22/10/2017).

Dengan begitu, parlemen Jepang saat ini hampir 80 persen diisi oleh politisi yang ingin merevisi konstitusi pasifik Jepang pascaperang dan mendukung rencana-rencana jangka panjang Abe. Namun begitu, Abe tetap perlu meyakinkan publik Jepang yang sekarang terbelah untuk menyukseskan keinginan ini.

“Kami memenangkan suara mayoritas dua per tiga sebagai partai berkuasa. Namun penting untuk terus berusaha membentuk sebuah kesepakatan secara luas antarpartai berkuasa dan oposisi dalam merevisi konsistusi,” kata Abe, dalam sebuah konferensi pers, Senin (23/10/2017).

Baca juga :  Banyak Teror Jelang Pemilu, Polisi Jangan Anggap Remeh

Dalam keterangannya itu, Abe menyatakan ingin menyatukan partai-partai di Jepang, termasuk menggandeng Gubernur Tokyo, Yuriko Koike, dari Partai Harapan, yang dikenal konservatif. Dia pun mengutarakan tidak akan memaksakan perubahan konstitusi pada 2020, gagasan ini diutarakannya awal 2017.

“Kami ingin bisa memahami masyarakat Jepang sehingga kami dapat suara mayoritas dalam sebuah referendum,” kata Abe, yang tidak lagi mengklaim memenangkan mandat untuk mengamendemen konstitusi.

Partai-partai yang mendukung amendemen, memenangkan hampir 80 persen kursi majelis rendah. Masih ada empat kursi yang masih dihitung dan akan diketahui pada Senin (23/10/2017). Stasiun televisi NHK dalam siarannya menyebut koalisi LDP meraih 312 kursi, suara mayoritas.

Partai Konstitusional Demokrat Jepang (CDPJ), sebuah partai kecil dan baru, telah menjadi kelompok penentang proposal perubahan yang disorongkan Abe. CDPJ dibentuk oleh sejumlah anggota Partai Demokrat, yang memutuskan membentuk partai sendiri. Dalam pemilu nasional 2017, CDPJ memenangkan 54 kursi dari total 465 kursi yang diperebutkan.

Baca juga :  Inisiator Gerakan 2019 Ganti Presiden Bantah Langgar Aturan Pemilu
Advertisement

Dengan posisi menguasai suara mayoritas, maka ambisi besar Abe untuk merombak konstitusi Jepang pascaperang menjadi hal yang mungkin dilakukan tanpa hambatan. Abe pun mendorong dilakukannya pergantian kebijakan bidang pertahanan, menyerukan pengakuan secara resmi militer dalam konstitusi.

Dia mengatakan akan mencoba mendapatkan dukungan sebanyak-banyaknya dalam menjalankan tugas-tugasnya. “Seperti yang telah saya janjikan, tugas utama saya adalah membuat kesepakatan tegas dengan pemerintah Korea Utara (Korut). Untuk itu, diplomasi yang kuat amat dibutuhkan,” kata Abe.

Abe mengumumkan agar diselenggarkannya pemilu nasional pada 25 September dengan alasan dia ingin memperbarui mandat guna mengatasi krisis nasional yang sedang dihadapi pemerintah Jepang.

Di antara krisis yang dihadapi Jepang adalah ketegangan dengan pemerintah Korut, yang telah mengancam akan menenggelamkan Jepang ke lautan. Pyongyang telah menembakkan dua misilnya ke arah Hokkaido, pulau paling utara di Jepang.

Dengan kemenangan koalisi Partai DDP, maka Abe pun memiliki peluang mengamankan untuk ketiga kalinya posisi ketua umum Partai LDP, yang proses pemungutan suaranya akan dilakukan September 2018. Ini berarti pula, Abe merupakan perdana menteri Jepang dengan jabatan terlama.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com